Thursday, 1 December 2016

Pentingnya Mengesakan Allah dalam kehidupan Kita ( keutamaan tauhid )..

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, :

“Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

“Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut.

Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.”

Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan.

Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya lagi, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.”

Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.”

Semoga kisah di atas membuat kita semakin paham akan bahaya syirik dan pentingnya mengesakan Allah dalam ibadah ( keutamaan tauhid )..

Tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam, tentu harus ditinggalkan apalagi jika sampai membuat Allah murka dan membuat kita terjerumus dalam neraka.

Subhanalloh, semoga kita terhindar dari segala keraguan dalam memahami dan meyakini agama Islam yang mulia ini.

Monday, 28 November 2016

GLOBALISASI DAN KETIDAK SABARAN

Kalau kita hidup di Jakarta atau wilayah jabodetabek, gak usah heran kalau masalah macet di jalan takkan pernah tuntas walau udah berkali-kali ganti Presiden, Gubernur atau Bupati, kita masih ngeliat tu orang masuk kereta desak-desakan. Motor di jalanan semrawut gak karuan.

Soalnya orang Jakarta atau jabodetabek gak bisa liat ada celah dikit, pasti langsung disikat. Namanya juga Jakarta, se-jago apapun pimpinan daerahnya  tetep aja kekal macet, selama persaingan masih jadi budaya, gak akan ada celah yang gak disikat. Keras ..emang !!..dan sekarang penyakit gak sabaran ini sudah menulari kota kota seluruh  Indonesia...

Bayangkan setiap hari baik itu berangkat kerja atau urusan apa saja anda berhadapan dengan beribu-ribu orang yang juga sibuk dengan urusannya masing-masing dan berusaha untuk mencapainya tepat waktu. Mereka main senggol, menyerobot,  tidak pedulikan orang lain, tidak pedulikan lampu merah, wuuiiiihhh edannya lagi..dari arah yang berlawanan seorang pengendara motor dan angkot (musuh utama bagi setiap pengendara motor & mobil)  saling bahu membahu seperti tidak mau kalah  berpacu (mungkin angkotnya merasa tertantang, saya gak tahu deh.....hahaha).

Gak Sabar, kenapa begitu yaa? Entah karena stress melihat orang-orang gak mau mengalah alias antri atau karena faktor mental kalee ya? Timbulnya sifat individualistis selalu kita temui yang jelas (hampir) dari kita semua termasuk ane juga ..telah menjadi bangsa yang paling tidak sabaran!!! ...karena sifat egoistis di kepala akhirnya timbul stress dan gak heran emang dalam keadaan seperti itu semua orang jadi gampang marah...lalu marah merebak gak cuma ada di diri sendiri tapi sudah meluas ke segala bidang kehidupan...!! Gak dapet duit marah, gak menang ya marah doong, gak dilayani juga marah, gak di segerakan tuntutannya juga marah, berdiskusi apalagi berdebat juga marah...saking marahnya eeehh malah ngajak temen buat naikin level kemarahannya...biar semua orang di dunia ini tahu kalau marah itu sebuah solusi cepat mencapai keinginan...!!!

Bicara soal solusi cepat, jadi inget semboyan ‘Revolusi Mental’, saya tergelitik sekaligus gerah mendengarnya karena kata revolusi mengingatkan kondisi horor..tapi emang itu ada benarnya juga sih. Mental orang Indonesia harus segera di revolusi, kayak mental jorok, gak tertib hukum, serba instan, dan mental mata duitan kayak korupsi, pungli dan sejenisnya lalu ada lagi mental suka berkhayal alias pake narkoba, sekali lagi revolusi itu merubah keadaan secara cepat. Jadi perubahan mental mulai dari pemimpinnya sampe warga itu harus berubah jika ingin negara ini kuat dan mampu mendorong negara jadi lebih maju dan bermartabat. 

Ingatlah bahwa, kita saat ini sudah berada dalam zamannya globalisasi lho, saya kutip fenomena globalisasi dari buku Budiyanto, Pendidikan Kewarganegaraan, penerbit Erlangga bahwa; semua proses kehidupan sudah tak nampak batas yang mengikat secara nyata dikarenakan teknologi informasi dan komunikasi yang mengakibatkan  terjadinya proses;

Arus etnis ditandai dengan mobilitas manusia yang tinggi dalam bentuk imigran, turis, pengungsi, tenaga kerja, dan pendatang. Arus manusia ini telah melewati batas–batas teritorial negara.

Contoh masuknya tenaga kerja dari Tiongkok, Maroko, Nigeria, Amerika, dan lain sebagainya, jadi gak ada lagi kata "takut atau kata mengusir orang asing" tapi kita harus siap bersaing dan pemerintah pun siap mengelola dan membuat peraturan hukum yang melindungi kesejahteraan bangsa.

Arus teknologi ditandai dengan mobilitas teknologi, munculnya multinational corporation dan transnational corporation yang kegiatannya dapat menembus batas–batas negara.

Arus keuangan yang ditandai dengan makin tingginya mobilitas modal, investasi, pembelian melalui internet, dan penyimpanan uang di bank asing.

Arus media yang ditandai dengan makin kuatnya mobilitas informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. Berbagai peristiwa di belahan dunia seakan-akan berada di hadapan kita karena cepatnya transfer informasi.

Arus ide yang ditandai dengan makin derasnya nilai baru yang masuk ke suatu negara. Dalam arus ide ini muncul isu-isu yang telah menjadi bagian dari masyarakat internasional. Isu-isu ini merupakan isu internasional yang tidak hanya berlaku di suatu wilayah nasional negara. (Budiyanto 150 – 151:2007) Buku;  Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Erlangga

Banyak hal yang akan terjadi dalam proses globalisasi, dari yang negatif sampe hal hal positif yang bisa dilakukan dan tentunya lebih bermanfaat. seperti berkarya dan berinovasi untuk menciptakan teknologi tepat guna sangat mungkin dilakukan, banyak potensi masyarakat  Indonesia yang mampu menciptakan teknologi atau cara mencari alternatif baru yang sangat berguna dalam bidang apapun, tentu kita berharap pemerintah mendukung masyarakat baik itu peraturan maupun memberi dukungan nyata dalam fasilitas usaha serta  teknologi tidak sebatas bentuk fisik saja.

Dan yang paling penting lagi nih, menghadapi globalisasi harus bisa  merubah pola pikir agar bisa mengimbangi pengaruh kekuatan budaya bangsa lain akibat dari arus globalisasi, kita harus bisa menguasainya atau justru kita yang akan dikendalikan. 

Kita kendalikan arus globalisasi itu dengan cara memahaminya, menganalisa nya, baru kita memanfaatkannya untuk melakukan hal positif, berkarya dan ber-inovasi dalam bidang teknologi misalnya, adalah salah satu contoh memanfaatkan arus globalisasi dan menggunakannya untuk meningkatkan potensi diri, selain berguna untuk diri sendiri, kita bisa memanfaatkan teknologi informasi ini untuk turut berperan melestarikan budaya nasional melalui media teknologi, memanfaatkan internet untuk meningkatkan potensi produk lokal agar bisa lebih dikenal, dan menciptakan berbagai teknologi atau aplikasi tepat guna untuk membantu proses perkembangan bangsa Indonesia ke depannya.

Akhirnya, dari berbagai fakta yang ada bahwa kita semua dimulai dari lingkungan keluarga "hukumnya wajib" untuk menjaga nilai nilai agama, ideologi negara dan budaya bangsa menjadi wujud JATI DIRI MANUSIA INDONESIA.

Selamat berjuang dan berkompetisi dalam kesabaran untuk menghadapi tantangan di era globalisasi. 


"Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan" 
- Soetan Syahril (5 Maret 1909 - 9 April 1966) -

By: Adm







Sunday, 13 November 2016

Hidup Butuh Persaingan

Hidup di era globalisasi saat ini penuh dengan hiruk pikuknya kompetisi dengan kata lain persaingan. Persaingan antar individu, kelompok atau negara dengan negara lain makin berkobar seakan tak kenal lelah mencari tahu siapa yang berhak memimpin dan siapa yang ber hak dibelakangnya. 

Persaingan berakibat untuk harus bekerja keras dan sampai memforsir tenaga, pikiran, dan waktu untuk meraih kemenangan. Ada juga yang menyerah dalam persaingan ini lalu membiarkan dirinya terbawa arus kehidupan. 


Dan sebagian ada juga yang bersaing setengah setengah yang pada awalnya saja bersemangat. Lalu ada yang menganggap kemenangan tak ada artinya tapi ada sebagian lagi kemenangan adalah segala galanya.

Macam ragam kehidupan bernuansa persaingan memberi akibat yang alami harus menentukan siapa yang berhak jadi pemimpin dalam persaingan itu.

Persaingan bagai dua sisi mata uang logam, disatu sisi berdampak positif disisi yang lain mengakibatkan dampak yang buruk. Jika persaingan berdampak  positif maka bisa diartikan persaingan itu sehat dan dalam kebaikan. Sebaliknya persaingan yang negatif akan memberikan dampak buruk ketika persaingan ber nuansa kecurangan dan motif motif keburukan. 

Sayang sekali sekarang ini kita menghadapi suasana persaingan  yang kadang sehat dan sering kali dalam suasana kurang sehat .selain dikarenakan ketidak mampuan memahami esensi persaingan maka setiap individu ataupun kelompok lebih mengedepankan EGO nya untuk menjadi nomor satu.

Kalau kita mau memahami esensi nya persaingan itu, bahwa hakikatnya persaingan yang positif akan memberi dampak dalam kebaikan bersama. Karena persaingan adalah salah satu cara untuk mencapai target tertentu dalam gabungan kelompok kelompok yang di tata sedemikian rupa. Artinya yang kita lihat bukan sekedar objeknya tapi subjek dari pelaku pesaing. Sehingga persaingan bukan permusuhan tapi membuat suatu bentuk kerjasama untuk kesuksesan bersama. 

Karena dari tujuan persaingan itu pemenang mampu memberikan nilai positif kepada semua kelompok.

Untuk kita ketahui bersama nilai persaingan yang kita ciptakan itu bukan sekedar menjadi nomor satu tapi bagaimana cara kita berjuang mengerahkan kemampuan puncak yang optimal. 

Ketika pengerahan kemampuan telah memenangkan banyak hal maka bukan sekedar penambahan skill dan atau pengalaman tapi bersiap siaplah karena Allah Subhanahuwata’alah telah menyiapkan setumpuk apresiasi  bagi mereka yang bersaing dalam kebaikan. Apresiasi itu bukan bagi pemenang persaingan tapi bagi yang mengerahkan kemampuan puncak optimalnya.

Banyak orang berpikir bahwa persaingan itu hal yang kotor dan menjijikan serta melelahkan. Padahal jika persaingan itu benar benar sehat dengan mindset yang benar justru berdampak positif pada pengembangan personality pelakunya. Sebenarnya kegagalan itu milik mereka yang takut bersaing dalam hidup ini. Filosopinya “berani hidup harus berani bersaing”. Persaingan itu dapat meningkatkan kompetensi mereka yang tergabung didalam kelompok kelompok yang bergabung.

Dalam dunia usaha dapat kita jadikan contoh bahwa “berjuang dalam usaha /bisnis, persaingan akan memperoleh banyak keunggulan karena makin terlatih dan terasah dalam mengembangkan usaha agar maju dan akan ditempa lingkungan usaha tersebut. Karena motivasi eksternal akan mendorong kita terpacu untuk mengerahkan kemampuan puncak yang optimal.

Namun sayang sekali, banyak diantara kita yang salah kaprah dalam menghadapi medan persaingan ini. Hasrat ingin menjadi nomor satu biasanya menjadikan persaingan selalu mencari segala cara yang negatif dan tidak sehat agar bisa jadi pemenang. Selain itu ada hal yang kadang membuat orang memahaminya bahwa menjadi nomor satu sebagai tujuan. Berakibat banyak orang patah arang diawal nya dan akhirnya tidak mampu meraih target dan ketika gagal ia gundah.

Padahal pemenang itu bukan maksudnya menjadi nomor satu karena hal tersebut adalah bunga dari kemenangan. Kemenangan sesungguhnya adalah mampu untuk mengerahkan kemampuan puncak optimalnya dalam persaingan itu.

Saingan itu bukan lawan tapi partner atau tepatnya mitra tanding alias “sparring partner. Secara langsung mitra ini juga mendapat manfaat pengalaman dan kemampuan baru dari persaingan itu.

Partner bukan berarti pendukung secara langsung tapi sebenarnya bersaing dengan kita pun adalah pendukung kita secara tak  langsung.

Kesimpulannya:

Secara hakiki, bahwa persaingan bukanlah bagaimana menjadi nomor satu.tapi bagaimana kita bisa mengerahkan potensi puncak yang optimal menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena sukses tidak datang dari langit tapi harus ada usaha yang terorganisir baik.

Persaingan bukan lah permusuhan yang melekat tapi dalam arti “ Mitra Tanding” yang secara tak langsung akan memberi dampak positif bagi kita mengerahkan potensi positif yang kita punya baik itu individu maupun kelompok  untuk berusaha keras menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Artinya akan menimbulkan mutualisme yang membuat orang menjadi lebih baik dan bisa memahami manfaat dari persaingan. Dan akan membuat kita berani untuk bersaing serta berani keluar dari zona nyaman dan berani mengembangkan diri di dunia ini dalam “ pertarungan” yang saling memberi manfaat..

Selamat menempuh kehidupan ini untuk menjadi “pesaing globalisasi”. Kemandirian bangsa ada ditangan para pesaing yang handal.

by. hdj12

Friday, 4 November 2016

PERSEKONGKOLAN YANG TERENCANA.

Kata Kolusi santer jadi obrolan yang riuh sejak era reformasi 1998 bergulir. Kolusi ini lebih ditujukan pada orang orang yang mempunyai kedudukan di birokrasi negara, namun sebenarnya kata kolusi ini bisa lebih luas lagi pengggunaannya di dalam kehidupan sehari hari. Banyak kasus yang merugikan dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi masyarakat seperti kasus pungli, suap dan menilep uang negara, merongrong kebijakan pemerintah, membuat isu negatif, teror dan   juga persengkokolan dalam organisasi dan aktifitas masyarakat yang merusak tatanan hidup bernegara, semua itu berawal dari KOLUSI.

Kolusi itu tindakan persekongkolan, persekutuan, atau permufakatan untuk urusan yang tidak baik. Pengertian ini muncul dari bahasa Latin collusio yang artinya persekongkolan untuk melakukan perbuatan tidak baik.

Dalam bahasa Inggris kolusi ditulis collusion yang juga berarti persekongkolan. 
Dalam Webster Dictionary, disebutkan bahwa, kolusi adalah persekutuan rahasia secara tidak jujur di antara orang-orang yang terlibat dalam suatu urusan.

Menurut UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, kolusi diartikan: "Permufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar-Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat, dan atau Negara" (Pasal 1 Angka 4).

Kolusi itu merupakan kegiatan  yang tersusun dan terencana serta dilakukan secara tersembunyi dan berkelompok yang pada ujungnya berbagi kekuasaan.

Contoh..sederhananya sebuah Kolusi:  

Dalam rapat musyawarah untuk mengambil kata sepakat....kamu dan teman-temanmu bersekongkol untuk menjatuhkan orang atau mempengaruhi keputusan itu.

Perbuatan kolusi ini, berakibat pada:

a. pemasungan tumbuhnya budaya demokrasi dan tranparasi
b. mengganggu hak asasi manusia
c. merosotnya nama baik bangsa dan negara
d. pemerintah menanggung kerugian akibat timbulnya krisis multidimensi dalam kehidupan masyarakat.

Semoga kita terhindar dari perbuatan yang tidak terpuji ini....


By: Ay


Tuesday, 1 November 2016

“Islam adalah jalan cahaya bagi umat manusia”

Sikap Nabi Muhammad SAW Menghadapi Penistaan.

Kita sering menjumpai penghinaan dan perlakuan yang tidak menyenangkan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAWdan Alquran, baik melalui kartun maupun fitnah terhadap ayat-ayat Alquran. Kasus terbaru dilakukan Sam Bacile lewat filmnya "Innocence of Muslims". Kita mesti meneladani sikap Rasulullah SAW, dalam menghadapi berbagai penghinaan dan fitnah.

Suatu hari di tengah teriknya matahari, Nabi Muhammad SAW, mendatangi Kota Thoif untuk mengabarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Namun, belum lagi ia selesai menyampaikan risalahnya, para penduduk Thoif melempari beliau dengan batu. Nabi Muhammad SAW pun berlari dengan menderita luka cukup parah. Giginya patah dan berdarah terkena lemparan batu.

Malaikat Jibril segera turun dan menawarkan bantuan kepada Nabi Muhammad SAW. "Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi."

Bukan hanya kita yang sedih mendengar kisah ini, Jibril pun harus turun tangan melihat Nabi Muhammad SAW dihina dan dianiaya begitu rupa. Namun, apa kata Nabi Muhammad SAW;



"Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku." Dan doa beliau pun terkabul. Banyak di antara penduduk Thoif di kemudian hari yang menjadi ulama penerus risalah Nabi Muhammad SAW. Begitu mulianya akhlak Rasulullah terhadap orang-orang yang menghina dan menganiayanya. Dan beliau pun ingin umatnya mewarisi akhlak mulia tersebut.

Suatu ketika di dalam Kota Mekah ada seseorang yang sangat membenci Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW lewat di depan rumahnya, ia melempari beliau dengan batu, tidak jarang pula ia meludahi beliau dari atas rumahnya. Tidak cukup dengan itu, ia pun melempari Nabi dengan kotoran manusia.

Suatu hari orang tersebut jatuh sakit. Ketika Nabi Muhammad SAW melewati rumah itu, ia heran dan bertanya-tanya ke mana orang yang biasanya melemparinya. Setelah diketahuinya orang tersebut sedang sakit, Nabi Muhammad SAW pun mengunjunginya.

Orang tadi seakan tidak percaya jika Muhammad SAW yang selama ini ia caci maki dan ia lempari dengan batu dan kotoran masih mau menengoknya di kala sakit, saat orang lain tidak memedulikannya. Ia pun menangis di hadapan Nabi Muhammad SAW dan saat itu pula ia mengakui kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan mengucapkan syahadat.

Nabi Muhammad SAW dengan baik sekali mencontohkan apa yang tertera dalam Alquran, Surat Fushshilat Ayat (34): Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Meskipun penistaan atau penghinaan adalah perbuatan yang tercela, Alquran tidak pernah memuat hukuman bagi pelaku penghinaan atau memberikan wewenang kepada siapa pun untuk melakukan penghakiman. Yang ada adalah seruan untuk meninggalkan orang-orang yang menghina agar penghinaan itu tidak terus berlanjut.

"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)". (Qs. Al An'am [6]: 68).

Dalam Qs. Annisaa (4): 140 juga menerangkan hal yang sama. Ayat tersebut bisa menjadi pegangan dalam menyikapi orang-orang yang memfitnah dan memutarbalikkan ayat-ayat Alquran.

Jika hinaan dibalas dengan hujatan, lalu apa bedanya antara orang yang dihina dan orang yang menghujat. Reaksi yang berlebihan terhadap penghinaan akan membuat stigma yang lebih buruk terhadap umat Islam. Jika stigma kekerasan itu mencuat, yang bertepuk tangan adalah para provokator yang tidak senang dengan perdamaian.

Tidak sedikit orang yang menginginkan terciptanya permusuhan antara umat beragama. Daripada membalas hujatan dengan kecaman atau bahkan dengan pembunuhan akan lebih baik jika kita mengajak berdialog orang yang melakukan penghinaan atau penistaan. 

Dalam dialog kita bisa memperkenalkan pribadi Muhammad SAW yang sesungguhnya. Dengan begitu, bukan mustahil orang yang tadinya menghina akan berbalik menjadi sahabat yang setia seperti yang tertera dalam Alquran surat Fushshilat (41): 34.

Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang berkpribadian mulia menginginkan umatnya memiliki akhlak yang mulia pula. Banyak sekali hujatan dan penganiayaan yang beliau terima, tapi Nabi Muhammad SAW  mampu mengatasinya tanpa harus kehilangan kemuliaannya.

Di sudut pasar di Kota Madinah ada seorang buta yang setiap harinya selalu meneriakkan Muhammad SAW orang gila. Setiap hari ada orang yang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Suatu hari orang buta tersebut merasakan jika orang yang menyuapinya kali ini bukanlah orang yang biasa menyuapinya. Berkatalah orang buta dan tua itu, "Kau bukanlah orang yang biasanya menyuapiku, ke manakah gerangan orang yang biasa menyuapiku."

Orang yang ada di hadapannya bertanya, "Bagaimana kau tahu aku bukanlah orang yang biasa menyuapimu sedangkan engkau adalah orang yang tidak bisa melihat?"
Orang tua itu pun menerangkan, "Orang yang setiap harinya menyuapiku akan mengunyah makanan itu lebih dahulu sebelum memasukkan ke mulutku karena ia tahu gigiku sudah tidak kuat lagi mengunyah makanan."

Orang yang ada di hadapannya yang ternyata adalah Abu Bakar menahan tangis dan bertanya kembali, "Tahukah engkau siapa yang biasa menyuapimu setiap hari?"
Orang tua dan buta itu pun menggelengkan kepala. Abu Bakar barkata, "Orang yang menyuapimu setiap hari adalah Muhammad SAW yang biasa engkau caci maki dan sekarang ia telah tiada."

Betapa terkejutnya orang tua itu mengetahui akan hal itu. Ia pun tersungkur menangis dan seketika itu juga mengucapkan kalimat syahadat sebagai sebuah pengakuan atas ke-Esa-an Tuhan dan kemulian Nabi Muhammad SAW.


Original posting  from  jaka supriyanta , http://dhafinnet.blogspot.co.id.cara-nabi-muhammad-menghadapi-penghinaan.html

Sunday, 30 October 2016

Persepsi Kita Gak Akan Pernah Sama

Banyak di antara manusia yang tidak mampu berlapang dada menerima pendapat orang lain meskipun dia memiliki pendapat sendiri, tidak peduli dalam berbagai urusan. Pedagang dengan cara pedagang, agamawan dengan cara agamawan, dan lain sebagainya.


Berbeda pendapat itu sangat baik, karena ia mencetuskan idea yang berlainan, cara fikir yang berbeda, pengetahuan yang luas menentukan jati diri seseorang.




Sesungguhnya, "ikhtilaf / perbedaan pendapat itu rahmat".


Menjadi rahmat itu apabila masing-masing berbesar hati menerima dan bersedia berdebat dengan argumen ilmiah tanpa di dorong nafsu amarah.


Jika terjadi perbedaan, hatinya cepat marah. Maka orang-orang cerdik mengatakan : "ketel yang kecil lebih mudah panas, begitu juga orang yang berhati kecil".

Kenapa harus merasa panas hati ketika orang lain berpendapat berbeda ???? padahal kita tahu bahwa pengalaman kehidupan manusia itu tidak pernah sama....


Sikap kita melambangkan siapa kita. Orang yang tidak bisa menerima pendapat orang lain, berarti dia orang yang berpikiran negatif dan senang marah. Orang begini tidak bisa bekerja secara berkelompok atau menghadiri pertemuan apa pun, karena pasti mendatangkan masalah.


What you see is what you get. Cerdik pandai pernah mengatakan :
"cara kita melihat menentukan siapa kita".
Sangat benar pendapat  begitu, karena seseorang yang membuat suasananya positif pasti akan melihat semua hal adalah positif.


Hadapilah perbedaan pendapat dengan senyuman niscaya masalah itu pasti senyum kembali kepada kita. Setidaknya kita tahu bahwa sudut yang kita ketahui sebenarnya memiliki sudut lain yang belum kita ketahui. Kadang-kadang kita tidak nampak dalam diri ada kekurangan, dan sebab itulah kita perlu teman untuk memberitahu.


Itulah adatnya ketika ada pemerintah pasti ada oposisi. Inilah fungsinya. Pemerintah yang tidak mampu menerima kritik oposisi adalah pemerintah yang lemah. Begitu juga dengan mahasiswa.


Sebagai kesimpulan, jadilah manusia yang cerdik dalam memberikan pendapat dan juga menerima perbedaan suatu pendapat. Lihat saja Umar dan Abu bakar, dua sahabat Nabi yang sangat di hormati, mereka dapat menerima satu sama lain meskipun memiliki banyak terjadi perbedaan pendapat. Mereka adalah manusia yang cerdik dan pintar.


Seharusnya orang yang ingin menjadi cerdik dan pintar meniru akhlak mereka. Mengakui kelemahan diri itu sebenarnya bukan hina malah itu lah sifat hamba yang saleh. Sebenarnya musuh yang paling hebat di dunia ini adalah diri kita sendiri. Orang lain tidak mampu membuat kita risau kecuali diri kita sendiri yang membuatnya risau.

Perdebatan itu memang salah satu teknik untuk memperoleh ilmu, tetapi bukan teknik utama seperti halnya argumentasi yang demonstratif, sebab perdebatan punya tujuan berbeda dengan argumentasi. Kalau argumentasi bertujuan membuktikan kebenaran pada lawan diskusi, maka perdebatan bertujuan mengalahkan lawan diskusi.

Namun, perdebatan berbeda dengan berbantah-bantahan, yang umumnya dilakukan secara ngotot dan berkeras kepala dalam mempertahankan pendapat sendiri. Akan tetapi, merupakan usaha atau teknik dalam adu pendapat dengan menyampaikan pikiran yang menggunakan premis-premis yang secara umum diakui dan terkenal kebenarannya untuk membuat lawan bicaranya kalah.

Karena perdebatan menggunakan premis-premis (statemen-statemen) yang bersifat diakui oleh umumnya orang atau lawan diskusi—walaupun belum tentu benar—, maka kita tidak perlu membuktikan lagi kebenarannya.

Ada beberapa manfaat perdebatan,  diantaranya adalah :

Untuk memperkuat pendapat sehingga lawan bicara menerimanya.
Untuk melatih akal berdalil dengan premis-premis yang ‘diakui’ dan ‘dikenal’.
Untuk memperoleh kebenaran dan keyakinan terhadap berbagai perselisihan yang terjadi.
Untuk memudahkan pencari kebenaran memperoleh kebenaran dari ilmu-ilmu yang dicarinya.
Untuk memperoleh kemenangan dalam adu pendapat.
Untuk memberikan alternatif dalam membuktikan kebenaran dengan cara yang lebih mudah.

Untuk menjaga diri dari pengaburan dan penipuan orang lain dalam berdebat.
Tetapi tidak semua perdebatan berguna dan mengantarkan orang pada kebenaran, bahkan ada perdebatan yang semakin menjauhkan orang dari kebenaran serta menimbulkan permusuhan, perdebatan seperti ini tidak diridhai Allah swt

Di dalam Al-Quran, terdapat ayat-ayat yang melarang perdebatan, pelarangan itu dikarenakan beberapa sebab :

Pertama, Berdebat untuk membela suatu yang sudah diketahui kebatilannya dengan niat untuk mengaburkan kebenaran Allah, seperti firman Allah, “Dan mereka berdebat dengan kebatilan yang dengannya mereka meruntuhkan kebenaran” (al-Mukmin 5)

Kedua, Berdebat tentang perkara yang sudah sangat jelas kebenarannya (badihi, self evident), yang tidakmembutuhkan argumentasipanjang lebar, “Mereka mendebat kamu dalam perkara kebenaran setelah jelas kebenaran itu” (al-Anfal 6)

Ketiga, Berdebat tentang sesuatu yang mana pihak yang berdebat sama-sama tidak mengetahui persoalannya, Allah berfirman, “Begininlah kamu, semestinya kamu berdebat dalam apa yang kamu ketahui, maka mengapa kamu berbantahan tentang apa yang kamu tidak berilmu padanya” (Ali Imran 66)

Keempat, Memperdebatkan ayat-ayat Allah yang sudah jelas, “Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, keuali orang-orang kafir Karena itu janganlah engkau terkecoh dengan berbagai aktivitas mereka di negeri-negeri” (Ghafir 4)

Kelima, Berdebat tanpa argumentasi, “(Yaitu) orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa sulthan (alasan) yang sampai kepada mereka, Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman, Demikianlah Allah menguni mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (Ghafir 35)

Karena itu, dalam berdebat hindarilah kelima hal di atas, agar perdebatan itu semakin mengantarkan manusia pada jalan kebenaran, dan jika ada yang mengajak kita berdebat dengan tanpa ilmu, tanpa argumentasi, dan bukan untuk mencari kebenaran, maka sebaiknya dihindari saja dan tinggalkan. 
(hd,liputanislam,com)


Monday, 22 August 2016

PAJAK untuk Cinta kita pada Negara bro...

Dalam membangun hidup bernegara perlu biaya untuk melayani kepentingan masyarakat dalam mendapatkan kesejahteraan bersama. Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro, SH mengatakan  bahwa  pajak itu suatu iuran rakyat berasal dari rakyat kepada kas negara yang mengacu atas dasar undang-undang yang bersifat dipaksakan dengan tanpa memperoleh pengeluaran umum. agar dapat membiayai segala pengeluaran rutin Negara dan surplusnya akan digunakan untuk public saving yang merupakan sebuah sumber utama dalam membiayai public investment.

Fungsi pajak bila dilihat dari kata kegunaan itu lebih cenderung kepada kegunaan pokok atau manfaat pokok dari pajak itu sendiri.diantaranya:

  1. Sebagai sumber dana bagi Negara
  2. Sebagai alat mengatur atau melaksanakan kegiatan pemerintah di bidang sosial dan ekonomi.
  3. Digunakan untuk membangun fasilitas umum yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dan sebagai  stabilisasi ekonomi.


Alasan pemungutan pajak dari teori kepentingan, bahwa negara berhak memungut pajak karena penduduk negara tersebut mempunyai kepentingan pada negara, makin besar kepentingan penduduk kepada negara maka makin besar pula pajak yang harus dibayarnya kepada negara.

Negara satu-satunya badan atau pihak yang memiliki hak untuk dapat memungut pajak. Pajak tersebut mesti berupa uang, dan bukanlah dalam bentuk barang (goods).  Artinya pajak itu bisa dimaknai sebagai bentuk balas jasa yang sudah diberikan oleh masyarakat untuk pemerintah berdasarkan fasilitas-fasilitas yang bisa kita nikmati untuk bisa hidup layak dalam suatu negara.

Mari kita uraikan soal public saving dan public investment.

Public saving adalah pendapatan pajak yang tersisa pada pemerintah setelah di kurangi pengeluaran pemerintah. Dengan adanya tabungan (saving) ini memungkinkan terjadinya penanaman modal,  dimana penanaman modal akan memperbesar kapasitas produksi ekonomi (tanpa sektor luar negeri) dalam kondisi full employment  dan tanpa mobilitas capital,  tabungan menjadi penting bagi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, yang mekanismenya  lewat pertumbuhan investasi.
Bagian dari pendapatan yang dapat dibelanjakan tapi tidak dikeluarkan untuk konsumsi merupakan tabungan masyarakat (public saving). Penggabungan antara tabungan masyarakat dan tabungan pemerintah dapat membentuk tabungan nasional yang merupakan sumber “dana investasi”.

Public Investment, adalah investasi atau penanaman modal yang dilakukan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah yang sifatnya resmi, bertujuan melayani dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat banyak.
Kesejahteraan masyarakat suatu bangsa secara umum tergambar oleh “Produk Domestik Bruto” (PDB), atau Gross domestic product (GDP), yang dihasilkan oleh Negara tersebut. Semakin tinggi PDB, semakin sejahtera masyarakatnya. Dengan demikian, maka tingkat kesejahteraan masyarakat berkaitan erat dengan perkembangan investasi, yaitu berupa “penciptaan nilai tambah (value added)”

Pemerintah mempunyai peranan penting dalam pengembangan investasi nasional, baik yang dilakukan oleh negara melalui APBD berupa investasi publik, maupun investasi yang dilakukan oleh swasta (private), domestik, maupun asing. Maka peran ini tidak boleh hilang, dibatasi atau tidak bisa dihalangi atau dihilangkan oleh alasan globalisasi, atau perdagangan bebas, ataupun alasan lainnya karena hakikat bernegara ada tiga hal yaitu adanya:
  1.  Wilayah
  2.  Rakyat yang diperjuangkan kepentingannya. 
  3.  Pemerintah yang berdaulat, baik ke dalam maupun ke luar

Jadi berdasarkan fungsi dari penyelenggara Negara itu untuk kesejahteraan dan keadilan masyarakat, maka pemerintah tidak boleh menyerahkan perkembangan investasi kepada mekanisme pasar atau pihak swasta saja. Namun harus mengatur dan mengawasinya.
Untuk mengenal jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah ke masyarakat didasari subjek dan objek pajak, antara lain:

Pajak tidak langsung.

Pajak tidak langsung  yang dikenakan wajib pajak hanya kalau wajib pajak melakukan suatu bentuk perbuatan atau peristiwa tertentu. Oleh sebab itu, pajak tidak langsung itu tidak bisa dilakukan pungutan secara berkala, pajak hanya dapat dipungut kalau terjadi peristiwa atau perbuatan tertentu yang dapat menimbulkan kewajiban dalam membayar pajak.

Contohnya; Pajak penjualan dari barang mewah, pajak tersebut hanya dapat dikenakan, kalau sudah ada wajib pajak yang telah melakukan penjualan terhadap barang mewah.

Pajak langsung

Pajak langsung yang dikenakan secara berkala pada wajib pajak tersebut dimana berdasarkan adanya surat ketetapan pajak yang telah dibuat besarannya oleh kantor pajak.Pajak langsung ini mesti dipikul secara sendiri-sendiri oleh si wajib pajak, sebab pajak tersebut tak bisa dialihkan untuk pihak lain, berbeda halnya dengan pajak tidak langsung yang memang bebannya dapat dialihkan untuk pihak lain.

Contoh pajak langsung yakni pajak penghasilan dan PBB atau Pajak Bumi dan bangunan.
Kemudian ada yang disebut pajak daerah dan pajak negara.

Pajak Negara

Pajak negara ialah suatu pajak yang diperoleh atau dipungut oleh pemerintah pusat lewat aparatnya yakni dirjen pajak, dirjen bea dan cukai dan kantor inspeksi pajak yang sudah tersebar di seluruh indonesia.

Contoh pajak negara yakni pajak pertambahan nilai, pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, bea materai, pajak penjualan atas barang mewah dan pajak penghasilan.

Pajak daerah

Pajak daerah ialah suatu pajak yang telah dipungut oleh pihak pemerintah daerah dan terbatas di rakyat daerah itu sendiri, baik yang telah dilakukan oleh Pemda tingkat I maupun pada Pemda tingkat II.

Contoh pajak daerah yakni pajak hotel, pajak restoran, pajak sarang burung, pajak hiburan, pajak televisi dan pajak radio.

Kalau ditinjau dari objek dan subjek pajak.

1.    Pajak subjektif

Pajak subjektif, yakni  pajak yang pada pemungutannya itu berdasarkan atas subjeknya atau orangnya, dimana pada keadaan diri pajak itu bisa mempengaruhi jumlah yang mesti dibayar. Contoh pajak subjektif;  yakni pajak kekayaan dan pajak penghasilan.

2.    Pajak objektif

Pajak objektif, yakni  pajak yang pada pemungutannya itu berdasarkan dari objeknya. Contoh pajak objektif; yakni pajak impor, pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan, bea materai, bea masuk dan pajak kekayaan dan sebagainya.

Meski kita merasa cinta tanah air dan berjiwa patriot pembela bangsa dan negara, tidak semua kita diwajibkan "membayar" pajak (meski dalam ranah aturan formal, boleh jadi ia hanya terikat kewajiban "melapor"). Siapa dan setelah kapan kita diwajibkan membayar pajak ditentukan dalam UU materil pajak itu sendiri (UU PPh) dan kemudian tata caranya ditentukan dalam UU formal pajak (UU KUP).

Jika kita merasa sebagai "orang pribadi" atau "manusia" yang yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada  di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia, maka kita boleh disebut sebagai "Subjek" pajak, yakni siapa-siapa yang pada suatu saat akan diwajibkan membayar pajak. Hal ini juga berlaku bagi suatu harta waris yang belum sempat dibagikan. (Pasal 2 UU PPh)

Si-Subjek Pajak ini akan jatuh pada kewajiban "membayar" pajak jika ia mendapat/memperoleh  penghasilan. Penghasilan itulah yang menjadi "Objek" pajaknya.

Apa yang dimaksud dengan  "penghasilan" itu? Yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi (termasuk nyicil utang/leasing) atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak  yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun. (Pasal 4 UU PPh)

Nah, setelah memperoleh penghasilan pun belum tentu harus membayar pajak, karena untuk mengupayakan adanya rasa keadilan, si Subjek Pajak tadi harus dilihat perolehan objek penghasilan sampai dengan nilai PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)

Kita harus mengetahui "jurus" dasar menghitung pajak supaya kita tahu dan memahami dalam  mengidentifikasi: 

  • Siapa Subjek,
  • Siapa Objek, 
  • PTKP
  • Tarif atau formula atau rumus menghitung dan 
  • Tata cara/aturan main.


Artinya kita wajib membayar pajak yang terutang (yang kita hitung sendiri) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak (penghitungan pajak oleh petugas pajak). (Pasal 12 UU KUP)

Inilah yang membedakan PPh dengan pajak lainnya seperti pajak kendaraan dan PBB yang dhitung dulu oleh si petugas, baru kita bayar.

Dengan demikian, kita  dapat berlaku "jujur" dalam menghitung pajak kita sendiri itu seraya kemudian "ikhlas" akan hasil perhitungan tadi, harus berapakah pajak kita disetorkan sebagai bukti cinta dan bakti kita untuk NKRI ini.

Jika kita berlaku curang, maka sama saja kita dengan koruptor yang justru hampir tiap hari kita ikut mencaci dan menyumpahi mereka.

Menurut hemat penulis sebagai muslim, hendaknya kita bisa memenuhi hak dan kewajiban sebagai warga yang mencintai Negara kelahirannya, dan selalu berpegang teguh pada perintah Allah SWT:

"Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. Al-Isra': 35)

Terakhir sebelum penulis akhiri tulisan ini, dalam beberapa waktu ini pemerintah sudah menggulirkan kebijakan “TAX AMNESTY” rasanya kita kadang suka merasa curiga dan antipati mendengar kata atau kalimat; pajak..pajak..pajak lagi deh…pemerintah kita ini kayak gak kreatif cari income bagi negara kecuali menambah sengsara masyarakat..” 

Padahal kita kadang suka berburuk sangka tanpa tahu apa tujuan dan maksud kebijakan ini. Penulis bukan petugas pajak namun ingin berkontribusi memberikan pemahaman yang penulis ketahui kepada pembaca. Agar pembaca memahami tujuan kebijakan pemerintah ini.

Arti sederhana dari “tax amnesty “ itu pengampunan pajak, artinya penghapusan pajak bagi Wajib Pajak (WP) yang menyimpan dananya di luar negeri dan tidak memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak dengan imbalan menyetor pajak dengan tarif lebih rendah.

Jadi intinya bahwa, tidak semua yang ikut amnesty adalah pengemplang atau Wajib Pajak nakal. Kedua, uang tebus ini bukan tarif pajak normal, uang tebus ini adalah uang persentase terhadap aset yang belum pernah dilaporkan, sedangkan tarif pajak normal dikalikan dengan income yang diterima orang dalam setahun. Ketiga kebijakan tax amnesty ini selain untuk pemilik NPWP yang sudah menjadi wajib pajak bisa untuk memperbaiki atau mendeklarasi harta yang belum dilaporkan, dan juga bermanfaat untuk orang yang belum punya NPWP sehingga dia mulai catatan sejarah, catatan pajaknya dengan clear dan tidak dengan lagi catatan masalah di masa lalu lagi. Keempat, tax amnesty ini berlaku sampai September 2018 dan selanjut ada program “Voluntary Declaration”, dikutip dari http://www.kemenkeu.go.id/taxamnesty

Dengan dilakukannya tax amnesty ini, diharapkan para pengusaha yang menyimpan dananya di luar negeri itu akan memindahkan dananya ke Indonesia dan menjadi WP baru yang patuh sehingga dapat meningkatkan pendapatan pajak negara. Kebijakan ini sudah pernah di luncurkan di tahun 2008 ( sunset policy ).

Latar belakang kebijakan ini untuk menaikan penerimaan anggaran dalam APBN kita baik di tahun ini atau tahun-tahun sesudahnya yang akan membuat APBN kita lebih tumbuh berkelanjutan. Otomatis ini akan banyak membantu program-program pembangunan tidak hanya infrastruktur tapi juga perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Semoga, kontribusi yang kita tunaikan untuk negara disambut dengan amanahnya pemimpin dan penyelenggara negara kita, sehingga tujuan mulia semua warga negara mengikat perjanjian kenegaraan untuk mensejahterakan kita bersama dapat tercapai.

Semoga.



By: EM