Wednesday, 7 June 2017

Jauhi Sikap Anarkisme..

Saudaraku yang dimuliakan Allah....
Kenapa manusia sekarang ini suka anarkis dan lain sebagainya? Penyebab salah satunya selalu punya perasaan tidak pernah *cukup*   hal ini jadi kekuatan yang menentukan di balik perilaku manusia.
Contohnya :
Jangankan orang miskin, bahkan manusia sudah sangat kaya pun masih merasa jauh dari cukup..
Kasihan kaan ...😂😂

Lingkungan yang gak sehat ini diperparah lagi oleh iklan godaan kesenangan semu setiap hari. Semua iklan menggoda itu membuat manusia menyakiti pikirannya sendiri dengan pesan seperti : “hidupmu bisa jauh lebih bahagia kalau beli barang-jasa kami yang terbaru”.

Dalam hidup ini ada sebuah kalimat sakti yang mengikuti zaman, yakni :

"Kapankah cukup itu terasa cukup?"


Sebuah pertanyaan besar yang sangat sulit untuk dijawab.

Mungkin, jawabannya. “kita berusaha menekan perasaan yang menyakiti diri kita dengan rasa ikhlas dan syukur, lalu berempati dengan penderitaan orang lain. Ini membuat jiwa kita penuh dengan karunia Allah... insyaallah kita bahagia...🙏

Semoga pengalaman ini jadi manfaat agar kita semua menyikapi hidup dengan positif tanpa berkeluh kesah dan anarkis...
Aamiin yaa Rabbal Alamin....


By: Gde Prama

Wednesday, 10 May 2017

Arti Kebajikan

Kenikmatan hidup dan kehormatan hidup itu berbeda dan berlawanan. Kalau saya mau hidup terhormat, pasti tidak nikmat. Kalau saya mau sepenuhnya menikmati hidup, maka pasti tidak bisa dikatakan terhormat. Lalu bagaimana menikmati hidup? Apa ukuran kenikmatan itu bisa diperoleh???  
                         
Aristoteles mengatakan bahwa kesenangan adalah aktivitas yang selaras dengan kebajikan dan keutamaan moral.    
             
Kebajikan itu identik dengan kesenangan sejati. Kita tidak bisa melakukan tindakan yang sesuai dengan keutamaan moral hanya karena mau mendapatkan kehormatan saja.

Kita bertindak dengan tepat supaya mendapatkan kesenangan. Tetapi kesenangan sejati tidak bisa direduksi dengan kesenangan yang hanya dinikmati sendiri.                                                                

Ada begitu banyak kesenangan yang lain, yaitu kesenangan yang diperoleh ketika dihargai oleh orang lain, ketika menghargai orang lain, ketika dapat menolong orang lain, ketika dapat membela kebebasan orang lain, dan seterusnya.    
                                                  
Siapa yang mereduksi kesenangan dan kenikmatan  hidup pribadi dalam nilai rupiah semata  maka  jiwanya sedang sakit. Dia tidak sehat, apalagi senang. Kesenangannya adalah kesenangan palsu. Kesenangan jiwa adalah kesenangan yang utuh dan dinikmati oleh diri dan orang lain....

Friday, 24 March 2017

SEBUAH CERITA ROMANTIKA HIDUP .

Kepahaman diri seseorang, sejauh yang aku pahami sebagai orang awam dan dungu, bukan melulu ditakar dari tinggi jenjang status sosial, pendidikan akademis orang itu ataupun seberapa banyak buku-buku berkelas yang telah ia baca, melainkan juga perlu memperhatikan, salah satunya, laku kehidupan sehari-hari orang itu dalam berinteraksi dengan manusia lain dalam everyday-life (kehidupan sehari-hari).



Interaksi  bisa dimana pun terjadi dan seperti biasa kalau lagi libur toko aku suka ketemuan dengan beberapa teman di Corner Resto. Seperti biasa  kami ber haha hihi dan ngobrol tentang hal yang ringan dan santai..yaah pokoknya ngobrol yang gak bikin pusing kepala, suasana rileks ini membuat lelah seminggu menjadi kendor. Pengunjung resto malam ini cukup ramai dari hari hari biasanya. Aku dan Reina duduk di pojok belakang dekat kolam kecil resto, ditempat ini tidak ada asap rokok dan sejuk membuat suasana yang enak buat bicara dan tidak begitu gaduh.
Malam ini teman teman yang suka nimbrung bareng  menghabiskan malam di Corner Resto sepertinya masih punya kegiatan yang padat. Jadi malam ini  hanya aku berdua saja dengan Reina,  dan aku paham betul menu favorit  temanku Reina: Secangkir luwak  white kaffie  panas. Sementara menu favoritku: secangkir kopi  latte tanpa gula dan gorengan berminyak yang lezat (setidaknya menurutku demikian).
Aku sudah berteman dengan Reina sejak awal mula aku membuka toko bahan kimia dan plastik milikku. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Ya, setelah aku menyelesaikan kuliah dan mengalami kerasnya dunia kerja di lingkungan perusahaan yang penuh intrik kotor dan menjijikkan, aku memutuskan untuk menjadi pengusaha saja. Istilahnya “Jadi bos bagi diriku sendiri”, itu keinginanku.
Beruntung, aku mendapat warisan dari kedua orang tuaku berupa tanah berukuran  250 meter persegi yang terletak tepat di pinggir jalan raya dekat rumahku. Sebenarnya, tanah itu milik almarhum kakekku, yang diwariskan ke bapakku, yang sudah bertahun-tahun dibiarkan terlantar begitu saja. Lalu, sebagian  dari luas tanah warisan itu aku jual ke seorang pengusaha bengkel mobil dan kemudian uang pembayarannya aku gunakan sebagai modal awalku untuk membuka usaha bahan kimia karena aku memang punya pengalaman di bidang ini. Usaha ini sungguh menjanjikan mengingat di daerahku ini lingkungan usaha home  industri, sebelum aku membuka usaha ini biasanya mereka membeli bahan kimia ke kota dan sedikit sekali orang yang membuka usaha toko bahan kimia dan plastik kemasan, pikirku dulu.
Jadi, suatu siang Reina datang ke toko milikku. Kebetulan, aku sedang ada di toko dan melayani para pelanggan setiaku.
“Mas, ada baking soda merk, butterfly, gak?” tanya Reina, dengan ramah dan ekspresi yang sedikit bingung. Ia waktu itu memakai T-shirt berwarna biru muda kotak kotak  dan jeans ketat berwarna hitam, sementara rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai indah.
“Ada, mbak. Mau berapa banyak  ya?”
“Dua botol yang ukuran besar , Mas.  ya?”
“Oh iya, ada Mbak. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan dulu.”
Aku lalu pergi ke belakang menuju gudang penyimpan yang sudah aku buatkan untuk masing masing bahan khusus makanan dan minuman  biasa disimpan.  Nah ini dia, baking soda  yang mbak cantik itu cari.
“Ini, Mbak. Baking Soda butterfly nya. Gimana?”
“Oke, Mas. Jadi, berapa?” jawabnya sambil sesekali mengecek smartphone miliknya.
“90 ribu, Mbak.” jawabku singkat sembari menatap matanya dalam-dalam.
Lalu, ia mengeluarkan sebuah dompet lipat panjang dari tas hitam mungil bermerek Mulberry miliknya. Woow  Ia bukan seorang perempuan biasa, pikirku.
“Ini uangnya, Mas,” ia menyodorkan uang pembayarannya ke tanganku. “Oh ya, Mas, saya boleh minta tolong dipindahin kotak kayu  di dalam mobil saya ini  ke kabin belakang?” Ia meminta dengan senyum manis yang begitu menggoda. Tanpa banyak berpikir, aku langsung mengangguk dan buru-buru mengangkat kotak kayu yang dimaksud  ke dalam kabin bagasi mobil BMW hitam miliknya.
“Terima kasih ya, Mas.”
“Iya, sama-sama, Mbak.”
“Reina.” Dia mengenalkan dirinya.
“Oh iya. Ferry.” Sambut ku membalas.
“Oh, Mas pegawai di sini ya?”
“Kebetulan saya pemilik toko  bahan kimia dan plastik ini, Mbak.”
“Wah. Maaf, ya Mas? He he. Saya tidak tahu.”
Aku tertawa kecil dalam hati. Wajahku memang tidak terlihat meyakinkan untuk dianggap sebagai pengusaha. Malu juga ya? Menyedihkan sekali aku ini. Aku lalu menjawab tidak masalah dan ia tersenyum. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi melesat meninggalkanku sendirian.
Oh ya, ia memberikan nomor hapenya kepadaku. Ia bilang kepadaku, telfon ia jika ingin bertemu.
Semenjak itu, aku sering bertemu Reina, terutama saat malam liburan. Aku, kemudian, mengetahui bahwa Reina, anak seorang pengusaha beberapa hotel  di Jakarta. Sementara ibunya menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta  juga. Ia tinggal di sini bersama dua adiknya, seorang satpam dan seorang pembantu rumah tangga. Atas pengakuannya sendiri, ia berkata kepadaku bahwa ia rindu dengan kedua orangtuanya yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Sementara ayah dan ibunya menempati rumah di Jakarta, ia hidup di sini, di daerah kecil ini.
Saat awal bertemu denganku ia berumur  sembilan belas tahun atau empat tahun lebih muda daripada aku. Aku tanya mengapa ia tidak kuliah dan ia jawab kuliah itu mengekang pikirannya dan malah membuat ia seperti robot-robot pencari kuasa. Aku kemudian membalas begini: Tetapi barangkali kuliah bisa menyelamatkan banyak orang dari kubangan kemiskinan kronis.. waktu itu, kami ngobrol  di dekat rumahku, dia cuma tersenyum sembari mengggores-gores meja dengan kunci mobilnya. Aku juga tersenyum melihat ia memasang ekspresi bingung.
***
Malam ini aku dan dia sudah banyak bicara soal apa saja yang bikin suasana rileks, rasanya gak habis habisnya yang di obrolin lalu terdiam sesaat  sambil menikmati cuaca cerah malam karena beberapa hari ini cuaca kurang bersahabat.
“Eiiih, omong-omong nih, aku mau cerita sesuatu ke kamu Fer,” tiba-tiba air muka Reina, teman perempuanku yang manis itu, berubah menjadi serius banget.
“Cerita apa nih? Ayo cerita saja Reina,” jawabku dengan santai.
“Jadi gini, Fer. Kemarin aku ketemu bapakku. Nah, dia bilang kalau aku harus cepat nikah karena bapak dan mama ku sudah kepengen punya momongan  cucu. Kamu kan tahu Fer kalau aku anak sulung. Apalagi, aku anak perempuan. Masalahnya, aku belum siap nikah. Aku juga ragu dengan tujuan nikah. Buat apa sih nikah itu?” Ia bercerita dengan semangat, sesekali memasang muka sebal, sambil  menghirup white kaffie  panasnya.
“Waduh. Aku juga bingung nih. Soalnya, aku juga belum pernah dituntut nikah. Ibu aku selama ini cukup tenang melihat aku yang hampir kepala tiga ini masih melajang,” jawabku bingung.
“Fer, bagaimana kalau kamu jadi pacar aku?”
“Hah? Gila kamu!! Ha ha ha,” sebenarnya aku senang dengan permintaan Reina, tetapi aku teringat latar belakang keluarganya.
Aku teringat pertemuan pertamaku dengan ayah dan ibu Reina lima tahun yang lalu. Waktu itu, aku diajak Reina mengunjungi orang tuanya di Jakarta. Ketika aku sampai di rumah orang tuanya, aku dibuat kagum dengan kemegahan rumahnya yang mewah dan bergaya retro. Itu sudah cukup membuat nyaliku menciut. Setelah dipersilakan masuk oleh ayah ibu Reina, kami berempat duduk di ruang tamu. Setelah berbasa basi, menanyakan nama, alamat tinggalku, tiba-tiba ayah Reina memutarkan pertanyaan yang di luar perkiraanku: “ Kerja kamu apa, Fer?”
Sontak aku kaget. Mengapa ayah Reina bertanya soal kerjaanku? Aneh sekali ini. Aku dengan pelan menjawab, “ Berdagang, Pak.” Ia nampak bingung dengan jawabanku dan menjawab, “Oh. Saya kira kamu punya perusahaan, Fer. Dalam pikiranku berdagang  itu bagus tapi dengan kondisi saat ini agak berat  ya? Turunnya daya beli  sulit untuk berkembang.”
Tiba tiba Reina ngangetin aku, bilang; “Fer, aku serius sama kamu. Begini, Fer. Aku lebih baik terus sama kamu, walaupun kita berdua nggak menikah, daripada harus dijodoh-jodohkan dengan seorang pria yang nggak aku suka. Aku lebih baik mati di samping kamu, Fer.. Aku serius !”..
Ah, Reina. Kau pandai menciptakan problem baru dalam diriku. Selama aku SMA dan kuliah dulu, aku tidak pernah bertemu dengan sosok perempuan yang sama lucunya, yang sama cantiknya, yang sama uniknya seperti kau Reina. Tetapi ini gila! Aku masih ingat bahwa orang tuamu kelihatan aneh ketika mengetahui pekerjaanku. Aku tidak ingin membuat kau terluka dengan jurang pemisah semacam perbedaan status sosial seperti ini. Aku ini pedagang kecil yang takkan bisa menyaingi usaha bapakmu apalagi membuat dirimu bahagia dalam usaha kecilku ini…
Tapi kata orang bijak, bahwa: Cinta itu dapat bebas sejauh ia tidak menentang status sosial orang. Itu yang masih aku percayai sampai detik ini. Sialnya, aku bertemu dengan seorang malaikat cantik yang pesakitan, yang menantang prinsip cintaku ini.
Spontan aku mencium pipinya dengan mesra. Lekat sekali, hangat sekali. –begitu saja.
Aku terdiam, seolah tak menyangka, bagaimana bisa sesuatu yang aku pikir tidak mungkin adalah sesuatu yang mungkin, aku mencintainya juga, sejak pertama kali aku bertemu Reina, aku telah jatuh cinta. Tapi mendengar ucapannya membuat aku bahagia.

“Bagaimana jika aku mencintaimu juga?" kataku pada Reina.
“Ya, aku senang, sangat senang, setidaknya hatiku tak bertepuk sebelah tangan, Reina menjawab ucapanku. Mengetahui bahwa ciuman yang kau berikan padaku, bukan hanya pipimu, tapi hatimu juga, apa kau mencintaiku sebagaimana aku?“ ucap Reina.

“Mencintaimu? Sudah ku lakukan, sejak pertama kali kita saling bertemu di tokoku, kau begitu tergesa-gesa pergi, hingga sesuatu yang tumbuh di tempat lain tak kau sadari, bahwa aku ingin menciummu berkali-kali, tapi tak pernah sampai pada bibir hatimu. Aku sudah mencintaimu sebelum bertemu, dan lebih mencintaimu sesudah bertemu“, jawabku.
            
Reina memelukku, sangat erat seperti tak ingin sesuatu terlepas, begitu juga aku, aku memeluknya begitu erat, sangat erat, seperti seorang kanak menggenggam kembang gula demi tak dipinta seseorang, kami saling terdiam dalam pelukan yang saling erat, begitu lama.

“Aku bahagia, sangat bahagia, ternyata hati kita sudah saling  mengenali,  sudah saling berciuman. Maafkan aku, tak seharusnya aku mengatakan bahwa aku mencintaimu sementara aku tak memiliki kesiapan memilikimu, semestinya aku biarkan saja kau terus bertanya-tanya tentang perasaanku, biar tak ku lukai hatimu yang begitu sangat ingin ku rengkuh, tapi aku ingin kamu juga tahu, biar terus mengingat bahwa aku juga merindukanmu, aku kehilangan jika kau tak ada. Aku mencintaimu, sungguh ini kesalahanku“. Ucapnya, kali ini matanya yang sendu menjatuhkan gerimis, mengalir menuju pipinya, kemudian jatuh di bibirnya.
Karena sudah larut malam dan jam menunjukkan pukul 23:00 wib, kami beranjak pulang dan ku antar Reina pulang. Setelah sampai di rumahnya aku katakan pada Reina untuk segera menemui kedua orangtuanya. Kita tak perlu menunggu waktu lagi dan jadilah teman hidupku selamanya..


By: FR

Monday, 27 February 2017

Memilih Mereka yang Punya Integritas.

Bicara soal integritas di era pilkada 2017 ini sangat penting untuk kita pahami didalam hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Berkaitan dengan hal ini, didalam hati seluruh masyarakat  di Indonesia sangat ingin memilih seseorang pemimpin yang punya integritas untuk memajukan dan mensejahterakan kehidupan berbangsa.

Jack Welch, dalam bukunya yang berjudul “Winning” dikatakan bahwa, integritas  adalah sepatah kata yang kabur (tidak jelas). Orang-orang yang memiliki integritas mengatakan kebenaran, dan orang-orang itu memegang kata-kata mereka. Mereka bertanggung-jawab atas tindakan-tindakan mereka di masa lalu, mengakui  kesalahan mereka dan mengoreksinya. Mereka mengetahui hukum yang berlaku dalam negara mereka, industri mereka dan perusahaan mereka – baik yang  tersurat maupun yang tersirat – dan mentaatinya. Mereka bermain untuk menang  secara benar (bersih), sesuai  peraturan yang berlaku.

Berbagai survei dan studi  kasus telah mengidentifikasikan bahwa, integritas atau kejujuran sebagai suatu  karakteristik pribadi yang paling dihasrati dalam diri seorang pemimpin yang baik.
Integritas itu sangat dibutuhkan oleh semua orang, tak hanya pemimpin namun juga yang dipimpin. Orang-orang menginginkan jaminan bahwa pemimpin mereka dapat dipercaya jika mereka harus menjadi pengikut-pengikutnya. Mereka merasa yakin bahwa sang pemimpin memperhatikan kepentingan setiap anggota tim dan sang pemimpin harus menaruh kepercayaan bahwa para anggota timnya melakukan tugas tanggung-jawab mereka.

Pemimpin dan yang dipimpin sama-sama ingin mengetahui bahwa mereka akan menepati janji-janjinya dan tidak pernah luntur dalam komitmennya. Orang yang hidup dengan integritas tidak akan mau dan mampu untuk mematahkan kepercayaan dari mereka yang menaruh kepercayaan kepada dirinya. Mereka senantiasa memilih yang benar dan berpihak kepada kebenaran. Ini adalah tanda dari integritas seseorang.

Mengatakan kebenaran secara bertanggung jawab, bahkan ketika merasa tidak enak untuk mengatakannya.
Kebenaran itu tetap diterapkan walau ada celaan dan ada yang tidak suka. Inilah prinsip yang diajarkan dalam Islam oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nasehat ini beliau sampaikan pada sahabat mulia Abu Dzarr.

Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku:

1) Mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka,
2) Beliau memerintah agar melihat pada orang dibawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada diatasku,
3) Beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar,
4) Beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun,
5) Beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit,
6) Beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat menyampaikan risalah di jalan Allah,
7) Beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad hadits ini hasan karena adanya Salaam Abul Mundzir).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin memberikan contoh mengenai hadits ini “Berkata yang benar walaupun pahit” yaitu dalam hal orang yang biasa berkomentar sinis atau tidak suka terhadap kebenaran yang terjadi atau belum dan sudah terjadi.

Integritas adalah kualitas yang mendasar dan harus ada dalam diri seorang pemimpin. Dalam sebuah buku “Jonathan Lamb” yang berjudul, Integrity, Leading with God Watching, (Buku ini diterbitkan oleh Perkantas 2008. Bukunya Softcover, 246 halaman). Jonathan Lamb menulis, bahwa panggilan hidup untuk berintegritas tidak hanya dituntut oleh Allah.
Di semua lapisan masyarakat ada seruan yang kuat agar para pemimpin baik di bidang usaha, politik atau agama, hidup berintergitas.



Betapa  pentingnya hidup berintegritas, Lamb menjelaskan apa wujud dari integritas. Menurutnya ada tiga ciri integritas:

1. Ketulusan: Motivasi yang murni
2. Konsistensi: Menjalani hidup sebagai suatu keseluruhan
3. Keandalan: Mencerminkan ke tundukan kepada kekuasaan  Allah.

Dengan memakai gambaran Nabi Muhammad  Shalallahu Alaihi Wassalam, saya sebagai  ummat  islam bisa mencontoh beliau hidup sebagai seseorang yang berintegritas. Bagi saya, nabi sebagai pemimpin yang berintegritas sangat tepat  dan akan selalu menjadi panutan.
Kita sering di berikan penjelasan oleh para guru dan ulama tentang  sifat dan karakter Nabiyullah Shalallahu Alaihi Wassalam, seperti;

Sidik, Sidik berarti benar. Benar dalam perkataan maupun perbuatan. Kadang-kadang kita terlalu banyak berkata-kata tanpa hasil yang sejalan. Banyak kata yang dilontarkan, bahkan kadang-kadang berbohong hanya untuk mendapat pujian saja.

Amanah, Amanah memiliki arti benar-benar dapat dipercaya. Masih ingatkah mengapa Rasulullah dijuluki gelar ‘Al–Amin’? Nabi Muhammad berhak mendapatkan gelar mulia itu karena beliau selalu mengerjakan dengan sebaik-baiknya jika ada urusan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap kata yang diucapkan Nabi Muhammad adalah kejujuran. Belajar dari sifat Nabi tidak semudah teori yang ada.
Di zaman sekarang, nilai amanah ini semakin luntur. Banyak sekali kasus korupsi dan cacat moral di tempat bekerja atau tempat lainnya. Karakter pemimpin saat ini banyak yang dianggap tak layak, tetapi haus akan jabatan membuat orang tak peduli untuk saling sikut.

Fatanah, Fatanah berarti cerdas. Nabi Muhammad adalah suri teladan yang luar biasa cerdas. Cerdas bukan berarti sesuatu yang harus sempurna di bidang akademik saja, melainkan juga berpikir terbuka dan berbeda. Artinya, kita harus aktif dan memandang sesuatu dari segi kebaikan.

Tablig. Tablig yang berarti menyampaikan.  Sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran, meskipun pahit. Karakter pemimpin yang mencontoh sifat Nabi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin kita capai, mulailah dari diri sendiri karena dalam suatu keluarga apalagi berbangsa dan bernegara pasti ada selisih paham.

Jika kita mengalami hal ini, utarakanlah hal ini. Bersikaplah saling terbuka. Jangan memfitnah, menyebar kebencian atau berghibah. Berbeda pendapat itu rahmat karena itu jangan saling membenci. Lalu bagaimana kita bisa diam terhadap para penyeru dan penebar pemikiran sesat yang telah ditokohkan oleh sebagian umat Islam, padahal kesesatan mereka telah meracuni hati dan pikiran masyarakat sampai-sampai kebenaran dianggap sebagai kebatilan dan kebatilan justru dianggap benar?

Siapkah seseorang yang kita pilih itu melanjutkan karakter pemimpin seperti ini? Ini pasti akan terasa sangat sulit untuk dilakukan jika tidak memiliki tekad dan niat yang bulat dalam hati dan pikirannya.

Bahwa panggilan hidup berintegritas adalah hidup yang menunjukkan akuntabilitas, menunjukkan tanggung jawab dan rasa takut kepada Allah, termasuk dalam mengerjakan perkara-perkara kecil, terkait  integritas dalam  melayani kepentingan masyarakat yang membutuhkannya.

Kepemimpinan dalam hal menggunakan otoritas, membangun komunitas, menangani kegagalan dan pengelolaan keuangan. Serta tantangan dalam mengendalikan  kelemahan dan kekuasaan, status dan ambisi yang sejati, keangkuhan dan panggilan untuk  berkorban.

Integritas sebagai cara hidup. Sangat  penting untuk memahami  tentang bagaimana hidup dengan rasa puas, hidup secara konsisten dan menjalani kehidupan secara autentik. 


Berpijak dari kesadaran ini, maka perkenankanlah kami memberi panggilan untuk memilih  mereka yang punya integritas, karena kami menyukai kebenaran dan kebaikan yang ada pada mereka sebagaimana kami menyukainya ada pada diri kami. Terima kasih.


By: EM


Wednesday, 15 February 2017

JUJUR ITU PEDANG ALLAH DI MUKA BUMI.

Ibnu Qayyim berpendapat bahwa jujur adalah sifat yang membuat seseorang menjadi terhormat. Dari sana akan muncul seluruh derajat para pencari kebenaran dan jalan yang paling lurus. Orang yang tidak menitinya akan celaka. Kejujuran membedakan antara orang munafik dan orang mukmin serta penduduk surga dan penduduk neraka. Kejujuran adalah pedang Allah swt. di muka bumi. Pedang tersebut tidak akan pernah diletakkan pada sesuatu, kecuali iamematahkannya dan tidak akan berhadapan dengan yang batil kecuali ia akan melawan dan menumbangkannya.

Barang siapa naik takhta dengan jujur, dia tidak akan diturunkan. Kejujuran dapat membungkam musuh. Kejujuran adalah ruh segenap amal, pangkat segala seusatu, faktor yang mendorong seseorang berani menghadapi rintangan, dan pintu masuk bagi hamba yang in-dien sampai ke hadirat Allah swt. Kejujuran juga merupakan fondasi tegaknya agama dan tiang penyangga tenda keyakinan.

Derajat kejujuran berada di urutan kedua setelah derajat para nabi sebagai derajat paling tinggi. Di antara tempat-tempat tinggal mereka di surga, akan mengalir mata air dan sungai-sungai ke tempat tinggal orang-orang yang jujur. Kelak hati-hati mereka pun akan saling bertautan.

Allah swt. memerintahkan orang yang beriman untuk selalu bersama orang-orang jujur dan Ia berjanji akan menempatkan mereka bersama para nabi, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh.


Allah swt. berfirman,


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar." (at-Taubah [9]:119)

Firman Allah dalam surah yang lain,

"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) pada nabi, para pecinta kebenaran , orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (an-Nisa [4]:69)

Para nabi, pecinta kebenaran, orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh itulah sebaik-baik teman. Allah swt akan selalu mengurniai mereka nikmat, kasih sayang-Nya, kebaikan yang sangat banyak, petunjuk dan arah-an dari-Nya. Bahkan lebih dari itu mereka akan mendapat keistimewaan khusus, yaitu perlindungan dari Allah swt. karena Allah akan selalau bersama orang-orang yang sabar. Kedudukan meraka sangatdekat dengan-Nya karena derajat mereka berada di urutan ke dua setelah derajat  para nabi.

Allah swt. memberitahukan bahwa orang yang memeunikan keimanan kepada-Nya berarti telah memberikan yang terbaik untuk dirinya. 

Allah berfirman,


"..Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." (Muhammad [47]:21)

Allah swt juga memberitahukan tentang orang-orang yang baik dan memuji mereka karena telah memurnikan keimanan dan keislaman, bersedekah, dan selalu bersabar. Me-reka itulah orang-orang yang jujur.


Allah swt. berfirman.

"..tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi serta memberikan hartayang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (al-Baqarah [2]:177)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kejujuran sebagai dasar keimanan dan keislaman harus dibuktikan dengan amalan lahir dan batin.

Allah swt. membagi manusia menjadi dua tipe, yaitu tipe manusia yang jujur dan munafik (9).

Sebagaimana firman-Nya,


"Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazabkan orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka...." (al-Ahzab [33]:24) 

Kejujuran adalah fondasi keimanan, sedangkan kebohongan adalah dasar kemunafikan. Apabila kebohongan berkumpul dengan keimanan, salah satunya pasti tumbang.

Allah swt. juga memberitahu bahwa yang bisa menyelamatkan seorang hamba pada hari Kiamat kelak adalah kejujuran.


Allah swt. firman-Nya,


"..Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung." (al-Ma'idah [5]:119)

Dalam firman-Nya pada surah yang lain,


"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah yang bertakwa." (az-Zumar [39]:33)

Pembawa kebenaran yang dimaksudkan adalah orang yang senantiasa jujur, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun dalam kondisinya. Allah swt. telah memerintahkan rasulullah saw. agar memohon kepada-Nya untuk mengurniakan tempat masuk dan keluar yang benar pada setiap perkara.

Allah swt. berfirman,

"Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhan-ku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong-(Ku)." (al-Isra [17]:80)

Allah swt. juga mengisahkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim a.s., bahwaIbrahim telah memohon kepada-Nya agar dianugerahi lisan yang jujur sebagai teladan bagi generasi yang akan datang setelahnya. 

Hal itu, Allah kisahkan di dalam firmany-Nya,


"Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (asy-Syu 'ara [26]:84)

Di dalam ayat yang lain, Allah swt. memberikan kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi dan tempat yang dia senangi di sisi-Nya.


Allah swt. berfirman,


"..dan gembiralah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan..." (Yunus [10]:2) 

Allah juga berfirman,

"Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang Mahakuasa." (al-Qamar[54]:54-55)

Kesimpulannya, ayat-ayat tersebut menjelaskan lima perkara kepada kita, yaitu.


(1) tempat keluar yang benar,

(2) tempat masuk yang benar,

 (3) lisan yang gema jujur,

(4) kedudukan yang sangat tinggi, dan

(5) tempat yang menyenangkan.

Hakikat kejujuran pada lima perkara tersebut ada pada sebuah kebenaran yang kukuh dan berhubungan langsung degan Allah swt.


Kejujuran adalah perantara antara hamba dengan Tuhannya.
Kejujuran harus meliputi perkataan dan perbuatan yang dilakukan demi untuk Allah swt. serta balasan dari semua itu akan diterima ketika di dunia dan di akhirat. 

Semoga kejujuran menjadi pegangan hidup kita semua. 


Reference ; by. norhaya-jujur.blogspot.co.id-August 5, 2011


Thursday, 22 December 2016

MENDIDIK DENGAN BIJAK dan BIASA

Pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Tidak bisa diserahkan kepada sekolah sepenuhnya, guru dan orang tua harus bersama – sama mendidik anak. Baik pendidikan akademis, karakter dan lainnya. Orang tua yang bijak akan selalu turut serta menjadi “guru” dalam setiap perjalanan anak.

















sumber : Lifehack.

Monday, 12 December 2016

Antara Jadi Cerdas dan Tak Waras

“ Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, slogan yang sudah sangat lengket di kepala kita semua, hasilnya bangsa kita cerdas-cerdas. buktinya pelajar Indonesia menjadi juara science olympiade dunia dan banyak lagi prestasi yang lainnya. 

Berjalannya waktu ternyata cerdas bisa melupakan kewarasan, jadi mungkin perlu dipertimbangkan apa perlu kita ganti slogan ini menjadi ““mewaraskan kehidupan bangsa”..cerdas itu lebih tepat di sebut sebagai orang yang dapat menyelesaikan persoalan yang muncul yang sebelumnya belum pernah bersentuhan dengan hal tersebut. Jadi cerdas itu sifat bawaan tanpa belajar..negatifnya orang cerdas ini mampu "mengarang bebas" mempengaruhi orang lain jadi waras dan tidak waras.
Kalau kita kilas balik maksud dari cerdas itu dalam arti "tau aja ngak cukup tapi butuh mengerti juga ( logika ) artinya mau pakai otak kiri apa kanan tergantung . lalu maksud waras itu bisa bedain mana yang benar dan salah. 

Orang-orang waras sudah merampas kewarasan pada orang-orang yang mereka jadikan  tidak waras. Jadi siapa yang waras, siapa yang tidak waras? Yang mana yang pelihara ke warasan nya, yang mana yang membuang kewarasan ?

Orang-orang hidup yang menganggap dirinya waras, apakah memang waras? Atau mungkin sebenarnya orang-orang yang dianggap tidak waras oleh orang-orang yang menganggap dirinya waraslah yang sebenarnya masih waras, karena mereka bebas. Bebas. ..Gak ikuti peraturan kewarasan yang ditetapkan oleh orang waras. Bebas. Memiliki tubuh, pikiran dan jiwa yang bebas. Gak terpasung sama trend/ isu terbaru, seharusnya begini, seharusnya begitu, gak terikat dengan pemikiran-pemikiran umum tentang tata cara hidup, kalau mereka gak mau ya gak mau..gituu dech.

Orang yang dianggap tidak waras oleh orang-orang yang mengaku dirinya waras itu pemberani. Gak mau ikut-ikutan kelakuan orang yang dianggap waras agar dapat dianggap waras. Mereka bukan pengecut karena mereka berani menyatakan dirinya, bukan seperti calon orang waras yang milih jadi penurut atau, jadi pengikut aja, orang-orang kayak gini dia juga harus gini. Gini udah gak zaman, terus ganti jadi gitu ya ngikut jadi gitu. Biar sama, biar waras katanya. Kata siapa ???

Orang yang dianggap tidak waras oleh orang-orang yang mengaku dirinya waras itu demokratis. Berani berdiri diatas pemikiran sendiri. Memiliki hidupnya seutuhnya, pemikiran seutuhnya, jiwanya utuh.

Bukan seperti zombi, mayat hidup, seperti orang-orang yang melabeli dirinya waras tapi hidupnya dimiliki orang lain, kemauan orang lain. Entah dia ingin dibilang mayat hidup, robot, atau boneka teletubie? Entah apa dia masih memiliki hidupnya sendiri? Menghidupi hidupnya. Atau hanya hidup dalam persepsi orang lain?

Banyak orang yang dipakaikan label tidak waras disekitar kita. Mereka toh gak peduli, persetan apa kata orang waras. Orang waras itu yang malah kebanyakan sakit jiwanya, pikirannya, hatinya.

Coba lihat di sekeliling kita;

Oknum aparatur Kepolisian, TNI, Kejaksaan, Hakim, Kepala daerah, tokoh masyarakat, politisi bahkan pendidik yang mengkonsumsi narkoba.

Ada oknum pejabat negara dan lokal  banyak  yang cukup cerdas dalam “mengumpulkan” uang negara masuk dompet pribadi. 

Bertolak dari sejarah bangsa di Indonesia, bahwa sistim kepemimpinan didalam masyarakat sudah ada peran dari masing masing posisinya. Penulis dalam hal ini mengambil contoh  di Minangkabau . Ungkapan filosofis "tigo tungku sajarangan" memiliki makna mendalam membentuk peradaban kepemimpinan. Pilar kepemimpinan itu ada tiga : Alim Ulama ( Pemuka ), Cadiak pandai   (Teknokrat) dan Ninik Mamak ( eksekutif  ) mereka ini menjalankan posisinya masing masing secara independen agar jernih melihat persoalan masyarakat ( ini sangat cerdas dan waras ). Namun yang kita lihat saat ini, justru Ulama / pemuka agama yang katanya “cerdas” masuk jadi anggota partai politik atau menjadi pendukung/ simpatisan  calon kepala daerah tertentu. waah ..Ini “cukup cerdas tapi tak waras”.. seharusnya tokoh agama itu menjadi pagar keimanan dan pembentukan moral umatnya. Bukan "berpihak ke satu golongan". Kita bisa tebak yang terjadi jika tidak netral pada saat ada persoalan dalam masyarakat , kaum ini tak jernih lagi menyelesaikan atau memilah masalah masyarakat justru mengaburkan masalah kenapa ??..karena etika moral  makin tak waras.

Bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam pada saat kondisi masyarakat yang tidak nyaman, peran dari seorang tokoh agama dan masyarakat ini harusnya bijak dalam menghimbau dan menasehati pengikutnya untuk bersikap adil, toleran, jujur, saling peduli, memahami, menghormati, mencintai, dan saling menolong di antara sesama manusia. 

Sejalan dengan itu, peran sentral tokoh agama semestinya berperan penting mengajarkan budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Dan menumbuhkan budaya keteladanan itu harus diwujudkan dalam perilaku para pemimpin baik formal maupun informal.

Emang sih, kita ini bangsa yang besar tapi ternyata menjadi sulit besar  ..Kenapa? Karena   secara historis pernah “dididik” oleh bangsa-bangsa cerdas yang tak waras (warisan pikiran kotor kali ya?!)  Bukankah bangsa Belanda, Inggris, Prancis, Jepang, Spanyol, Portugis adalah bangsa yang  cerdas?  Kecerdasan yang diakui oleh bangsa di dunia plus kebiadabannya. 

Sebaiknya jangan dicontoh  oleh generasi bangsa  saat ini !!!!!.

Para pemimpin  dan tokoh masyarakat lah yang menjadi penentu warasnya bangsa ini.  Dalam dimensi kebangsaan yang pluralistis ( suku bangsa yang beragam ) ini sebaiknya mulai dari presiden, dpr, tokoh politik  sampai birokrasi terbawah wajib hukumnya melakukan "revolusi mental dan moral" ( minjem istilah pak dhe..)  mereka agar lebih waras dan cerdas.

Untuk menumbuhkan suasana sosial dan politik yang berpaham demokrasi  dan bercirikan keterbukaan, tanggung jawab, tanggap akan aspirasi rakyat, menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, kesediaan untuk menerima perbedaan pendapat  yang memihak kepada kebenaran bukan pembenaran, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa.

Etika moral semua elemen bangsa harus diwujudkan dalam bentuk sikap yang ber tata karama dalam perilaku sosial politik dan agama  yang toleran ( hargai persaudaraan) , tidak berpura-pura, tidak arogan, jauh dari sikap munafik serta tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif dan berbagai tindakan yang tidak terpuji lainnya. Mohon untuk  kita jauhi semua itu.

Saatnya bangsa ini di waras kan melalui pengajaran dan nasehat  dari semua orang yang di tokoh kan oleh masyarakat, karena bangsa yang waras itu lebih baik dari bangsa yang cerdas.

Kewarasan identik dengan integritas dan kekuatan karakter. Mari kita semua mulai dari diri sendiri, keluarga kembali kepada pembangunan kewarasan menuju kewarasan  kolektif agar menjadi  bangsa yang lebih baik dan tak kalah bermoralnya dari bangsa yang lebih kecil.

Ingat baik baik... Indonesia adalah bangsa yang besar, jauh lebih besar dari negara asean lainnya. Jangan terpatri dalam pikiran bangsa lain bahwa kita besar menjadi terlihat kecil karena moralitasnya masih “kecil”.

Sebaliknya mereka bangsa yang kecil tapi terlihat lebih “besar” karena moralitasnya lebih baik. Pengajaran  yang mewaraskan dan mencerdaskan harus  jadi terpadu. Tak dapat dibantah proses pengajaranlah  yang bisa mewaraskan bangsa.

Bangsa yang waras adalah bangsa yang cerdas namun bangsa yang cerdas belum tentu waras.


Maaf bila ada yang kurang berkenan, tulisan ini semata mata untuk saling mengingatkan ..

by admin.2016

Thursday, 1 December 2016

Pentingnya Mengesakan Allah dalam kehidupan Kita ( keutamaan tauhid )..

Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, :

“Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

“Ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban (memberikan sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut.

Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah.” Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.”

Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan.

Karena sebab itulah, ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya lagi, “Berkorbanlah.” Ia menjawab, “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.”

Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah, ia masuk surga.”

Semoga kisah di atas membuat kita semakin paham akan bahaya syirik dan pentingnya mengesakan Allah dalam ibadah ( keutamaan tauhid )..

Tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam, tentu harus ditinggalkan apalagi jika sampai membuat Allah murka dan membuat kita terjerumus dalam neraka.

Subhanalloh, semoga kita terhindar dari segala keraguan dalam memahami dan meyakini agama Islam yang mulia ini.

Monday, 28 November 2016

GLOBALISASI DAN KETIDAK SABARAN

Kalau kita hidup di Jakarta atau wilayah jabodetabek, gak usah heran kalau masalah macet di jalan takkan pernah tuntas walau udah berkali-kali ganti Presiden, Gubernur atau Bupati, kita masih ngeliat tu orang masuk kereta desak-desakan. Motor di jalanan semrawut gak karuan.

Soalnya orang Jakarta atau jabodetabek gak bisa liat ada celah dikit, pasti langsung disikat. Namanya juga Jakarta, se-jago apapun pimpinan daerahnya  tetep aja kekal macet, selama persaingan masih jadi budaya, gak akan ada celah yang gak disikat. Keras ..emang !!..dan sekarang penyakit gak sabaran ini sudah menulari kota kota seluruh  Indonesia...

Bayangkan setiap hari baik itu berangkat kerja atau urusan apa saja anda berhadapan dengan beribu-ribu orang yang juga sibuk dengan urusannya masing-masing dan berusaha untuk mencapainya tepat waktu. Mereka main senggol, menyerobot,  tidak pedulikan orang lain, tidak pedulikan lampu merah, wuuiiiihhh edannya lagi..dari arah yang berlawanan seorang pengendara motor dan angkot (musuh utama bagi setiap pengendara motor & mobil)  saling bahu membahu seperti tidak mau kalah  berpacu (mungkin angkotnya merasa tertantang, saya gak tahu deh.....hahaha).

Gak Sabar, kenapa begitu yaa? Entah karena stress melihat orang-orang gak mau mengalah alias antri atau karena faktor mental kalee ya? Timbulnya sifat individualistis selalu kita temui yang jelas (hampir) dari kita semua termasuk ane juga ..telah menjadi bangsa yang paling tidak sabaran!!! ...karena sifat egoistis di kepala akhirnya timbul stress dan gak heran emang dalam keadaan seperti itu semua orang jadi gampang marah...lalu marah merebak gak cuma ada di diri sendiri tapi sudah meluas ke segala bidang kehidupan...!! Gak dapet duit marah, gak menang ya marah doong, gak dilayani juga marah, gak di segerakan tuntutannya juga marah, berdiskusi apalagi berdebat juga marah...saking marahnya eeehh malah ngajak temen buat naikin level kemarahannya...biar semua orang di dunia ini tahu kalau marah itu sebuah solusi cepat mencapai keinginan...!!!

Bicara soal solusi cepat, jadi inget semboyan ‘Revolusi Mental’, saya tergelitik sekaligus gerah mendengarnya karena kata revolusi mengingatkan kondisi horor..tapi emang itu ada benarnya juga sih. Mental orang Indonesia harus segera di revolusi, kayak mental jorok, gak tertib hukum, serba instan, dan mental mata duitan kayak korupsi, pungli dan sejenisnya lalu ada lagi mental suka berkhayal alias pake narkoba, sekali lagi revolusi itu merubah keadaan secara cepat. Jadi perubahan mental mulai dari pemimpinnya sampe warga itu harus berubah jika ingin negara ini kuat dan mampu mendorong negara jadi lebih maju dan bermartabat. 

Ingatlah bahwa, kita saat ini sudah berada dalam zamannya globalisasi lho, saya kutip fenomena globalisasi dari buku Budiyanto, Pendidikan Kewarganegaraan, penerbit Erlangga bahwa; semua proses kehidupan sudah tak nampak batas yang mengikat secara nyata dikarenakan teknologi informasi dan komunikasi yang mengakibatkan  terjadinya proses;

Arus etnis ditandai dengan mobilitas manusia yang tinggi dalam bentuk imigran, turis, pengungsi, tenaga kerja, dan pendatang. Arus manusia ini telah melewati batas–batas teritorial negara.

Contoh masuknya tenaga kerja dari Tiongkok, Maroko, Nigeria, Amerika, dan lain sebagainya, jadi gak ada lagi kata "takut atau kata mengusir orang asing" tapi kita harus siap bersaing dan pemerintah pun siap mengelola dan membuat peraturan hukum yang melindungi kesejahteraan bangsa.

Arus teknologi ditandai dengan mobilitas teknologi, munculnya multinational corporation dan transnational corporation yang kegiatannya dapat menembus batas–batas negara.

Arus keuangan yang ditandai dengan makin tingginya mobilitas modal, investasi, pembelian melalui internet, dan penyimpanan uang di bank asing.

Arus media yang ditandai dengan makin kuatnya mobilitas informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik. Berbagai peristiwa di belahan dunia seakan-akan berada di hadapan kita karena cepatnya transfer informasi.

Arus ide yang ditandai dengan makin derasnya nilai baru yang masuk ke suatu negara. Dalam arus ide ini muncul isu-isu yang telah menjadi bagian dari masyarakat internasional. Isu-isu ini merupakan isu internasional yang tidak hanya berlaku di suatu wilayah nasional negara. (Budiyanto 150 – 151:2007) Buku;  Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Erlangga

Banyak hal yang akan terjadi dalam proses globalisasi, dari yang negatif sampe hal hal positif yang bisa dilakukan dan tentunya lebih bermanfaat. seperti berkarya dan berinovasi untuk menciptakan teknologi tepat guna sangat mungkin dilakukan, banyak potensi masyarakat  Indonesia yang mampu menciptakan teknologi atau cara mencari alternatif baru yang sangat berguna dalam bidang apapun, tentu kita berharap pemerintah mendukung masyarakat baik itu peraturan maupun memberi dukungan nyata dalam fasilitas usaha serta  teknologi tidak sebatas bentuk fisik saja.

Dan yang paling penting lagi nih, menghadapi globalisasi harus bisa  merubah pola pikir agar bisa mengimbangi pengaruh kekuatan budaya bangsa lain akibat dari arus globalisasi, kita harus bisa menguasainya atau justru kita yang akan dikendalikan. 

Kita kendalikan arus globalisasi itu dengan cara memahaminya, menganalisa nya, baru kita memanfaatkannya untuk melakukan hal positif, berkarya dan ber-inovasi dalam bidang teknologi misalnya, adalah salah satu contoh memanfaatkan arus globalisasi dan menggunakannya untuk meningkatkan potensi diri, selain berguna untuk diri sendiri, kita bisa memanfaatkan teknologi informasi ini untuk turut berperan melestarikan budaya nasional melalui media teknologi, memanfaatkan internet untuk meningkatkan potensi produk lokal agar bisa lebih dikenal, dan menciptakan berbagai teknologi atau aplikasi tepat guna untuk membantu proses perkembangan bangsa Indonesia ke depannya.

Akhirnya, dari berbagai fakta yang ada bahwa kita semua dimulai dari lingkungan keluarga "hukumnya wajib" untuk menjaga nilai nilai agama, ideologi negara dan budaya bangsa menjadi wujud JATI DIRI MANUSIA INDONESIA.

Selamat berjuang dan berkompetisi dalam kesabaran untuk menghadapi tantangan di era globalisasi. 


"Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan" 
- Soetan Syahril (5 Maret 1909 - 9 April 1966) -

By: Adm