Sunday, 2 August 2015

Life for Me

Hidup adalah Proses, Hidup adalah Belajar tanpa ada batas Umur tanpa ada kata Tua


Jatuh, berdiri lagi..Kalah, mencoba lagi..Gagal, bangkit kembali...



"NEVER GIVE UP".....Sampai TUHAN berkata : "WAKTUNYA PULANG"


Jika aku bisa jadi bagian dari dirimu..aku mau jadi air matamu,  yang tersimpan di hatimu, lahir dari matamu, hidup di pipimu, dan mati di bibirmu . 



Yakin sudah cukup mengetahui ? Atau masih penasaran untuk lagi ? 



Love isn’t hopeless. 



Dibutuhkan kesabaran hati dalam menempuh waktu untuk merubah kegalauan menjadi 


kemenangan. 


We never grow up. Cause the night is young. 



Pahami dulu sebelum menilai.



Only know you love her when you let her go. 



 Cinta itu makan. Dan menikmatinya pelan-pelan. 



Imperfections create character. 



Ikhlas berawal dari bagaimana kita bisa belajar untuk menerima perubahan hidup.



Like. Comes after being polite.


Cinta dan renjana. Selalu indah untuk menjadi sebuah cerita. 



Sometimes the best way to help someone is just to be near them. 



It’s just a matter of time until you can learn to trust again. 



If I lose myself tonight. It’ll be by your side.



Tiada lagi yang kuharap hanya kau seorang.



If you can’t forget them. Try erasing ‘em. 



Kita. Takkan menyerah. Kita. Takkan kalah. 



Imitation is the sincerest form of television.



Cinta itu seperti balon. Mesti ada usaha untuk membentuknya. 



Just give me one more chance to make it right



If we make each other happy then we just can’t lose. 



You ain’t ever gonna burn my heart out. 



Kalau dengan Bahasa Indonesia tidak bisa juga. Barangkali  pake  Bahasa Bulan. 

Arti kata lain dari Bahasa Cinta. 



What’s STOPPING you? (That’s right, NOTHING!)



Di dalam jiwa yang sehat. Terdapat cinta yang kuat. 



I believe that we never have to be alone



I’ll wait here for you. For I’m broken. 



Feel it in your mind. See it through your heart. 



Cinta itu kaya maling. Dateng enggak di-undang, pergi-nya meninggalkan kesan. 



Love is when someone that you love, accept your imperfections perfectly.



Loving you is like breathing, how can I stop? 



My love for you is a journey. Starting at forever and it ends at never. 



Ever lost and captured by your smile. 



There are far better things ahead than any we leave behind. 



When the wheels touch ground. And you feel like it’s all over. There’s another round for you. 



Mungkin aku tidak mengatakannya. Tapi aku yakin hati ini merasakannya. 



You’re gonna miss me when I’m gone. 


Kaku tak banyak bicara. Karena aku sedang banyak merasa.


Let me love you with all that I’ve got. 


Tak ada salahnya dengan menjadi biasa. Biasa berarti bisa menerima diri apa adanya.Karena cinta yang sebenar-benarnya cinta, tidak pernah memberikanmu ketakutan. Cinta selalu berikanmu keberanian. 

by ; HG2015, geryshafira,weebly.

Friday, 31 July 2015

Masih kah ada semangat Ramadhan di hati kita ??

Terasa masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu yang lalu di bulan ramadhan itu kaum muslimin sibuk beraktifitas beribadah. Betapa syahdunya kegiatan menyantap buka puasa, lalu membaca alquran dan betapa indahnya terasa malam malam yang terasa hidup dalam lantunan zikir dan istighfar  dari mulut kaum muslimin  di mesjid itu.

Ramadhan datang seperti hujan musiman kemudian berlalu, hujan yang menyirami hati orang yang beriman .Ramadhan membawa hujan yang menyirami hati yang kering karena kemarau. Ramadhan mengipasi percikan api amal yang mulai padam. Ramadhan membangunkan semangat  ibadah kita yang mulai layu. Ramadhan memupuk kesabaran lalu menumbuhkan kepedulian untuk yang kurang beruntung....

Ramadhan telah usai, sekarang mau kemana dan harus apa?? Apakah kita akan kembali berjalan mundur lagikah?? Apakah semua latihan menahan diri itu setelah kita lewati akan di bebaskan sebebas bebasnya ??? Seperti mendapat semangat baru untuk terlibat kembali keperbuatan transaksi riba atau korupsi. Akankah semangat bersedekah, berbagi, belas kasih, kesabaran empati terhadap sesama masih terlihat cerah hingga ramadhan berikutnya?? Atau tlah redup dan lenyap terengut.

Kini waktu telah berlalu, yang datang pasti akan berlalu, ada awal ada akhir. Bagi yang mengisinya dengan amalan ketaatan hendaknya bersyukur  dan yang tlah menyia-nyiakan hendaklah menyesali dan bertaubat segera. Syariat puasa tetap di perintahkan di luar ramadhan. Nabi bersabda: Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka seolah olah puasa dia setahun penuh (HR>Muslim), lalu jika berpuasa tiga hari dalam setiap bulan hijriah serta ramadhan ke ramadhan, semua itu seolah olah berpuasa setahun penuh.(HR>Muslim).

Berakhirnya bulan Ramadhan bukan berarti berakhir aktifitas ibadah kita, kita selalu bersemangat dalam mengisi hari hari kita dengan selalu beribadah kepada Allah. Amalan tak pernah berakhir sebelum maut datang menjemput.

Sebaiknya ramadhan menjadi dapat meng-upgrade kualitas iman setiap pribadi menjadi lebih baik dalam kehidupan kita. Ibarat kata “janganlah kita menjadi hamba Ramadhani tapi jadilah hamba Rabbani“ Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya, maksudnya adalah mengerjakan kebaikan  maka dilanjutkan dengan kebaikan yang lain, jangan pernah merasa sudah cukup amal tapi harus istiqomah dalam beramal sepanjang hayat di kandung badan. Seharusnya sasaran hidup yang kita idamkan itu TAKWA. Nabi bersaabda “amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berketerusan walau itu sedikit “.

Semoga semangat ramadhan masih ada dihati kita dan semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada kita semua  agar dalam ibadah selepas ramadhan selalu dalam pertolongan Allah hendaknya. Aamii!!

By: HZ

Thursday, 30 July 2015

Ngomongin tentang kesan

Ngomongin tentang kesan, aku jadi kepengen nulis banget , soal "kesan" kita terhadap orang lain! Hehhehe... Sering kubaca dan kudengar dari banyak komen dan pendapat orang khususnya yang lagi ngerumpi  di medsos atau omongan langsung, mereka ngomongin soal apa saja..apalagi yang seru itu isu kinerja pejabat di negara ini. Kadang terkesan menjudge tanpa  dasar dan alasan untuk dibedah secara  akurat...bagi aku yaah..terus terang gak fair juga tapi memang sejak demokrasi sudah jadi icon kita maka soal beda pendapat dah jadi trend dalam keseharian kita semua..dan maaf aku bukan menjadi pembela yang pro atau gak pro...sebab semuanya kita punya hak bicara kok..malah kadang suka asal bicara alias omdong..

Yaaah, bicara soal yang satu ini pasti semua orang pernah punya kesan atau prasangka ketika bertemu orang baru atau udah lama tapi baru ketemu, sama aja sih hahaha..intinya baru ketemu, itu pokok intinya.. Oke, kesan itu apa? Kesan itu adalah penilaian awal yang kita liat tapi spesifikasi kesan penilaian itu tergantung dari cara orang yang merasakannya sendiri.



Lalu ada juga mendefenisikan kesan itu berupa pandangan, prasangka atau anggapan sebut saja “persepsi”. Jadi, pada dasarnya cara seseorang meng-interprestasikan dan memberi nilai yang didapat dari pengamatannya terhadap sesuatu peristiwa, dan situasi. 

Persepsi atau anggapan tak selalu benar dan tidak harus sama dengan kenyataan. Dua orang bisa mempunyai persepsi atau anggapan yang berbeda atas obyek yang sama. Masyarakat punya persepsi sendiri tentang cara pandang kehidupan masyarakat yang lainnya.
Mengapa kita suka sama persepsi alias berprasangka, walaupun kita tahu persepsi tidak selalu sama dengan realita. Karena fitrahnya manusia itu lebih banyak didasarkan atas prasangka realita bukan atas dasar realita itu sendiri. Mengapa demikian? Karena hal ini lebih banyak berhubungan dengan fungsi otak. Kita mengenal fungsi otak sadar dan fungsi otak bawah sadar. Otak sadar berfungsi me-respon masa kini, segala sesuatu yang sedang kita hadapi saat ini. Kita haus ingin minum, kita lapar cari makanan, bermain golf, berenang mengerjakan soal ujian, semuanya ini fungsi dari otak sadar. Logika, akal dan analisa sangat berperan dalam proses otak sadar.
Otak bawah sadar sangat dipengaruhi masa lalu, seperti: Kesan (yang lagi dibahas), pengalaman, cerita, kata orang, mitos, legenda, trauma dan persepsi. Tindakan manusia dibawah pengaruh otak bawah sadar adalah melakukan pilihan atas dasar pengalaman, kesan, dan cerita masa lalu serta persepsi yang berkembang waktu itu. Logika dan akal pikiran tidak berperan lagi dalam proses bawah sadar.
Jadi mudah dimengerti kalau perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi alias kesan. Dalam menilai seseorang, konsekuensinya timbul distorsi atau kurang tepatnya penilaian bisa terjadi. Jadi penyebab distorsi penilaian tersebut  karena latar belakang yang berbeda akan punya kesan yang sama dengan kacamata yang berbeda. Orang yang sama akan dinilai dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya kalau profesi aku seorang wartawan yang latar belakangnya ilmu hukum pastinya aku melihat satu masalah bagi orang lain akan terkesan membahasnya pada persoalan hukum saja.
Kesan yang didasari stereotipe ini suka menyamakan penilaian atas dasar karakteristik seseorang, asal usul kelompok, suku,, profesi  atau jabatan, ini yang sering terjadi. Pasti semua orang mungkin selalu kejebak sama kesan awal kan?  Awal selalu beda dengan akhir.
Kesan awal pasti banyak yang kelihatan polos dan terlihat baik, tapi ketika kita sudah kenal orang itu agak lama, sejuta kenegatifan muncul perlahan atau bahkan ada yang drastis muncul semua negatifnya,

Intinya, lebih berhati hati dalam menilai orang, membuat kesan awal  itu bisa disetting dan kita mungkin butuh waktu buat bedain yang memang dia begitu atau gak??


Jadi kesimpulannya, 
Pertama: Nilai persepsi alias kesan itu sangat mempengaruhi hidup kita sehari-hari. Banyak sekali pilihan-pilihan yang kita lakukan didalam hidup ini dipengaruhi oleh “kesan” dari nilai orang lain. 
Kedua: Nilai persepsi atau anggapan yang berkembang di masyarakat memang sulit dirubah, walau kenyataan bisa menunjukkan hal yang sebaliknya.
Persepsi dan personal judgment (menilai seseorang) dengan segala kelebihan dan kekurangan harusnya dipakai dalam penilaian yang didasarkan pada ukuran-ukuran obyektif. 
Akhirnya anggapan penilaian subyektif sangat mungkin dipengaruhi oleh kesan dan prasangka negatif, dan mengandung banyak distorsi....
Okee, gitu aja dulu...moga ada manfaatnya.


By: YD



Friday, 24 July 2015

Berkah berdagang yang Mabrur itu Membawa Manfaat .

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Salallahu‘alaihi Wa Sallam   , keluarga, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.


Keutamaan perniagaan itu dari do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada setiap penjual dan pembeli yang senantiasa memudahkan orang lain dalam perniagaan nya.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Semoga Allah merahmati seseorang yang bersikap mudah ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih haknya (utangnya).” 
(HR. Bukhari no. 2076)


Perniagaan yang berkah tentu saja bukan dengan asal-asalan dalam berdagang tanpa mengetahui aturan yang berlaku dari Allah dan Rasul-Nya. Sangat mustahil keberkahan itu diraih, namun seseorang yang tidak memahami aturan jual beli dalam syari’at Islam. Tentu saja mesti dipelajari dan dipahami sebelum seseorang terjun ke dunia bisnis ini. Tujuannya adalah agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang dilarang oleh agama.

Sejak masa salaf dahulu (masa keemasan Islam), orang-orang mulia kala itu telah berpesan, "pahami dahulu tentang hal-hal yang dilarang dalam jual beli sebelum berdagang". 

Misalnya, bila seseorang tidak memahami apa itu riba, dia akan menuai bahaya yang besar. ‘Ali bin Abi Tholib mengatakan :

“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.”

Lihatlah pula apa kata ‘Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata,

Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul 
mengenai seluk beluk riba

Intinya di sini, seseorang yang hendak menerjuni dunia bisnis, ia harus mengetahui aturan-aturan yang ada. Hukum asal berbagai bentuk jual beli itu dibolehkan. Oleh karena itu, yang perlu sangat diketahui adalah apa saja bentuk jual beli yang terlarang. Itulah yang menyebabkan dua khulafaurrosyidin yang mulia memerintahkan para pedagang untuk memahami dulu apa itu riba. 

Karena jual beli yang mengandung riba adalah salah satu jual beli yang terlarang. Hal ini mesti dipelajari lebih dulu agar seseorang tidak terjerumus di dalamnya.
Sudah seharusnya setiap pebisnis menjadikan ilmu di depan segala amalnya.
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : 

“Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.”  

Ini berarti jika ingin diberi kebaikan dan keberkahan dalam bisnis, kuasailah berbagai hal yang berkaitan dengan hukum dagang.

Berdagang yang Mabrur itu seharusnya Membawa Manfaat bagi si Penjual - Pembeli. Banyak cara yang ditempuh seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, contohnya berdagang (berniaga). Berdagang itu cara yang efektif untuk dapatkan untung  atau laba. Juga jadi sarana yang dapat mendekatkan seseorang terhadap Tuhannya. Secara riil, berniaga membantu sesama saudara yang butuh barang komoditas.

Berdagang juga pekerjaan yang pernah dijalani  Nabi Muhammad saw. Bersama pamannya beliau berdagang ke negeri Syam untuk menyalurkan barang-barang komoditas dari Makkah.
Transaksi jual-beli alias berdagang  itu ada istilah yang disebut ba’i dan tijarah. 
  • Ba’i itu tukar menukar barang dengan yang lain sebatas memenuhi kebutuhan tidak mencari keuntungan atau laba. 
  • Tijarah itu lebih menitikberatkan pada hasil atau laba. 

Kedua hal ini memiliki satu tujuan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan.

Perniagaan itu ,masuk dalam usaha yang baik khususnya didalam proses jual belinya ..Jual beli yang dimaksudkan tentu saja jual beli yang tidak mengandung unsur penipuan atau yang  merugikan salah satu dari kedua belah pihak yang bertransaksi. Dalam arti, sama-sama rela tanpa ada unsur keterpaksaan dalam bertransaksi. Namun, terkadang seseorang lupa akan etika jual-beli, sehingga memiliki kecenderungan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan pihak konsumen (pembeli).

Padahal tujuan jual-beli sesungguhnya bukan semata-mata murni mencari keuntungan atau laba, namun juga membantu saudara yang sedang membutuhkan. Meraup keuntungan sebesar-besarnya akan berdampak pada kecenderungan pedagang untuk berbuat negatif serta berbohong, menipu, memanipulasi, malah mengucapkan sumpah palsu untuk meyakinkan pembelinya , ambil kesempatan dalam kesempitan, dan lain-lain modus . 
Nabi Muhammad SAW. bersabda :

“Pedagang itu (harus) jujur dan terpercaya”
.
Dalam kesempatan yang lain, Sahabat bertanya pada Nabi saw. perihal usaha yang baik untuk dikerjakan, sebagaimana dalam haditsnya :

 “Usaha apakah yang paling baik, Nabi menjawab: Pekerjaan seseorang dengan tangannya (jerih payahnya) dan tiap-tiap jual beli yang mabrur.”

Mabrur (diberkahi) maksudnya adalah jual beli yang terbebas dari penipuan dan kecurangan. Termasuk dalam kriteria curang adalah melakukan sumpah palsu untuk menarik perhatian konsumen. Tak heran, bila Islam melarang praktik penawaran untuk mengecoh minat konsumen dan lain sebagainya yang berpotensi merugikan pembeli. Kecenderungan untuk mengambil laba setinggi mungkin itu banyak  dilakukan oleh umat islam pada momen-momen semisal hari raya ‘idul fitri, tahun baru, hari natal, dan seremonial yang lain seperti halnya acara  pengajian, konser, dan lain-lain. Pada momen seperti ini, para penjual dengan berbagai alasan serta modus, menaikkan harga barang tanpa kenal kompromi. Kita semua sudah merasakan kegiatan perdagangan yang tidak sehat ini dan diluar batas logika. 

Hampir di seluruh kota di Indonesia ini kezholiman sering terjadi dan mengganggu kehidupan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya disamping permasalahan sosial masyarakat lainnya (korupsi, red). Tak ayal, para konsumen pun banyak yang mengeluh dan terkecoh tanpa bisa membela hak nya untuk menawar, justru hanya bisa mengurut dada kesal . yang sangat disayangkan pelakunya (pedagang) itu beragama Islam. Pernahkah si penjual ini ingat bahwa doa orang yang teraniaya atau di zholimi di kabulkan AllAh ??. .Nauzubillah...!!.

Bicara soal laba atau keuntungan, maksudnya adalah hasil yang diusahakan melebihi dari nilai harga barang. Keuntungan yang berkah (baik) itu adalah keuntungan yang tidak melebihi sepertiga harga modal.

Lalu penetapan laba harus memperhatikan pelaku usaha dan pembeli. Oleh karena itu, pelaku usaha boleh menambah laba yang akan berakibat makin tingginya harga. Sedangkan pembeli juga diperkenankan untuk membayar lebih dari harga barang yang dibelinya. Yang perlu diingat, bahwa tidak boleh mengambil keuntungan yang terlalu besar. Ibnu Arabi, Ahkam al-Qur’an, Bairut: Dar al-Fikr, juz I, h. 408-409 , Beliau mengkategorikan hal tersebut dengan orang yang makan harta orang lain dengan jalan yang tidak benar, di samping itu juga masuk dalam kategori penipuan. Karena dalam pandangan beliau, hal itu bukanlah tabarru’ (pemberian sukarela) juga bukan mu’awadhah (tukar-menukar), karena pada biasanya dalam mu’awadhah tidak sampai mengambil laba terlalu besar.

Dalam pandangan Imam Malik bin Anas, pelaku usaha atau pedagang pasar tidak boleh menjual barangnya di atas harga pasaran. Mengingat, mereka juga harus memperhatikan kemaslahatan para pembeli. Sedangkan menjual barang dengan harga di atas harga pasaran (normal) akan mengabaikan kemaslahatan pembeli. Bahkan, dalam hal ini beliau memberikan peringatan dengan sangat tegas. Kalau sekiranya ada pedagang (di pasar) menjual di luar harga pasaran, maka harus dikeluarkan dari pasar tersebut. 

Sebagian ulama dari kalangan Malikiyyah membatasi maksimal pengambilan laba tidak boleh melebihi sepertiga dari modal. Mereka menyamakan dengan harta wasiat, di mana Syar’i membatasi hanya sepertiga dalam hal wasiat. Sebab wasiat yang melebihi batas tersebut akan merugikan ahli waris yang lain. Begitu pula laba yang berlebihan akan merugikan para konsumen (pembeli). Oleh sebab itu, laba tertinggi tidak boleh melebihi dari sepertiga. 

Islam memang tidak memberikan standarisasi pasti terkait pengambilan laba dalam jual beli. Kendatipun begitu, sepantasnya ( etika ) bagi seorang muslim untuk tidak mendholimi sesama muslim yang lain dengan mengambil keuntungan terlalu besar.

Harga yang sangat mahal karena keuntungan yang diambil sangat besar tentu sangat memberatkan kepada pihak pembeli. Dalam hal ini, tidak akan ada istilah "tolong menolong" yang dinasehatkan dalam Al-Quran dan Hadist . Islam tidak melarang untuk mengambil keuntungan, namun dalam batas kewajaran tentu saja Mabrur.

Sebagai ummat islam, contohlah  perniagaan  yang dilakukan Nabi, di mana beliau selalu menyebutkan harga pokok barang agar konsumen (pembeli) tidak merasa rugi dan dipermainkan dengan harga.

Dengan demikian, berdagang yang mabrur itu hakikatnya tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Toh, pembeli juga rela dengan laba yang diambil pihak penjual asalkan sewajarnya dan tidak lupa saling tolong menolong buat sesama untuk mendapatkan pahala yang diridhoi Allah . Semoga Allah selalu mendatangkan keberkahan bagi usaha,upaya dan setiap langkah kita untuk menggapai ridho-Nya...Amiiiin.


[1] Muhammad Syattha al-Dimyati, I’anah al-Thalibin, Bairut: Dar al-Fikr,  juz II, h. 355.
[2]  Wahbah al-Zuhaili, Al-Mu’amalat al-Mu’ashirah, Bairut: Dar al-Fikr, h. 139.
[3]  Ibnu Arabi, Ahkam al-Qur’an, Bairut: Dar al-Fikr, juz I, h. 408-409.
[4]  An-Nawawi,  Al-Majmu’, Maktabah Syamilah, juz XIII, h. 34-35.
[5]  Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Bairut: Dar al-Fikr, juz V, h. 307.

Referensi dari (eL-Kafi.net, img: tribunnews)- cyberdakwah.com/2014/09/etika

Wednesday, 22 July 2015

Berpisah dengan Ramadhan....

Berbicara mengenai perpisahan, siapa pun tentu tak ingin hal ini terjadi pada Anda maupun orang-orang di sekitar Anda. Siapa pun tentu percaya dan merasakan bahwa perpisahan merupakan momen yang cukup bahkan sangat berat untuk dijalani. Tidak jarang, karena sebuah perpisahan, seseorang akan meneteskan air mata dan merasa sesak serta kesedihan mendalam. 


Jika biasanya perpisahan menyebabkan air mata secara tak sengaja mengalir deras, sesekali perpisahan juga membuat seseorang tersenyum tulus untuk melepas orang yang disayangi dimana orang tersebut pernah ada di saat kita masih belom mengerti tentang kehidupan  dan selalu ada dalam kesehariannya. Karena adanya perpisahan, rasa saling memiliki dan rasa rindu yang ada di dalam diri pun bisa tumbuh semakin kuat. 

Dari sharing dengan beberapa teman dan juga dari pengalaman pribadi, rupanya ada fakta menarik di balik sedihnya sebuah perpisahan. Meskipun fakta ini jarang disadari, namun fakta ini benar adanya. Seperti disaat ramadhan berakhir, esoknya 1 syawal tlah datang mengawali hidup baru sudah dihadapan kita, maka kita merasakan adanya  momen saling memaafkan juga berterima kasih dan berdoa  satu dengan yang lain. Seperti dua kata  yang mungkin sangat sederhana ini mampu menguatkan satu orang dengan lainnya yang berada di momen perpisahan. Jika dibandingkan dengan selamat tinggal, sampai jumpa nampaknya harapan dalam doa-doa dan mengumandangkan takbir mampu membuat seseorang yang ada di momen perpisahan menjadi lebih kuat, lebih optimis dan lebih bisa memaknai arti pertemuan sebelumnya yakni awal ramadhan.



Perlu kita sadari, saling memaafkan dan berterima kasih akan lahir secara spontan saat seseorang berada di momen perpisahan di awal syawal itu. Semoga Ramadhan esok dapat kita raih lagi....karena ada rasa bahagia didapat ketika bibir ini masih bisa melantunkan ayat-ayat suci, dan  masih diberi kesempatan menjumpai bulan Ramadan ini. Tentang hal apa saja yang telah dilakukan selama Ramadhan ini. Agar kita tidak lagi menyia-nyiakan Ramadhan nanti jika  masih diberi kesempatan. 

Sungguh keberkahan yang luar biasa pada Ramadhan kali ini, maka tidak aneh jika seseorang berdoa “Ya Allah, sampaikanlah aku pada Ramadhan berikutnya”. Karena memang tiap Ramadhan memiliki keberkahan yang macam-macam disamping keutamaan-keutamaan pahala yang telah disebutkan Nabi Muhammad SAW. Sudah terlambat kah menyadari perginya Ramadhan? Tidak, dan berdo’alah agar Sang Pemberi Kesempatan memberikan kesempatan kepadamu untuk bertemu Ramadhan tahun depan. 

Aamiin…

Hidup yang lebih berdaya tahan

Hidup memang tak selalu bisa sesuai dengan harapan kita. Suatu saat kita harus merasakan penderitaan yang sangat  menyedihkan. Sekali waktu kita akan merasakan sakit dan pedihnya hidup ini. Kita pun bisa juga mengalami kegagalan dan jatuh di saat yang tak terduga.

Ada yang bilang kalau hidup itu bagaikan roda. Kadang ada di atas, tapi bisa juga ada di bawah. Kalau mau bisa terus berjalan, roda yaaa harus terus berputar dong... Kalau roda gak berputar, kita pun gak akan bisa mencapai apa-apa atau malah mampet alias gak kesampaian di tujuan kita.

Agar hidup kita bisa memiliki  masa depan yang lebih baik, kita harus berproses untuk terus berputar. Kita harus rela ada di bawah, sebelum akhirnya bisa ada di puncak. Untuk bisa menuju kembali ke puncak yang baru, kita harus berputar lagi. Terus begitu, terus ..terus..teruuus berputar setiap waktu.

Kayaknya kita baru bisa merasakan kenikmatan dan mensyukuri kebahagiaan setelah kita mengalami penderitaan...why?? Agar bisa tetap rendah hati ketika mencapai sesuatu yang besar, sudah hukum alam kayaknya kita harus jatuh bangun melewati berbagai macam hambatan.

Coba lihat  matahari  deh...gak pernah tuh..ada terus di atas kepala kita. Matahari  juga harus terbenam ketika sudah waktunya. Baru keesokan harinya, kembali bangkit dan menyinari kita. Matahari berputar, bumi juga berputar, hidup kita pun secara alami ikut mutar jugaaa...

Mulai saat ini mending kita syukuri aja. Terima dengan lapang dada semua hal yang telah kita peroleh sampai  detik ini. Agar nantinya ketika hidup kita udah lebih baik, dan bisa benar-benar menjaganya dan gak mudah goyah dengan hambatan atau masalah terbaru.

Jika hidup saat ini terasa berat, bersyukur ajalah, karena itu tandanya kita sedang di uji untuk menerima sesuatu yang lebih besar sesuai kesanggupan. Dan  sedang ditempa untuk menjadi sosok yang lebih kuat lagi. Kalau  saat ini segala sesuatunya terasa gak berjalan sesuai dengan keinginan, ambil hikmahnya deh... dan jadikan lecutan untuk memacu diri lebih bersemangat  lagi. Dalam arti hidup yang lebih berdaya tahan ...tentunya.



Monday, 20 July 2015

Kebenaran Kontekstual, Identifikasi Keinginan (Will) dan Hawa Nafsu (Passion)...

Saya menulis sebuah status :

“Kadang sesuatu yang dianggap benar oleh orang lain, terasa tidak benar untuk kita. Pun sebaliknya yang kita anggap benar, terasa salah untuk orang lain. Kalau sudah seperti ini bagaimana untuk menentukan siapa yang benar...??? 


Saya meyakini kebenaran mutlak hanya ada di kitab suci, sedang setiap manusia punya keleluasaan memilih kebenaran yang paling sesuai dengan intepretasi dan perspektifnya tanpa harus mempertanyakan kebenaran siapa paling benar. 



Kebenaran sejati untuk kita adalah yang memenuhi syarat: dipahami akal, diyakini hati dan disetujui jiwa. Kebenaran yang mengejawantah pada gilirannya haruslah dapat menciptakan kebiasaan, perilaku dan gaya hidup yang baik dan membawa kebaikan. 


Menyadari bahwa kita dan manusia lain tidak akan pernah mengorbit di existence track yang sama, karena sesungguhnya manusia tidak ada yang kongruen satu samalain. Maka kita boleh belajar dari kebenaran orang lain dan membiasakan diri untuk mampu saling mengingatkan dan menguatkan. Namun tetap memberi ruang pada diri sendiri dan siapapun untuk terus berkembang menjadikan pribadi sejati yang tumbuh semakin baik.”




Sebagaimana prediksi, status ini segera mengundang uraian Kebenaran Tekstual dari Kitab Suci di boks komentarnya:

“Kebenaran itu hanya yang datang dari Tuhan ( QS. AlBaqarah: 184 & Ali Imran: 60),  

bukan berdasarkan keinginan/hawa nafsu masing-masing (QS. AlMaidah: 48).  
Oleh karena itu kebenaran akal, hati, jiwa bersifat relatif tidak dapat diikuti jika bertentangan dengan kebenaran yang mutlak dari Pemilik kebenaran…”




Maka saya pun memberanikan diri melakukan penjabaran, tentang pentingnya meyakini kebenaran akal, hati dan jiwa dalam menemukan kebenaran kontekstuald alam kehidupan yang tengah kita jalani. Agar kebenaran tekstual yang sebetulnya tak terbantahkan dapat benar-benar terinternalisasi dalam kehidupan. Bukan hanya menjadi slogan yang kian hari semakin terdengar klise tergerus masa karena terbatasnya upaya internalisasi dan serbuan doktrinasi yang tujuannya mengkonstelasi belenggu rasa ‘takut salah’ secara tidak proporsional demi melestarikan paham tertentu.


Kebenaran akal, hati, dan jiwa memang relatif karena sangat kontekstual di kehidupan manusia yang tercipta dengan segala kreativitas Maha KaryaNya.  Tetapi, jika saja ketiga modal inner strength manusia ini bersepakat akan sebuah kebenaran maka biasanya jika dicari dengan teliti akan ditemukan sumber hakiki kebenarannya di Kitab Suci. Karena pada dasarnya Nurani yang bersemayam di Jiwa kita tak kan pernah sependapat dengan akal dan hati, jika kebenaran yang diikuti Naluri bertentangan dengan kebenaran hakiki. Meskipun Nurani tak selamanya menang atas Naluri dalam setiap situasi yang dialami manusia, namun di akhir kisah saat kebeningan datang Nurani akan kembali menggandeng Naluri untukmencari jalan menuju kebenaran yang hakiki. Saat itulah kebenaran tekstual terinternalisasi dalam satu kebenaran kontekstual yang akan selamanya menjadi pegangan manusia yang berhasil memahaminya.


Been There, Done That... So many time... 



Kebenaran hakiki akan senantiasa mengajak kita kembali, perjalanan menuju kebenaran hakiki memuat pelajaran yang sangat berharga. Lebih dari jika kita hanya mengikuti kebenaran yang ditemukan, dianut dan dibicarakan orang lain. Karena sejatinya secara fitrah setiap jiwa berkoneksi dengan 'Source'nya, Sang Pemilik Kebenaran. Hanya kualitas koneksi itu yang tak selamanya bebas hambatan tanpa batas. Sesungguhnya, mendengarkan, mengikuti dan memahami kebenaran dalam diri akan mengasah kemampuan kita membeningkan koneksi dengan Sumber Segala Kebenaran.


Bagamaina nasib keinginan (will) dan hawa nafsu (passion)…???


Sesungguhnya keduanya adalah komponen penting yang membangun ‘manusia’ di dalam diri. Karena gairah membangun kehidupan akan terbangkitkan sebagai hasil kolaborasi antara keinginan (will) dan hawa nafsu (passion). Pada tataran yang benar keinginan dan hawa nafsu akan membawa kita pada kualitas hidup yang optimal. Mengapa manusia mudah dibuat begitu takut pada keinginan dan hawa nafsunya sendiri. 



Sedang Allah menciptakan keinginan dan hawa nafsu dalam Naluri sebagai pemandu kita mencapai kualitas hidup yang semakin baik. Maha Benar Allah pun melengkapi ‘manusia’ di dalam diri dengan Nurani untuk memastikan kita tetap terkoneksi dengan The Source. Allah pun mengharuskan setiap hambanya untuk menjalankan ritual yang kan menghindarkan kita dari perbuatan keji dan mungkar. Allah pun melengkapi kita dengan demikian banyak bacaan dan doa yang kan menjauhkan kita dari kesia-siaan.



Pernahkah kita membayangkan hidup tanpa adanya keinginan dan hawa nafsu…???



Menahan keinginan dan hawa nafsu yang membangun atas dasar 'takut' pada Allah akan menjauhkan kita dari membangkitkan gairah membangun kehidupan lewat menemukan kesejatian peran.  Sesungguhnya kita perlu takut pada Allah karena menutup mata dan telinga dari Naluri yang diberikanNya pada fitrah kita sebagai manusia, sama takutnya dengan jika kita terbawa keinginan dan hawa nafsu pada kebutuhan untuk mengumbarnya.



Hidup itu tentang Harmoni. Penting bagi kita menemukan keseimbangan dalam membangun diri demi menempatkan posisi kita sesuai peran sejati. Takdir haruslah kita baca dan terjemahkan, lewat menemukan kebenaran itu di dalam diri. Akal, hati dan jiwa akan membawa kita melalui tempat yang harus kita lewati sebelummencapai tujuan tertinggi. Hukumnya wajib bagi kita untuk senantiasa mengkalibrasi setiap kebenaran yang kita temukan dan yakini dalam perjalanan kehidupan agar tidak bertentangan dengan kebenaran yang hakiki. 



Maha Benar Allah dalam setiap FirmanNya, itu tak terbantahkan. Maka mari sama-sama kita akui Maha Kerdil manusia yang tidak berusaha untuk memahami arti FirmanNya bagi kehidupan di dalam diri kita.  Percaya saja pada apapun kata manusia lain. Sedangkan guru terbaik bukan dia yang menunjukkan jalan kebenaran, melainkan dia yang berhasil mengakomodasi murid-muridnya untuk menemukan kebenaran mereka sendiri. Kebenaran Kitab Suci tidak boleh hanya dimengerti secara tekstual, perlu dilanjutkan dengan analisis kontekstual lewat internalisasi setiap kebenaran. 



Hingga menjadi Khalifah di muka bumi bukan lagi kata-kata klise yang semakin buram maknanya. Kekhalifahan seorang manusia ditentukan dengan kemampuannya menerjemahkan kebenaran dalam mengenali spesifikasi dirinya, yang pada gilirannya menghasilkan kebutuhan untuk berbuat kebaikan di alam semesta sesuai dengan spesifikasi tersebut. Adapun analisis spesifikasi bagi manusia tidak mungkin dilakukan tanpa melibatkan analisis keinginan (will) dan hawa nafsu (passion). Agama, Kitab Suci dan Kebenaran Ilahi sejatinya adalah peta dan kompas untuk menemukan jalan mendaki tujuan akhir. Sedang akal, hati dan jwa adalah GPS yang akan menunjukkan rute yang harus kita tempuh.



Berdasar pengalaman hidup, kebenaran yang kita temukan dari mempelajari kesalahan akan tertanam di dasar hati dan kita terhindar dari kesalahan yang sama. Setiap manusia sejatinya perlu punya keberanian untuk menyatakan kebenaran mereka tanpa perlu bersembunyi di balik kebenaran tekstual di kitab suci. Manusia perlu melakukannya dengan pengetahuan dan pengalaman mereka, dikombinasi dengan anilisis kebenaran ayat-ayat Allah yang bertaburan di semesta menggunakan akal, hati dan jiwa. Hingga bertemu dengan kebenaran kontekstual. Kemudian dilanjutkan dengan membedah dan membandingkan kebenaran kontekstual itu dengan kebenaran tekstual. Barulah manusia akan bisa dengan jelas memahami bagaimana kitab suci sudah memuat setiap prinsip kebenaran yang bertaburan di jagat raya tanpa manusia harus berbantahan tentangnya.



Konsistensi kita pada kebenaran tak boleh lekang tergerus zaman. Kitapun perlu punya keberanian untuk mengakui pada diri bahwa kebenaran yang kita punya memang sangat relatif. Maka jika tiba saatnya kebenaran yang lebih tinggi datang menghampiri kesadaran kita, maka wajib bagi kita untuk mengupgrade kebenaran versi sebelumnya, hingga akhirnya kita mencapai kebenaran hakiki yang tersurat pada kebenaran tekstual di dalam Kitab Suci. Bahkan pemahaman kita atas sebuah teks dalam kitab suci akan berkembang seiring dengan semakin dekatnya kita pada Sumber Kebenaran yang Hakiki. Tanpa melakukan upgrading terus menerus semacam ini, manusia hanya akan bisa bernyanyi tentang kebenaran kitab suci tanpa penghayatan. Karena gagal merasakan seberapa benar kebenaran itu bagi kehidupannya.



Live the life at the most, then make heaven a place on earth... 

Itu tugas manusia...


Semoga…


share from; Arifah Handayani/ facebook.com/notes.  

Tuesday, 14 July 2015

Lebaran Telah Tiba...

Dihari penuh Barokah ini ....


Allahumma taqobbal minna shiyamana, wa qiyamana, wa sujudana, wa tilawatana, wa shodaqona. 
Taqobbalallahu minna wa minkum kullu aamin wa antum bi khoir

Semoga Allah SWT membalas amal ibadah kita-saya dan anda (puasa, sholat malam, sujud, tilawah AL Qur'an, shodaqoh, serta amal kebajikan ) dengan balasan yang baik. 



Dia Sedang Mengajari mu

Saat  yang sangat menyedihkan ketika kamu jujur pada seorang temanmu, namun dia berdusta padamu. Saat dia telah berjanji padamu, lalu dia ingkari. Saat kamu berikan perhatian, dia tak pernah menghargai nya. Namun ada suatu masalah yang sangat mengecewakan ketika  kamu dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan.

Jangan pernah menyesali atas apa yang telah terjadi padamu !! Sebenarnya apa  yang kamu alami itu sedang mengajari mu. Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kamu berikan, sebenarnya dia telah mengajari mu agar kamu tidak berperilaku seperti dia.

Bila kamu dibutuhkan hanya pada saat dia sedang kesulitan sebenarnya juga telah mengajari mu untuk menjadi orang yang arif dan santun, kamu telah membantunya saat dia dalam kesulitan.



Hal yang menyakitkan adalah saat kamu mencintai seseorang dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kamu sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu undangan pernikahannya, sebenarnya hal ini sedang mengajari mu untuk RIDHA menerima takdir-Nya.



Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kamu alami atau bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan. Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak diperdulikan/dicuekin,  atau bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang  tersebut sedang mengajarimu untuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berperilaku seperti itu.



Mungkin ALLAH menginginkan kamu bertemu orang dalam berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kamu bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kamu harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.


Sumber: http://www.facebook.com/notes/razita-sabrina-filzah/mereka-mengajarkan-kita/467782129728

Muhasabah Diri.

“Salah satu nilai tertinggi ibadah puasa, ialah pembebasan manusia dari ketergantungan dunia materi” .
(Abdul Munir Mulkan).

Muhasabah itu introspeksi atau mawas atau meneliti diri. Kembali ke titik nol, merenung sejenak siapa sesungguhnya diri kita yang sebenarnya? Jika kita renungi lalu muncul kebenaran, hal ini dapat menghilangkan penyakit hati, kalau sukses gak sombong dan jumawa, dan kalau gagal juga gak akan menyerah lalu putus asa. Jika kita merenung lebih dalam ( bukan ngelamun lho ), kita akan sadar bahwa kita ini bukanlah siapa-siapa dan tidak pantas menyombongkan diri. Muhasabah gak harus juga dilakukan pada akhir tahun, akhir bulan. Namun perlu juga dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat. Ada baiknya juga sih kita mengevaluasi diri kita masing-masing, sejauh mana telah melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sekiranya sudah melaksanakan, maka hendaknya ditingkatkan lho. Tapi andai belum melaksanakan perintah serta meninggalkan larangan-Nya dan Rasul-Nya, maka harus  sadar (yaqdhah) kemudian bertobat pada Allah.

Melakukan muhasabah ini ada landasannya yakni perintah Allah dalam firman-Nya (QS. al-Hasyr/59:18). yang artinya:

 ''Hai orang-orang yang beriman takwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan''.

Muhasabah itu terbagi umum dan khusus. Contoh bersifat umum dalam arti tentang umur, harta, kesempatan dan waktu, apakah tiga hal itu secara maksimal sudah dipergunakan untuk beribadah kepada Allah dan manfaat bagi orang lain serta masyarakat. Kalo khusus yang pasti rahasia pribadi ...dong !! hehehe..

Sabda Nabi Muhammad  Shalallahu-Alaihi-Wa-sallam:

 ''Raihlah lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk, sehat sebelum sakit, dan hidup sebelum mati''.

Hidup kita di dunia memiliki berbagai fase kehidupan, mulai dari kita di dalam kandungan, bayi, balita, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, Nikah, Uzur atau mungkin kita tidak sempat melalui itu semua. Setiap masa pun memiliki ceritanya masing-masing dan tentu saja setiap masa memiliki tingkatan masalah hidup yang makin kompleks dan beragam, tapi yakin lah semakin berat langkah kita, maka makin tinggi derajat kebahagiaan hidup kita dan makin dekat ke tujuan kita. Ujian diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya dalam rangka untuk melihat kesungguhan hamba-Nya beribadah serta untuk meningkatkan derajat keimanan kita. Kuncinya sabar, walaupun ada waktu untuk berhenti sejenak, itu adalah semata-mata untuk mengevaluasi dan koreksi sejauh mana kita sudah melangkah dan mencapai tujuan kita. 
Terkadang kita sering lalai dalam mengevaluasi diri kita setelah tertimpa masalah/musibah. Kita malah suka mengedepankan emosi serta mencari-cari kesalahan orang lain. Ingatlah bahwa manusia itu tidak pernah luput dari dosa..kecuali Malaikat. Nabi Allah pun tak luput dari ujian masalah.

Setiap kali dalam hidup ini, kita akan memasuki ”zona baru”, otomatis harus disiapkan segala bekal yang kita butuhkan, baik bekal jasmani maupun bekal rohiyah kita, dan yang juga penting bagi kita, minimal sudah memiliki informasi seputar ”zona” tersebut, hingga kita siap hadapi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Hidup itu harus memilih, banyak orang mengatakan begitu, itulah yang harus kita siapkan, siap bekal untuk memilih dan siap bekal untuk menjalaninya. Perjalanan hidup sudah akan dimulai, 11 bulan sudah menanti dihadapan kita, godaan pun siap menghadang kita, semoga kita dapat menjadi orang  yang lebih bertakwa. Aamiin. 

Ramadhan akan meninggalkan kita, sedih rasanya yaa?? Masihkah ada lagi  kasih Ramadhan mendekap diri kita semua??? Esok syawal sudah menanti, saudaraku Iedul Fitri ini hakikatnya bukanlah akhir dari perjuangan, justru titik awal berjuang. Iedul Fitri kita rayakan dengan saling mendoakan dan saling bermaafan itu baru awal..

Kemenangan itu bermakna SABAR, lalu kita rasakan bersama ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, paman, tante, om, bibi, keluarga yang lainnya, serta teman, karib kerabat. Harapan kita semua tentu saja kebahagiaan yang kita rasakan saat di rangkul ramadhan akan selalu bertambah setiap hari serta dari bulan ke bulan berikutnya  yang insyaallah hingga ke ramadhan lagi, walau kita sendiri tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa melalui saat-saat mulia ini bersama ataukah salah satu diantara mereka akan terlebih dahulu meninggalkan kita atau justru mungkin kita yang akan meninggalkan mereka???

Selagi Allah masih memberikan kita kesempatan waktu, mari kita jaga Qolbu atau biasa disebut hati ( bukan liver ). Qolbu manusia itu amatlah rentan berubah, karena di suatu saat ia bisa begitu putih, bersih, sehingga hal-hal yang kita lakukan terlihat begitu baik, soleh, dermawan, de el el, akan tetapi di lain waktu ia bisa begitu kotor, berdebu, hingga perilaku kita terkadang begitu tidak terpuji, begitu tak beradab, jahilliah. Nah karena kita sudah tahu hal itu, apa yang harus kita lakukan agar qolbu atau hati kita ini insyaallah bisa senantiasa dalam kondisi prima? Dan dalam keadaan lemah iman pun setidaknya gak  jatuh ke taraf kafir. Cara yang dianjurkan itu .. senantiasa baca Al-Quran,  selalu berzikir dan istighfar mengingat Allah .

Istighfar itu merupakan kemampuan melakukan instropeksi diri yang disebut dengan 'Muhasabah'. Dengan mengetahui penyebab akar masalah sekaligus kita menemukan solusi dari masalah itu sendiri.  Itulah makna fadhillah (keutamaan) istighfar.

Semoga bermanfaat buat pembaca, khususnya diriku ini.