Tuesday, 12 January 2016

MEMAHAMI KRITIK DAN PUJIAN

Kritik adalah bagian dari kehidupan, kita akan mendapatkannya di setiap tempat, ingat bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, mereka menunjukkan perhatian dengan cara mereka. Meskipun itu sulit, kadang, semua itu juga punya tujuan baik. Intinya: Bersikap bijak dan logis, adalah suatu keharusan dalam menghadapi kritik...
Dalam kehidupan sehari-hari dikritik atau dipuji merupakan hal yang biasa. Kita harus pandai mengintropeksi diri saat orang lain mengkritik dan tahu apa maksud dari kritikannya sebab kalau tidak, kita lebih cenderung pada rasa tidak suka pada kritikannya yang sebenarnya mengandung arti lebih mendorong agar kita berkreatifitas.

Seperti percakapan antara Anak dan Mama di rumah....

Angga : “Ma, hari ini Angga dipuji banyak teman dan bu guru deh”. Dengan wajah yang berseri-seri Angga bercerita pada mamanya mengenai hari ini.
Mama   : “Dipuji? Berarti anak mama sudah jadi artis dong? Mama Angga menganggapi dengan bercanda sambil menyiapkan makan siang anaknya.
Angga  : “Ih mama, Angga serius nih malah ditanggapi dengan bercanda deh”.
Mama    : “Oke..ceritanya dilanjut nanti saja yaa..! Sekarang panggil abangmu untuk makan siang”. Angga  bergegas menuju kekamar abangnya Dimas dilantai atas rumah kami.
Mama    : “Dimas, maem siang bareng yuk! Ada salad sama makanan kesukaan kalian lho!” Gak lama kemudian mereka berkumpul di ruangan tengah rumah kami.
Mama   : “Dimas, kenapa kamu murung saja dari tadi? Apa ada masalah yaah? Mama perhatikan dari tadi kok cemberutnya jelek amat hari ini?Hehehe ”.
Dimas    : “Ngg………ngaak ada masalah ma. Cuma kesal aja, sebel dan bete sama pak Aldi, guru yang ngajar di TK tempat Dimas yang baru” jawab Dimas bersungut-sungut.
Mama   : “Memangnya kenapa, sama pak Aldi kok sampai begitu sebelnya?”
Dimas      : “Ngak apa-apa sih ma, sebel aja karena pak Aldi bilang” kalau laporan sampel wawancara Dimas sama orang tua wali murid itu jangan asal di resume kayak gitu, harusnya kan ada format sketsa data mereka yang di wawancara”.
Mama   : “Emangnya Dimas tadi pagi bikin resume seperti apa?”
Dimas     : “Membuat resume hasil wawancara  mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah yang diteliti, tanpa sketsa atau gambar. Pak Aldi bilang ”Sebaiknya resume harus diberikan sketsa atau gambar agar menarik perhatian saat di presentasikan. Sekarang kamu harus tambahkan resume wawancara itu dengan cara yang menarik deh..agar orang yang melihatnya bisa tertarik”. Aku sebel banget sama pak  Aldi.”
Mama    : “Dimas seharusnya tidak boleh sebel seperti itu sama pak Aldi. Maksud pak Aldi bilang begitu agar Dimas bisa kreatif terutama dalam soal cara presentasi. Apa yang dikatakan pak Aldi  sangat benar, kalau presentasi kita bagus, orang akan mudah tertarik. Jadi, mulai dari sekarang Dimas harus bisa menerima komentar dan kritik dari orang lain. Hasil karya kita tanpa dikomentari orang lain kita tidak akan tahu dimana letak kurang atau lebihnya karya kita. Yang harus diketahui adalah setiap orang pasti memiliki tanggapan atau komentar tersendiri. Mama harap Dimas gak akan sebel lagi kalau suatu saat nanti mendapat kritik atau komentar, tentunya bukan hanya dari pak Aldi  saja. Jadikan setiap komentar sebagai pendorong agar kita lebih berkreasi dalam berkarya”.
Dimas     : “Begitu ya ma, mulai sekarang Dimas akan lebih berkreasi lagi  biar presentasinya sukses”, ujar Dimas dengan begitu semangatnya.
Angga    : “Siapa bilang abang Dimas gak bisa sukses ?”. Angga yang dari tadi diam saja akhirnya ikut menimpali.
Mama    :  “Oh iya, katanya Angga tadi dipuji banyak teman dan bu guru memangnya ada kegiatan apa tadi?”. Mama pun bertanya ke Angga.
Angga    : “Begini ma, tadikan anggota OSIS mengadakan lomba membuat laporan mendaki gunung Agung nah laporan yang paling bagus akan ditempel di mading sekolah, ternyata laporan Angga yang ditempel di mading sebagai laporan  yang terbaik. Kepsek, semua guru dan teman-teman memuji Angga, ma ”.
Mama     : “Gini yaa...Angga  harus ingat! Angga tidak boleh termakan oleh pujian. Pujian itu lebih cenderung ke hal yang bersifat negative dan membuat kita merasa sudah yang terbaik. Terhebat. Lalu dengan merasa yang terbaik itulah membuat kita enggan untuk belajar berkreasi lebih. Hanya merasa cukup pada keadaan yang itu-itu saja. Akhirnya, akan membuat orang lain yang semula memuji hasil karya kita lama-lama akan bosan kalau karya kita itu-itu saja tanpa ada perkembangan yang lebih bagus lagi ”.

Angga    :  “Terus Angga harus gimana ma? Apa harus marah pada teman-teman dan bu guru yang memuji?”. Angga masih bingung dengan nasehat mamanya.
Mama    :  “ ooh iya nak, kamu gak boleh marah! Justru berterimakasih padanya. Yang harus di ingat selalu adalah jangan cepat  termakan dan terbujuk hanyut dalam pujian. Kita  kan gak tahu apakah orang yang memuji itu benar-benar tulus atau hanya sekedar membuat bangga saja. Orang lain mungkin saja membuat kita malas berkreasi. Maka dengan memuji karya kita itu secara berlebihan dengan maksud agar kita tenggelam dan hanyut dalam pujiannya itu”.

Pembaca yang budiman, ingatlah  bahwa tidak ada yang sempurna. Bagaimanapun, semua yang kita hadapi dalam hidup ini, dan dimana saja kalau yang kita lakukan memuaskan semua orang, kita akan mendapatkan pujian. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa kita bisa aman dari kritik dan pujian itu?
Dari percakapan Ibu dan dua orang anak, Dapat kita maknai, apa arti kritik bagi kita? Apakah itu musibah buruk? Seperti bencana yang tidak terduga, atau... simbol kehancuran diri?

Kadang, orang di sekitar kita akan lebih tertarik memberikan kritik. Pujian tentu lebih mudah kita terima dari pada kritikan, yang bisa saja bernada tak enak.
Adakah yang bisa menganggap kritik layaknya ia menerima pujian? Singkatnya, kita memang hanya layak dipuji  jika sudah berani menerima kritikan...
Kesemua itu berpulang kepada cara kita mengontrol diri, bagaimana cara kita menanggapi berbagai macam kata orang tentang diri kita. Karena kritik itu tidak mungkin dilayangkan padamu tanpa sebab.

Memang bukan hal mudah untuk menerima bahwa diri kita punya banyak kekurangan. Tetapi, ini adalah awal dari usaha untuk menjadi lebih baik lagi. kita akan mulai belajar untuk mendengarkan hal-hal yang sebelumnya sulit di dengar. Mencoba mendengarkan kekurangan atau kritik dan pujian  ini bukan hal mudah. Coba lihat berapa banyak orang yang meradang dan langsung membantah saat  dikritik orang lain. Kritik dan pujian itu sebuah tantangan  dan bisa membantu kita untuk hidup lebih bersikap rasional dan logis daripada bersikap emosional. Kesempatan juga bagi kita untuk memahami bahwa wujud pengertian dan dukungan itu bisa berbagai macam. Tidak semua orang bisa berkata ‘I love you‘. Kadang kalimat itu diucapkan lewat cara yang berbeda 
(mengungkapkan cinta bagi setiap orang takkan sama): ‘Kamu makan lebih banyak, dong.’ atau ‘Ayo, belajar yang rajin! Ntar IPK mu jeblok lagi .. kayak kemarin!’ Kedua kalimat itu mungkin tak mengenakkan, namun itu hanyalah cara lain mengungkapkan perasaan cinta.
Masalah datang untuk segera kamu selesaikan, sedangkan kritik ada untuk mengingatkan mu, pujian ada untuk sebuah ukuran diri mu.

Dari sebuah kritik yang ditujukan, perlahan kita akan bisa menilai orang lain. Pujian memang manis dan menyenangkan, namun kritiklah yang sebenarnya menjadi bumbu dalam proses penggapaian hidup. Ketika kita sudah berani mengenali kelemahan diri, hal terbaik yang bisa didapatkan adalah kita lebih bisa menikmati hidup, dan tetap merasa bahagia sekalipun hidup itu kadang sering tak ramah.


By: TE120116

Sunday, 10 January 2016

Masyarakat Harus Kritis dan Cermat Terhadap Pengobatan Alternatif.

Kasus meninggalnya pasien pengobatan alternatif  Chiropractic yang diberitakan media massa di awal tahun 2016 ini di jakarta, telah menghebohkan sebagian masyarakat Indonesia. Masalah pengobatan alternatif ini masih akan banyak menelan korban bila pemerintah sebagai otoritas perijinan dan sertifikasi tidak membenahi sistim pengawasan nya dan masyarakat pun secara personal juga harus cermat dan cerdas sebelum memilih cara pengobatan ini. Masyarakat kita ini mudah silau dengan tampilan dan iklan promosi pengobatan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Kata bijak leluhur kita "teliti sebelum membeli"
Oke kita ulas dulu dari bentuk dan asal kata Chiropractic (berasal dari kata yunani,chiros=tangan, practicos=praktis) secara harfiahnya diartikan sebagai pengobatan “menggunakan tangan”. Di Indonesia biasa disebut “tukang urut”. Karena yang “mengurut” itu bule apalagi dari negara paman Sam (Amerika) nama dan imej nya jadi beda ditambah tongkrongan kliniknya ada di pusat perbelanjaan mewah dan bayaran nya pake dollar..keyeeen ..wuiiihh...hehehe. 

Kita melihat dari teknik terapi pengobatan alternatif chiropractic ini sama sebangun dengan cara di urut/ pijit. Metode pengobatannya, difokuskan untuk membetulkan struktur  tulang belakang dengan menggunakan usapan tangan. Bagi sebagian orang urut tulang punggung ini dipercayai adanya hubungan antara suatu penyakit dengan perubahan posisi tulang belakang, seperti  mengobati sakit pinggang dan syaraf terjepit atau gangguan nyeri lainnya tanpa obat dan  cara ini digunakan oleh pasien dan keluarganya untuk terhindar dari operasi yang sering menjadi solusi  penyembuhan oleh dokter. Hal ini normal nya kerja tukang urut.

Bagi sebagian masyarakat di desa atau di kota kota, cara pengobatan ini sudah tidak asing dilakukan secara tradisional. Perlu diingat, kita harus tahu latar belakang orang yang akan melakukan therapi ini secara pasti dan teruji dalam menangani pasien terutama dalam hal pengetahuan dan ketrampilan pengobatan yang sesuai dengan ilmu kedokteran, dan kalau perlu ada sertifikat pengakuan profesi dari kementerian kesehatan. Contohnya seperti dukun beranak (paraji, bahasa sunda, red) dilakukan pengujian (sertifikasi profesi) dan penambahan wawasan pengetahuan kedokteran atau cara pengobatan terapi tusuk jarum alias akupunktur.

Seperti hal nya Chiropractic ,Pengobatan dengan cara akupunktur ini juga pertama kali di perkenalkan oleh orang asing asal Tiongkok bernama Tseng Kai seorang tabib pengobatan tradisional Tiongkok yang dibawa oleh dokter Tiongkok ke Indonesia pada tahun 1962 untuk mengobati Bapak Presiden Soekarno sakit saat itu. Methoda pengobatan ini akhirnya juga diberikan surat ijin praktek  oleh menteri kesehatan untuk membuka praktek di Indonesia setelah teruji mengobati sesuai prosedur kesehatan, bahwa tusuk jarum sebagai pengobatan tradisional sangat ampuh menyembuhkan bermacam penyakit yang ada hubungannya dengan saraf, linu, pegal rematik dan kelumpuhan. Hal ini bisa di buktikan secara ilmu kedokteran  ditambah dengan ketrampilan pengobatan yang  dilakukan dengan metode penyembuhan yang berbeda di setiap wilayah karena ternyata pengobatan ini tidak hanya teori dan ketrampilan pengobatan saja tetapi perbedaan akibat pengaruh iklim pun menjadi faktor dalam terapi pengobatan.

Jadi jelas bahwa metoda pengobatan apapun di dunia ini tidak haram hukumnya untuk di gunakan sebagai usaha kita untuk mencari obat penyembuh. Namun bagi kita sebagai calon pasien perlu berpikir kritis untuk mencari tahu kemampuan, dan keahlian maupun ijin praktek yang telah diterbitkan oleh lembaga kesehatan Republik Indonesia . apakah itu klinik , perorangan atau apapun namanya termasuk pengobatan yang berbau agama dan kepercayaan. Semua prosedur dan ijin ini sangat perlu dijadikan pertimbangan kita sebelum melakukan jasa pengobatan atau jasa non pengobatan lainnya. Kesemua itu untuk keselamatan dan perlindungan hukum bila terjadi kesalahan atau penyimpangan profesi terhadap kita sebagai konsumen di suatu waktu nantinya. Kepercayaan atau keyakinan saja tidak cukup untuk ber transaksi  dalam imbal jasa pengobatan, tapi rekomendasi dan ijin serta pengakuan profesi yang resmi dikeluarkan oleh pemerintah atau badan yang bertanggung jawab dari profesi itu harus ada dan dapat kita akses dan tanyakan ke badan bersangkutan melalui media sosial lainnya.

Untuk ke depan harapan penulis kiranya, pemerintah atau kementrian yang mengeluarkan ijin dan pengakuan  jasa pengobatan, perawatan, dan profesi kesehatan bisa mempublikasikan hal tersebut ke masyarakat. Agar kasus kasus penyalah gunaan profesi atau jasa tidak ada menimbulkan korban jatuh lagi akibat kelalaian dan kecerobohan profesi yang tidak bertanggung jawab. Kematian itu memang rahasia Allah namun mencegah itu lebih baik dan tanggung jawab ini harus tetap di ke depankan. Masyarakat harus dilindungi dan pemberi jasa juga harus punya kredibilitas profesi nya. 

Semoga sikap kritis masyarakat dalam memutuskan untuk memilih sesuatu pengobatan, menjadi syarat utama dalam  mencari pengobatan yang terbaik. Jangan mudah percaya dengan penampilan apalagi  yang berbau asing apalagi menganggap hebatnya ilmu tenaga ahlinya bule  atau melihat tabib bersorban  ke agamaan. Pada umumnya kecerobohan ini karena kedangkalan pemahaman sebagian masyarakat terhadap pengobatan serta pengetahuan agama yang mereka anut, dapat mengakibatkan mudahnya jadi korban penipuan.

Rakyat Indonesia seharusnya makin kritis, cerdas dan bijak dalam menyikapi keadaan diri atau sakit-penyakitnya terhadap tawaran-tawaran atau iklan pengobatan alternatif yang terkesan modern dan serba berteknologi atau mistis... Dalam menghadapi masalah pengobatan ini jangan mudah panik dan berpikir serba instan untuk segera sembuh dengan instan, karena kesembuhan itu juga proses seperti hal nya penyakit yang berproses tumbuh di dalam diri kita ini.

Rasulullah saw. bersabda kepada umatnya : "Setiap penyakit ada obatnya, maka jika sakit telah diobati, ia akan sembuh dengan izin Allah."


Wabillahi taufik wal hidayah semoga kita terhindar dari fitnah dan kesalahan.


By: HG090116

Saturday, 2 January 2016

MANUSIA SENANTIASA HIDUP DALAM PERUBAHAN BERKELANJUTAN.

Berakhirnya tahun kalender 2015 Masehi  sangat menggembirakan untuk sebagian umat manusia di muka bumi ini, karena itulah mereka merasa perlu untuk merayakan pergantian tahun yang begitu spesial.  Berakhirnya tahun ini  juga menjadi refleksi aktifitas dan kejadian yang terjadi dalam 1 tahun belakangan ini.

freepik,com
Ke semua itu bisa menjadi evaluasi diri dan ingin membuka harapan dan keinginan baru di tahun berikutnya. Dan pada akhirnya, masa yang berlalu bisa menjadi sebuah nasehat panjang bagi kita semua.

Pertanyaannya...kenapa menjadi refleksi?  Jawabannya  sangat tergantung dari sisi pandang setiap orang yang pastinya berbeda beda.

Kita semua tahu bahwa perubahan itu pasti terjadi, walau banyak diantara kita kadang menolak perubahan itu sendiri, padahal  bila kita kaitkan dengan pengertian fase kehidupan manusia, mengandung arti bahwa manusia itu hidup akan terus bergerak tumbuh seiring perjalanan waktu di mana dia berada.

Kehidupan bukan  sesuatu yang diam atau statis, tapi  yang terus tumbuh dan berkembang. Manusia dalam kehidupannya mengalami fase di dalam kandungan, lahir, bayi dan anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Ada kesinambungan dalam kehidupan manusia.


Kesinambungan itu terjadi karena manusia dalam kehidupannya diikat oleh waktu. Ada masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Masa lalu akan menentukan masa sekarang, dan masa sekarang akan menentukan masa depan. Waktu menurut penulis diartikan sebagai  jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan bentuk waktu yang lainnya diharapkan memberi suatu manfaat  yang lebih baik dari sebelumnya untuk kehidupan ini.


Sartono Kartodirjo (sejarawan), mengatakan:

“Bahwa mereka yang lupa akan masa lampaunya itu telah kehilangan identitas dan oleh karena itu dapat membahayakan masyarakat di sekitarnya”.

Peristiwa sejarah berisi perubahan dalam kehidupan manusia. Sejarah mempelajari aktivitas manusia dalam konteks waktu. John Dewey, seorang pemikir pendidikan asal AS,  menganjurkan:

“Sejarah harus bersifat instrumental dalam memecahkan masalah masa kini atau sebagai pertimbangan program aksi masa kini ”.

Perubahan yang terjadi pada masa lalu memberikan pengaruh pada kehidupan masa kini. Perubahan yang terjadi  di dalam masyarakat dengan masyarakat yang lain tidaklah sama. Misalnya perubahan sosial, karena adanya perubahan dimungkinkan terjadi ketidakpuasan atau ketidakcocokan. Dari keadaan seperti itulah timbul adanya suatu keinginan atau tindakan yang menginginkan suatu perubahan. Proses perubahan masyarakat (social change) terjadi karena  aktifitas berfikir dan bekerja.  

Selain itu manusia juga selalu berusaha untuk memperbaiki nasibnya dan sekurang-kurangnya berusaha untuk mempertahankan hidupnya sekarang. Perubahan sosial dalam masyarakat bukan merupakan sebuah hasil atau produk tetapi merupakan sebuah proses keputusan bersama yang diambil oleh anggota masyarakat.

Pada dasarnya pergerakan sosial-lah yang menjadi sumber adanya perubahan sosial. Dari adanya pergerakan sosial ini muncullah ide yang kuat mengenai apa yang salah dengan dunia atau sebagian darinya dan bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini menjadi suatu refleksi  kita sebagai masyarakat dalam memilih cara hidup yang terbaik dalam  menjalani kehidupan selanjutnya.   

Tahun 2015 telah berlalu, Begitu banyak peristiwa yang kita alami sepanjang tahun ini, baik pribadi maupun kejadian di lingkungan kita berada. Semua peristiwa membuat aku terkejut, haru, marah, dan terakhir bisa ngucapin istighfar.

Ada  beberapa peristiwa heboh di Negeri kita yang membuat ku kaget, haru, marah dan kadang heran, sedikit catatan yang ku simpan diantaranya:

Awal Februari 2015 foto bugil mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung tersebar di facebook. Setelahnya, sebuah video seks mahasiswa ITB beredar di dunia maya dan menjadi berita heboh di sejumlah media online pada saat itu. Setelah itu, muncul lagi 17 foto bugil mahasiswi Malang yang disebar di pesan singkat whatsapp oleh kekasihnya pada 15 September 2015.

Awal Maret 2015, sebuah iklan heboh ditulis  "Penawaran Langka Abad Ini! Beli rumahnya bisa mengajak pemiliknya menikah (syarat dan ketentuan berlaku), hanya untuk pembeli serius dan tanpa nego"...(ada ada aja..).

Perseteruan dan cacat kepribadian mental akut di perwakilan rakyat di media massa,  8 April 2015. Anggota Komisi VII dari Fraksi Persatuan Pembangunan, Mustofa Assegaf, memukul Wakil Ketua Komisi VII dari Fraksi Partai Demokrat Mulyadi.saat rapat dengan menteri ESDM Sudirman Said.

25 April 2015, Divine Production Break The Rules Bikini Party JAKARTA acara pesta bikini pelajar SMA Jakarta bertema “Splash After Class” tersebut menyuarakan kebebasan,  untung ketahuan oleh pihak kepolisian RI.

Pertengahan bulan Mei 2015, kasus prostitusi online yang melibatkan gadis di bawah umur terkuak. Mereka dengan berinisiatif untuk menjual diri dengan cara mencari pelanggannya sendiri. 

Pertengahan tahun 2015, praktek jual beli Ijazah palsu  mulai dari ijazah strata satu (S1) hingga ijazah bergelar doktor (S3)  dengan beragam harga yang berbeda sesuai jenjang pendidikannya. Hal ini membuat aku sangat geram dan marah karena bagiku belajar dan sekolah itu sebuah kegiatan yang terhormat dan punya nilai luhur untuk di capai. Kejadian ini melukai hatiku karena mereka (pelaku dan penyedia jasa) merendahkan nilai moral pendidikan di indonesia.

Pada Jumat pagi, 17 Juli 2015, terjadi  insiden peristiwa paling memilukan terkait hubungan antar agama  di Karubaga Kabupaten Tolikara Papua pada sa'at pelaksanaan salat Idul Fitri mengakibatkan satu Mushola terbakar dan 70 rumah kios berkonstruksi papan kayu ikut terbakar, serta beberapa warga Muslim mengalami luka-luka.

Bulan Juli sampai Oktober, terjadi kebakaran hutan di beberapa propinsi Sumatera dan Kalimantan pada saat musim kemarau, telah menyebabkan korban meninggal dan terkena penyakit pernapasan.

Awal September 2015, Ketua DPR RI Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR, Fadli Zon, diadukan karena pertemuan mereka dengan capres Amerika Serikat, Donald Trump, di New York, dinyatakan sebagai pelanggaran etika, dan di bulan November-Desember 2015, kembali Ketua DPR Setya Novanto dinyatakan melanggar etika terkait renegosiasi kontrak karya PT Freeport Indonesia (PT FI).

Sebelum berakhir tahun 2015 yang lalu, hari rabu 02 desember 2015 di mulai Sidang MKD di DPR-RI Jakarta, dikenal dengan kasus 'papa minta saham' yang the end nya anti klimaks, dan banyak lagi kasus anggota legislatif  yang tersangkut kasus pidana korupsi di tahun 2015. Kasus per kasus yang mencemarkan martabat atau “yang mulia“  para senator itu sudah hampir ke jurang kehinaan itu sudah berlangsung lama dan hal ini aku sungguh sangat prihatin dengan pilihan masyarakat kita yang tidak pernah logis dan riil menunjuk wakil mereka yang tidak amanah...wallahu alam hanya Tuhan yang tahu atas semua ini.

Akhirnya setelah ku berkaca ke peristiwa tahun 2015 atau istilah dusunnya “refleksi”, ternyata harapan untuk berubah di dalam masyarakat kita ini termasuk aku banyak yang belum sesuai dengan niat untuk menjadi lebih baik. Dalam kacamata ku kita cenderung bertahan pada pola pikir dan tingkah laku yang makin primitif, terlihat dari catatanku tadi mulai dari masalah sosial kemasyarakatan hingga  hukum ternyata “tahun baru, harapan baru” cuma sebatas slogan tak bermakna, hanya basa basi biar kelihatan bijak dan bermartabat, kata temanku yang disana: bicara bijak tapi tingkah masih kayak kanak kanak...mmmmm...!

Jaman sekarang, terutama di negeri ini banyak orang berebut ingin menjadi orang penting dalam kehidupan sehari-hari.  Ada berbagai motivasi yang diungkapkan. Berbagai usaha untuk ditempuh meraih keinginan untuk menjadi orang penting. Setelah meraih keinginan itu, orang merasa bahagia. Lalu yang jadi soal, apakah cukup orang menjadi orang penting dalam hidup ini?

Ketika orang hanya mengejar keinginan untuk menjadi orang penting, orang bisa menempuhnya dengan cara-cara yang tidak terpuji semisal memanfaatkan orang lain. Untuk itu, perlu kesadaran dalam diri kita tentang makna kehidupan ini.
Resolusi ku di tahun 2016 ini gak muluk muluk, ingin jadi orang baik saja, aku jadi ingat kata Kang Ebet Kadarusman (penyiar TV):  

“Memang baik jadi orang penting, tetapi jauh lebih penting untuk jadi orang baik.”.  
Ia menciptakan ungkapan yang menantang manusia untuk semakin menjadi orang baik dalam hidup ini. Soal baik buruknya diriku tentu bukan penilaian dari diriku sendiri.  Hal itu hasil dari penilaian  orang lain atas kinerja dan kegiatanku dalam hidup ini di suatu hari nanti.

Hanya dengan menjadi orang baik, mungkin aku mampu menjadi orang berguna bagi orang lain dan berbagi harapan dalam hidup ini. 

Doaku:  “Semoga Allah senantiasa memberiku Taufik dan HidayahNya”.

Selamat Datang di Tahun 2016, sukses selalu buat pembaca KD yang budiman.

Salam,


By: HM020116

Tuesday, 29 December 2015

Menumbuhkan Budaya Egaliter, Mengentaskan Mental Miskin dalam Budaya Kita.

Kadang dalam kehidupan ini sering terjadi kontradiksi, contoh:  ”Kenapa kalau kita menawarkan suatu barang dagangan atau produk bikinan sendiri ke teman dekat, atau keluarga selalu mereka berpikir kalau kita mencari untung besar dari uang mereka, padahal harga yang kita tawarkan lebih rendah dan berkualitas dari harga yang dijual dipasar. Dan yang paling menjengkelkan itu mereka tidak menghargainya. Justru mereka rela ditipu oleh orang lain yang tak dikenal/asing dan ujug ujug malah mendukungnya. Ini adalah contoh budaya bermental miskin yang sering kita temukan di sekitar kita...!"

Bicara soal budaya bermental miskin ini disebabkan oleh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang menghambat masyarakat itu untuk berkembang dan maju. Feodalisme merupakan salah satu nilai yang dalam hal ini menyebabkan budaya bermental miskin. Ini mengakibatkan  masyarakat sulit untuk mengembangkan kreatifitas dalam berusaha. 

Mereka yang menganut paham ini lebih mempercayai produk atau dagangan orang asing daripada keluarga atau bangsa sendiri. Inilah yang menjadikan masyarakat  kita tanpa disadari tertanam budaya ber mental miskin, yaitu mental yang tidak ingin maju, tidak suka bekerja keras, pemalas, dan suka menjilat serta mengagungkan karya bangsa asing. Budaya ini juga yang memberi ruang untuk berbuat korupsi di negeri ini, akhirnya menjual harga diri serta hilangnya rasa malu.
Saat ini kita butuh budaya egaliter yakni  perlakuan yang setara dalam dimensi kehidupan sosial berkeluarga, dan bermasyarakat. Tidak memandang lagi bahwa orang lain apalagi orang asing/bule lebih tinggi keberadaannya dalam perspektif sosial, budaya, teknologi dan lain sebagainya.

Kita bisa rasakan kebanyakan orang Indonesia terpesona dengan keindahan fisik orang-orang asing/bule. Kulit putih mulus, hidung mancung, rambut pirang, mata biru adalah perlambang kecantikan dan ketampanan sempurna di mata orang-orang Indonesia kebanyakan. Tak heran, jika banyak diantara orang-orang kita meniru-niru lagak dan gaya mereka.

Sebaliknya jika orang asing/bule belajar kebahagiaan kepada orang Indonesia, kenapa kita hanya meniru gaya mereka saja. Teman saya spontan ngomong, kenapa kita enggan belajar budaya kedisiplinan, kerja keras, integritas, dan profesionalitas mereka dalam bekerja dan berdagang  ya?

Bagi saya pribadi, orang bule itu, atau orang Eropa dan Jerman khususnya (karena saya ada disana), yang istimewa itu adalah etos kerja mereka. Mereka begitu profesional di bidangnya. Serta budaya egaliter yang mereka jalani, seperti halnya jabatan, pendidikan tak menjadikan orang merasa lebih terhormat dari lainnya. Mereka jika bekerja sesuai kompetensi masing masing, fokus dan serius selama waktu kerja.  Seorang yang berkedudukan bos di sebuah perusahaan merasa sama derajatnya dengan seorang pembersih MCK.  Seorang bos membukakan pintu untuk seorang pembersih toilet di sebuah kantor adalah hal yang lumrah dan wajar.  Hal demikian ini dianggap sebagai keadaan alami dari sebuah masyarakat. Dan tentunya hal yang teramat langka ada di Indonesia.

Bagaimana caranya mereka menjadi percaya diri untuk mulai berbisnis dan kreatif menciptakan dan menggunakan produk sendiri dalam masyarakat mereka? Alasan utamanya  adalah karena mereka bersedia mendukung bussines associate mereka, menjaga kepentingan satu sama lain, maka secara alami mereka mendapatkan manfaat yang lebih banyak lagi..beda dengan bangsa kita terutama pemimpinnya, mereka lebih suka membeli produk import yang tidak berbasis pada kemampuan bangsa sendiri, dengan alasan lebih murah dan teknologinya lebih baru. Kenapa pemimpin kita bersikap demikian? Karena mental mereka yang miskin dan masih sangat feodal.

Teman-teman, saudara, keluarga serta pemerintah kita seharusnya secara bergantian mendukung kita untuk berusaha dan berkarya demi mendapat manfaat  dalam kehidupan masyarakat yang mandiri. Maka lingkaran kesejahteraan masyarakat ini akan terus bertumbuh dan semakin bertumbuh.
Sederhananya, kita akan mulai bersemangat menjadi wiraswasta ketika kita bisa memahami  apa yang kita lakukan.

Tidak salah kalau mau berusaha untuk menjual atau menawarkan produk yang kita hasilkan itu, yang menjadi orang pertama mempercayai kita adalah orang asing (diluar orang dekat di sekitar kita). Teman akan menutup diri dari penawaran kita. Teman biasa akan menjauh, dan keluarga akan memandang rendah usaha kita.

Jika suatu saat kita telah sukses, maka kita akan membayar semua tagihan mereka ketika makan malam bersama, atau suguhan entertainment, dan disitu kita menyadari semua orang yang tidak mendukung awal dari usaha kita tadi akan hadir, kecuali orang asing yang pertama mempercayai kita lupa untuk dihadirkan.
Jelaslah bagi kita, dari proses menawarkan barang dagangan untuk memulai usaha tadi sekarang kita sudah paham, hal yang menghambat kita untuk menjadi pebisnis itu dimulai dari nilai budaya bermental miskin yang berkaitan pada nilai budaya feodalisme.

Kita juga harus ingat untuk memperlakukan pelanggan orang asing itu tadi lebih baik lagi! Dan demikian juga kepada sebagian teman yang tahu apa yang kita lakukan, tetapi tetap mendukung kita.


Perlakukanlah pelanggan pertama dan orang orang yang bersimpati kepada usaha kita lebih baik lagi mulai hari ini. Karena mereka adalah pelanggan terbaik kita.


By: ZM 291215

Tuesday, 22 December 2015

Sapa ku buat Mama disana....

Hati  mama  selalu  tumbuh  buat diri kamu, dengan energi  yang tak terbatas, dengan hati yang penuh kasih.


buat mamaku..
Tuhan, memberi hatiku menyayangi mu mama!!! Mama ajarkan kami arti perbedaan  dengan cara yang berbeda. Mama ajarkan kami tentang etika dan berempati pada sesama...hati yang kuat dan luar biasa manis setiap waktu. 

Kami pun menyatu dalam persaudaraan  untuk meniru mu.

Aku  rindu masakan dan kue karyamu mama......
Ketika ku kehilangan mama. Saat  pertama aku tanpa mama. Dia bagai  teka-teki yang  tak terduga.

Ia  mampu menutupi rasa lelahnya di hadapan kami anak-anaknya.
Ia mampu menutupi kekurangannya di depan kami anak anaknya.
Ia sanggup tersenyum walau beribu masalah datang menghampirinya.
Ia tak pernah ingin kami  anak-anaknya turut sedih.
Ia tak ingin menjadi beban dalam hidup kami anak anaknya.

Hari  ini aku rindu mamaku. Ku sadari, mama sekarang tlah lama pergi. Tampaknya seperti kemarin berlalu.

Mama, disaat aku merasa sendirian, dan tak ada yang peduli..
Aku   selalu merasa mama ada  dalam hidupku. Dulu mama, selalu jadi orang pertama yang mendengarkan kisahku. Mama yang selalu mau mendengarkan ceritaku. Mama yang tahu perasaanku ketika aku punya temen jahat disekolahku.
Hanya mama yang mengerti ketika semua mulai berpaling dariku.

Aku sayang  mama selamanya, meskipun mungkin mama tak percaya bahwa aku menulis kisah ini.  Percayalah mama, cinta yang paling dalam yang  aku miliki hanya buat mama.

Rasanya aku ingin segera pulang. Membeli kue untuk mamaku, dan memeluknya erat. Tak akan ku biarkan siapapun menyakiti mamaku.

Ya Allah, ampuni segala dosa dan kesalahan serta kekhilafan mama dan papaku, sengaja tak sengaja. Sayangi mama dan papaku Ya Allah, berikan mama dan papa tempat yang mulia disisiMu. Hanya ini pinta ku Ya Allah, karena doa ini cinta dan kasih mama dan papa yang takkan pernah bisa kami balaskan sampai akhir hayat..

Love you mama, aku sayang mama juga papa disana.......



Saturday, 19 December 2015

Kisah Pengembaraanku ke Puncak Gunung Ciremai. 4

Kisah yang lalu aku dan rombongan sampai di puncak Gunung Ciremai. Setelah menikmati alam dan merasakan kebesaran ciptaan Allah di ketinggian 3078 mdpl.

Di Puncak Gunung Ciremai 2015,
koleksi pribadi
Tak terasa, dua jam telah berlalu tepat nya dari pukul 10:50 wib sampai 12 ; 30 WIB, aku dan rombongan TIGMAPALA sepakat turun dari puncak gunung ciremai ini, selama menuruni tebing gunung aku kehabisan persediaan air minum. Aku sempat bingung juga, apalagi aku terpisah dengan rombongan. 

Alhamdulillah aku ketemu Bang Iwan.  Lalu aku dan Bang Iwan bareng turun sambil berlari secepat mungkin untuk hemat tenaga dan mempersingkat waktu sampai kebawah, walaupun akhirnya aku terpisah dan turun sendirian. Aku tiba di Pos Tegal Jamuju pada pukul 14:10 WIB. Aku bersiap-siap untuk turun ke basecamp, waktu sudah menunjukkan pukul 17:30 WIB. Pada saat ku turun matahari sudah berganti senja dan siang sudah berganti malam aku masih dalam perjalanan, sepanjang aku berjalan menuruni gunung aku berpapasan dengan para pendaki yang baru datang.  

Sampai di Pos IV Bayangan pada pukul 18:42 WIB, aku lewati pos ini tanpa istirahat. Tiga belas menit aku sudah di area Pos Tegal Masawa tepatnya pukul 18:55 WIB, disini aku beristirahat sebentar dan segera melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan menuju Pos Arban aku sudah bersama rombongan dan mengambil posisi barisan depan bersama Taufiq, Satria, Dio, Inggih. Karena aku sering beristirahat akhirnya terpisah lagi dari barisan belakang rombongan.

Menuruni Puncak Gunung Ciremai 2015
koleksi Pribadi

Aku tiba di Pos Arban 21:46 WIB. Di Pos Arban aku dihampiri Polisi Hutan bersama peserta lainnya dengan membawa P3K, Pak Polisi Hutan bertanya “Kenapa tadi berteriak dik ?“ Pak Polisi Hutan khawatir kalau aku dan peserta mengalami masalah. Lalu aku jelaskan bahwa "kami ingin tahu seberapa jauh lagi Pos Arban ini Pak, mengingat fisik kami sudah sangat lelah dan ingin buru buru istirahat"... Pak Polisi Hutan tersenyum dan memberi tahu agar aku dan rombongan mengikuti prosedur dan tertib di jalan. Sebelum aku beristirahat lapor dulu ke pos polisi hutan kalau aku dan rombongan baru turun gunung dan mereka juga menanyakan surat ijin masuk lokasi. Setelah melapor kami semua beristirahat untuk mengembalikan kekuatan untuk turun ke pos berikutnya.

Setelah kondisi mulai pulih setelah beristirahat, instruksi dari Instruktur Ferdi agar perjalanan turun ke pos berikutnya dengan cara berlari mengingat cuaca mulai mendung dan waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 WIB. Aku dan peserta harus datang lebih awal untuk menyiapkan peralatan dan akomodasi, Suryani tertinggal dari rombongan untuk itu kami harus menunggu, ternyata teman aku ini menangis kakinya  melepuh karena sepatu sempit. Setelah membantu obati kaki Suryani, aku melanjutkan perjalanan turun.

Pukul 22:31 aku tiba di Pos Berod, aku langsung lapor ke pos. Pada pukul 22:45 WIB, aku mendapat instruksi dari Instruktur Ferdi untuk melakukan evaluasi kegiatan. Setelah itu, kami makan malam bersama. Selesai makan aku menyiapkan matras dan sleepingbag.

Hari ke-4, tanggal 03 Mei 2015.
Karena terbatasnya tempat, aku , Ilham, Taufiq, Dio, Satria, dan Inggih tidur di mushala. Di mushala pun sudah ada pendaki pendaki yang duluan tidur.. Aku tidur pada pukul 01:05 WIB.

Pukul 04:35 WIB, subuh aku terbangun mendengar polisi hutan di jalur pendakian Apuy azan subuh pas dekat aku tidur. Dengan mata yang masih setengah ngantuk, aku  langsung keluar buat berwudhu dan shalat subuh. Selesai sholat jam menunjukan 06:20 wib aku membenahi packing untuk pulang ke jakarta .

Pukul 07:25 WIB, kami melakukan Kegiatan Sosial Pedesaan narasumbernya adalah Pak Uus salah satu warga dan pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai di jalur pendakian Apuy, kami menanyakan banyak hal ke beliau tentang Taman Nasional Gunung Ciremai, Desa Argamukti, dan lain-lain. Kami selesai melakukan Sosial Pedesaan pada pukul 09:25 WIB. Selesai acara ini aku langsung menyiapkan peralatan dan siap  pulang ke SMAN 35 Jakarta. Aku dan peserta lainnya melakukan pengecekan perlengkapan terakhir sebelum pulang ke SMAN 35 Jakarta.

Kami sarapan dulu dan berpamitan ke Pak Uus, Mang Adang, dan masyarakat sekitar. Kami pulang pada pukul 10:00 WIB. Cuaca cukup cerah pada waktu itu dan hawanya panas.

Kami tiba di Terminal Maja, pukul 11:35 WIB. Pak Imron bersama temannya sudah menunggu. Kami makan siang dulu. Selesai makan siang, kami berangkat pulang tepat jam 12:46 WIB. Diatas truck aku rebahkan badan sambil dengerin musik dan tertidur.

Aku terbangun ketika truk tronton berhenti di SPBU karena peserta pada kebelet kencing pada pukul 14:25 WIB. Kami melanjutkan perjalanan kembali  ketika hujan turun cukup deras pada saat  itu, mata ku ngantuk berat dan tak bisa kompromi lagi, aku tidur maning.

Aku dan rombongan tiba di SMAN 35 Jakarta pada pukul 19:46 WIB. Aku langsung turunkan carrier dan mengucapkan terima kasih sama Bapak Imron dan temannya.
Instruktur Ferdi meminta ku untuk melakukan evaluasi kegiatan kembali, disesi evaluasi ini aku mendapat banyak kritikan, semua kritik sangat membantuku untuk mengetahui kekurangan dan menambah pengalaman yang berharga khusus buat aku pribadi.


Selesai acara evaluasi aku pulang kerumah, tiba dirumah jam menunjukan pukul 21:30 WIB. Aku sangat senang acara yang kami buat sukses dan lancar, rombongan sehat serta selamat pulang pergi tak kurang apapun selama acara pendakian gunung. 

Alhamdulillah dengan rahmat dan kasih sayangNya serta doa kedua orang tua, aku mendapat suatu pengalaman yang luar biasa dan takkan terlupakan selama hidup. 

Semoga kisah perjalananku mendaki gunung ini bermanfaat buat pembaca, Kabar Diena.com.


By: Rayhan AF

Kisah Pengembaraanku ke Puncak Gunung Ciremai. 3

Hari ke-3, tanggal 02 Mei 2015.

koleksi pribadi
Waktu sudah menunjukkan pukul 00:00 WIB dan hujan masih cukup deras, ketika ada petir sampai terasa sambarannya ke tubuhku.  Kurasa cuaca yang  tidak bagus buat mendaki, aku putuskan untuk istirahat dulu sambil menunggu cuaca agak membaik mengingat jangan sampai ada kejadian yang tidak diinginkan. Kami lalu memasang flysheet untuk istirahat, aku dan Dio sesekali menepiskan air yang menggenang di flysheet agar tidak rubuh. Disaat kami istirahat ada juga sekelompok pendaki yang melewati pos ini untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung Ciremai walau hujan masih deras, mereka katakan kondisi ini disebut Badai Gunung Ciremai.

Sambil menepiskan air yang ada di flysheet, aku duduk ngobrol bersama Dio dan Instruktur Iko. Tiba-tiba ada sekelompok pendaki datang dan mereka langsung pasang tenda di tengah jalur pendakian karena hujan sangat lebat dan ada salah seorang dari rombongan itu menitipkan anggotanya karena sangat kedinginan. Instruktur Tasya segera menyiapkan teh hangat untuk pendaki yang kedinginan itu. Setelah Instruktur Tasya menyiapkan teh hangat, aku membantunya memberikan teh hangat ke pendaki yang kedinginan tadi. Setelah kelompok pendaki itu selesai mendirikan tenda, pendaki yang kedinginan tadi mengucapkan terima kasih dan bergabung masuk ke tenda mereka. Aku kembali tidur karena lelah.

koleksi pribadi

Aku terbangun pada pukul 04:00 WIB pagi. Aku lihat Taufiq, Kak Gita, Instruktur Ayu, Instruktur Novi dan Instruktur Anisa sudah bangun lebih duluan, mereka sedang menyiapkan sarapan. Hujan mulai reda pada pukul 05:00 WIB dan aku membangunkan para Instruktur dan para tamu undangan yang masih tidur, aku beritahu untuk segera bersiap-siap melanjutkan pendakian ke Puncak Gunung Ciremai. Sayangnya Instruktur Akhmad tidak bisa melanjutkan pendakian karena ada praktek kuliah lapangan.

Tepat pada pukul 06:42 WIB, aku dan rombongan melanjutkan pendakian menuju Puncak Ciremai. Cuaca cukup cerah pagi itu dan aku bisa menikmati panorama Kota Majalengka di pagi hari, aku sempatkan untuk mengabadikan panorama kota itu, tidak lupa aku sertakan seluruh rombongan termasuk  Instruktur dan tamu undangan. Hampir sejam kami berjalan lalu kami memutuskan untuk break alias istirahat pada pukul 07:41 WIB, aku dan rombongan kembali  melanjutkan pendakian pada pukul 07:52 WIB.

koleksi pribadi
Tak kuduga kalau tempat kami beristirahat malam tadinya sangat dekat dengan Pos Sanghyang Rangkah.  Kami tiba di Pos Sanghyang Rangkah pada pukul 07:55 WIB. Pos Sanghyang Rangkah terletak diketinggian 2.300 mdpl dan jarak dari Pos Sanghyang Rangkah ke Puncak Gunung Ciremai adalah 3 kilometer. Pos Sanghyang Rangkah cukup untuk menampung 7 – 8 tenda berukuran 7 – 8 orang.

Lalu kamipun melanjutkan pendakian ke Puncak Gunung Ciremai pada pukul 07:58 WIB, setelah istirahat kesekian kalinya. Dari Pos Sanghyang Rangkah jalur pendakian sudah keluar dari hutan yang banyak tonjolan batu, pepohonan dan semak belukar. Cuaca yang cukup cerah ditambah semangat  dan tekad yang kuat walau susahnya medan yang kami tempuh. Perjalanan dari Pos Sanghyang Rangkah sampai ke Pos Goa Walet mulai berbeda suasananya dikarenakan vegetasi (kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat, red) tumbuhan ini sudah didominasi oleh batu batu walau disekitar jalur masih ada pohon dan semak belukar dan bunga Edelweiss. Jalurnya mulai lebih menanjak tajam dan disisi kiri jalur terdapat tebing-tebing terjal dan semakin keatas jalur semakin sempit ddan kami terpaksa melewati lorong-lorong batu gunung yang terjal dan sempit. 

Karena faktor alam aku dan peserta lainnya mulai terpisah-pisah. Setelah keluar dari lorong-lorong batu ditemukan Simpang Apuy – Palutungan, atau pertemuan jalur Apuy dan jalur Palutungan.

jalur Apuy & Palutungan
koleksi pribadi
Aku beristirahat sebentar bersama Dio, Instruktur Trin serta Instruktur Iko. Setelah istirahat kami lanjutkan lagi untuk mendaki. Di tengah perjalanan ketemu Instruktur Izmi, Instruktur Fira dan Instruktur Puspa. Lalu kamipun kembali untuk beristirahat dan menunggu rombongan peserta dan tamu undangan yang masih mendaki. Hampir satu jam kami istirahat menunggu  tepat pada pukul 08:45 WIB, aku melihat  Instruktur Trin dan Bang Iwan menyusul. Aku berteriak “TIGMA”, aku  berharap ada yang membalas teriakan dengan kata “PALA”. Lalu ada yang membalas, aku bertanya sama Dio, Instruktur Izmi, Instruktur Fira serta Instruktur Puspa “suara siapa ya?"...mereka katakan kalau yang membalas adalah Instruktur Ferdi  tapi ternyata Inggih yang datang dan mengaku kalau dia yang membalas teriakan aku. Tak lama kemudian datanglah Instruktur Ulmi, Instruktur Anisa, Kak Gita, Kak Maya, Ilham dan Satria. Setelah semua sudah kumpul dan lengkap jumlah peserta yang hadir, kami langsung melanjutkan perjalanan.

Pada pukul 09:20 WId, kami sampai di Simpang Apuy – Palutungan. Simpang Apuy – Palutungan terletak diketinggian 2.675 mdpl dan jarak dari Simpang Apuy – Palutungan menuju Puncak Gunung Ciremai berjarak lebih kurang 0,5 kilometer. Dan sambil menunggu rombongan yang masih di jalan, aku sempatkan untuk mengabadikan pemandangan di Simpang Apuy – Palutungan.

Instruktur Puspa, Instruktur Fira, Kak Maya dan Instruktur Izmi memutuskan untuk melanjutkan pendakian begitu juga dengan Instruktur Anisa, Kak Gita, Instruktur Ulmi, Bang Iwan dan Instruktur Trin. Tak lama kemudian menyusul Satria, Ilham dan Inggih melanjutkan pendakian. Aku tidak ikut mereka karena  menunggu Dio membawa carrier berisikan P3K dan snack. Tak lama kemudian datanglah Instruktur Iko dan Instruktur Ayu, Instruktur Iko dan Instruktur Ayu hanya beristirahat sebentar lalu  melanjutkan perjalanan, Instruktur Ferdi, Intan, Suryani pun datang  begitu juga dengan Taufiq.

Tiba-tiba salah satu pendaki lainnya  melaporkan kalau salah satu teman kami ada yang sakit yang ternyata adalah Instruktur Ariska. Aku langsung membuka carrier untuk mengambil P3K dan Dio bersama Taufiq langsung bergegas menghampiri Instruktur Ariska. Dio dan Taufiq kembali dan mengabarkan kalau Instruktur Ariska tidak apa-apa hanya mengalami sesak nafas jadi diberikan oxycan. Setelah semuanya dinyatakan aman, aku pun melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Ciremai bersama Taufiq dan Dio. Dari sini jalur sudah mulai terbuka tidak seperti lorong-lorong sempit yang tadi aku lewati, bedanya jalur ini  lebih terjal dari sebelumnya.

Goa Walet
koleksi pribadi
Akhirnya kami  tiba di Pos Goa Walet pada pukul 10:18 WIB. Pos Goa Walet terletak diketinggian 2.950 mdpl dan jarak dari Pos Goa Walet menuju Puncak Gunung Ciremai sekitar  0,3 kilometer. Kami turun ke bibir goa ambil jalur ke kiri dan turun menuju bibir goa, di depan bibir goa ada tanah lapang yang cukup luas untuk menampung 14 – 16 tenda berukuran 7 – 8 orang dan untuk melanjutkan pendakian selanjutnya belok ke kanan dan ada tanah lapang juga yang cukup untuk menampung 6 – 8 tenda berukuran 7 – 8 orang.  
koleksi pribadi

Di pos ini aku hanya mengabadikan beberapa foto saja dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Ciremai.


Aku  terpisah dari Taufiq dan Dio. Dari Pos Goa Walet menuju Puncak Gunung Ciremai jalur jadi semi memanjat, di tengah perjalanan aku ketemu dengan Instruktur Trin, Instruktur Ulmi, Instruktur Novi, Instruktur Anisa, Instruktur Iko, Instruktur Ayu, Kak Gita dan Bang Iwan. Setelah bertemu dan beristirahat aku lanjutkan pendakian sendirian.

Dan akhirnya aku sampai di Puncak Gunung Ciremai pada pukul 10:50 WIB. Puncak Gunung Ciremai ini berada di ketinggian 3078 mdpl, dulu menurut ceritanya Puncak Gunung Ciremai ini dinamakan Puncak Sunan Cirebon. Pemandangan dari Puncak Gunung Ciremai, kelihatan Gunung Cikuray, Gunung Slamet, Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan dan Gunung Patuha. Rasanya senang sekali bisa berada di titik tertinggi Gunung Ciremai ini. Aku tengadahkan tangan dan ucapkan rasa  syukur kepada Allah SWT, dikarenakan  atas izinNya jua aku bisa berada disini.  

Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Tak jauh dari tempat aku berdiri , aku melihat Instruktur Puspa, Instruktur Izmi, Instruktur Fira, Satria, Inggih dan Ilham yang sudah lebih duluan  tiba di Puncak Gunung Ciremai. Aku  minta izin ke Instruktur Puspa untuk mengitari area sekitar kawah Gunung Ciremai, lalu aku bertemu dengan pendaki lain yang juga sudah lama berada duluan sampai dan mereka sedang menyeduh kopi, lalu aku mengobrol dengan mereka. Tak lama kemudian aku pamitan untuk kembali ke rombongan. 

Aku melihat semua peserta sudah kumpul semua, tetapi sayangnya Instruktur Ariska tidak dapat melanjutkan pendakian dan sedang menunggu di Pos Goa Walet. 
upacara Hardiknas, 02 Mei 2015 di puncak Gunung Ciremai.
koleksi pribadi

Kami semua berkumpul, setelah mengabadi kan beberapa foto, lalu melakukan upacara di Puncak Gunung Ciremai bertepatan saat itu tanggal 02 Mei 2015 yaitu Hari Pendidikan Nasional, senang rasanya bisa melakukan upacara di tempat yang sangat indah seperti ini. Ada seorang pendaki lain yang bukan rombongan kami ingin mengabadikan momen ini. Selesai  upacara kami semua berfoto- ria mencari momen terindah yang ada di Puncak Gunung Ciremai. Sebelum turun kami semua peserta TIGMAPALA, undangan dan semua instruktur  foto bersama.



By: Rayhan AF