Monday, 15 January 2018

*Sorry bro & Sista, enyahkan sampah hoax mu dari ruang pribadi ku..* please deh...!!!

Kita ini selaku manusia punya hasrat dalam mengaktualisasikan diri. Dan manakala  ekspresi itu keluar dari diri kita cenderung konyol dan lucu. Termasuk dalam menggunakan media sosial pada jaman now ini tidak lain hanya untuk pamer untuk menggenapi hasrat narsis belaka...you know not?

Pamer itu salah satu kebutuhan untuk menunjukkan keberadaan kita sebagai pribadi, dan media sosial-lah yang bisa menjadi wadahnya.

Setahun belakangan tepatnya di tahun 2017 sebelum dan sesudah pilkada DKI yang _*super dramatis*_ itu membuat ruang media sosial ini menjadi rusak bukan karena laku pamer atau narsisme tadi. Namun, pangkal masalahnya adalah sampah media bernama *hoaks*, lalu egosentrisme pada pendapat pribadi, termasuk pergunjingan yang mubazir hingga perundungan (membully) yang berujung pada umbar kebencian yang bertumpuk bahkan membakar  selasar dinding ruang pribadi jejaring sosialku ini.

Lancang sekali kalian dan tak sopan cara kalian masuk ke ranah pribadi kami.

Lebih sadisnya lagi kalian jadikan ruang media sosial kami untuk membunuh karakter seseorang. Dalam bentuknya yang paling tak beradab, masalah-masalah tadi jadi  terakumulasi dalam satu rumpun ke kurang ajaran yang sama, yakni *ujaran kebencian* Uuuuhhh.

Ruang media sosial kami pun menjelma jadi ring tinju antar-ego pribadi kalian dan kami pun terpancing emosi juga.

Pada awalnya kami komunitas medsos sangat bersyukur, karena media sosial telah banyak berjasa memangkas jarak-jarak sosial yang dulu mustahil ditembus.

Tapi ya udah deh, cukup-lah sudah dengan semua peristiwa yang menggelapkan keluhuran akhlak dan martabat kemanusiaan hingga membuat media sosial menjadi wadah yang tak ramah dan menyeramkan bagi kami semua.

Orang-orang di dunia nyata kemungkinan besar bisa baku hantam beneran,  hanya karena perkara postingan dan membuat beberapa foto.

Bahkan mereka bisa saling lapor ke polisi agar salah satu pihak bisa mendekam di penjara..sereem kan?

Ku  harap, yuuuk marilah kita kembalikan fungsi media sosial ini kepada fitrahnya yang semula:
*narsis alias pamer aja... deh...!

Sekarang dan saat ini juga kupinta tolong enyah kau keluar dari ruang pribadiku bersama sampah hoaxmu itu.

Agar media sosialku menjadi ruang  pribadi yang paling menyenangkan dan menggenapkan eksistensiku yang cinta damai. Tak perlu malu atau naif bro & sista, toh pamer makanan enak atau tempat wisata yang indah dan sekali waktu saling nasehat menasehati itu akan lebih berfaedah ketimbang pamer kebencian dan adu domba....setuju khan ?

Kita tentu tak mau ruang sosial kita yang menyenangkan ini berbagi dan menjadi latar *_propaganda_* . Apa lagi didesain oleh orang-orang culas dan jahat yang punya kepentingan merusak moral bangsa.
Karena pada akhirnya kegiatan itu justru akan menghilangkan kenikmatan kami saat memasuki ruang pribadi kami di media sosial.

Bukankah media sosial juga berfungsi agar kita semua gampang tersenyum saat dilanda penat?

Ketika kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, dan penghargaan sudah terpenuhi maka setiap manusia itu berhak atas  hasrat mengaktualisasi kan dirinya...dan kurasa  kebutuhan  saat ini justru terbalik ya..hehehe..

Sekali lagi, please...mari kita saling menghargai dan saling melengkapi agar hidup yang sudah susah jangan ditambah susah lagi.. terimakasih...

support by Kang Oi Aja.

Saturday, 13 January 2018

Wujudkan Pilkada dan Pilpres Harapan Masyarakat Meraih Sejahtera.

Persoalan politik sampai SARA beberapa waktu yang lalu 2016 telah membuat suasana sosial budaya yang tidak sehat bagi warga di negara tercinta ini.
Isu-isu tersebut  tak lain sebagai salah satu gerakan yang  bersifat identitas dalam menentukan arah politik dan memilih pemimpin.
Kita harus melihat substansi memilih seorang pemimpin. Dia harus bisa jadi panutan dan menjadi pemimpin semua golongan masyarakat.
Di negara demokrasi ini, warga masyarakat bebas memilih, tanpa harus dipengaruhi atau mempengaruhi orang lain. Namun, belakangan seakan-akan bangsa mulai tercerai-berai karena ceramah-ceramah politisi dan kelompok tertentu. Padahal, Indonesia mempunyai budaya dan pandangan sendiri dalam memilih pemimpin. Pemimpin yang mereka inginkan itu idealnya harus berjiwa melayani.
Umar bin al-Khattab pernah berucap :
" Pemimpin kuat berkuasa mengendalikan diri dan pegawai-pegawainya. Pemimpin lemah berkuasa mengendalikan diri, tapi membiarkan pegawai bertindak seenaknya ".
Pemimpin bertindak seenaknya. Ini sangat berbahaya. Ada lagi jenis penguasa yang membiarkan diri dan para pegawai bertindak seenaknya. Jenis pemimpin terakhir ini  yang paling berbahaya. Dia bisa memusnahkan secara keseluruhan tata sosial budaya masyarakat.
Masyarakat sudah seharusnya cerdas dalam menentukan pemimpinnya. Mereka yang diberikan amanah akan menjadi wakil rakyat dan penentu nasib masyarakat dan bangsa masa depan. Jika masyarakat salah menentukan pemimpin karena hanya mengekor, apalagi karena diberi materi, masa depan bangsa dan negara itu terancam rusak dan hancur. 
Isu SARA ( Suku, Agama, Ras, Aliran ) yang sudah disepakati  sering mengalahkan isu program kerja calon kepala daerah.
Bangsa ini sudah 71 tahun menjalani kemerdekaan. Bila hal ini masih diributkan, maka sama saja dengan kemunduran.
Isu SARA atau hal-hal negatif yang bersumber dari “ konflik “ perbedaan aliran dalam Agama Islam dan perbedaan Agama Islam dengan Agama lain pada akhirnya dapat dipergunakan dengan baik oleh kalangan anti Islam yang berstandar ganda didalam kesempatan waktu hajatan pilkada dan bisa berlanjut pada hajatan pilpres nanti, karena suasana kompetisi dan fanatisme  masyarakat pemilih rentan dimanfaatkan kalangan tertentu. 

Managemen Konflik yang dikembangkan Orde Baru pada waktu dulu ternyata tidak tenggelam bersama masa Orde Baru akan tetapi secara masif dan sistematis secara estafet dilanjutkan oleh kekuatan anti Islam dari kalangan Liberalis, Demokratis Individualistis Sekuler yang ingin memisahkan Islam dari kehidupan bernegara dan mengganti tata nilai Pancasila tersebut dengan Slogan Liberty, Equality , Fraternity melalui pendekatan Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia. 
Hal ini tentu saja bertentangan dengan deklarasi sumpah pemuda yang dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1928 serta TAP MPR Nomor II Tahun 1978 tentang  pegangan hidup Bangsa Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, sehingga segala bentuk perbedaan identitas yang ada dalam kehidupan bangsa Indonesia ( Suku, Ras, Agama dan Antar
Golongan ) dilebur dan dibentuk menjadi satu pandangan dalam hidup
berbangsa / bermasyarakat dan bernegara.

Penyatuan pandangan/pegangan hidup
inilah yang kemudian membentuk pola pikir “mindset” bangsa Indonesia menjadi
satu, searah, dalam melihat, menilai segala permasalahan dalam berbangsa dan bernegara, yaitu berdasarkan Pancasila. 
Indonesia  butuh pemimpin wilayah yang tidak hanya punya rasa berkeadilan, tetapi butuh pemimpin yang tegas dalam menegakkan aturan aturan  yang sudah disepakati di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah , Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dalam menjalankan pemerintahan nya.
Masyarakat sudah memahami bahwa sistem pemerintahan di Indonesia itu menggunakan sistem sentralisasi dan desentralisasi dan bisa kita baca perbedaan pemerintah pusat dan daerah pada UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Jadi setiap warga negara yang berniat untuk jadi pemimpin di daerah dan pusat, tentu saja memiliki kompetensi dalam mengelola pemerintahan dapat mengikuti prosedur , pedoman dan tata cara menjalankan pemerintahan sesuai undang-undang.
Jadi pada prinsipnya dalam masa Pilkada 2018 ini masyarakat menyadari hak  dan kewajiban nya dalam memilih dan dipilih tentu saja  memenuhi asas
LUBER JURDIL

Menurut hemat penulis , Luber Jurdil
memiliki arti :
a. Langsung
Dalam hal ini langsung berarti pemilih memilih secara langsung tanpa diwakilkan kepada siapapun pada saat pemilu tersebut dilaksanakan. 
b. Umum 
Umum berarti pemilih yang telah memenuhi syarat usia ( yang telah berumur 17 tahun ke atas) dapat menggunakan hak suaranya tanpa adanya pengecualian yaitu hak aktif dan hak pasif. 
c. Bebas 
Bebas berarti pemilih memiliki kebebasan untuk menggunakan hak suaranya sesuai hati nuraninya tanpa adanya paksaan dari pihak manapun 
d. Rahasia 
Pemilih pada saat memilih dan menggunakan hak suaranya dipastikan tidak akan diketahui oleh orang lain atas apa yang telah dipilihnya. 
e. Jujur 
Pada saat pelaksanaan pemilu, pemilih maupun panitia pemilu serta semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu harus bersikap jujur sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan tidak ada kecurangan yang dilakukan. 

f. Adil 
Seluruh pemilih dan pihak yang terlibat mendapatkan perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, maupun tingkat sosial.
Kita berharap pilkada dan pilpres 2018 & 2019 ini mampu memberikan harapan Masyarakat Meraih Sejahtera lahir dan batin  yang diberkahi Allah SWT.
Buat yang mencalonkan diri jadi pemimpin di daerahnya , niatkan  :
Jadi Kepala Daerah itu dengan niat
untuk mencukupkan sebagian ibadah dalam agamamu. Artinya bila agama yang menjadi rujukannya maka sudah pasti dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat yang ada takkan pernah tanggung-tanggung untuk senantiasa memimpin dengan kesungguhan hati yang mendalam.

Keberkahan Allah tentu akan selalu disanding dengan kebaikan dan kebahagiaan setiap saatnya.. insyaallah.

Wednesday, 10 January 2018

Bahagia tak seperti memandang rembulan dari sini.

Bahagia bisa menjadi masalah bagi orang yang tidak merasa bahagia, kadang membuat aku berpikir bahwa aku adalah satu-satunya orang yang memiliki masalah didunia ini, ujung ujungnya terlontar sebuah pertanyaan yang entah untuk siapa diajukan " mengapa kok selalu aku ya ?" ku lihat kehidupan orang lain, yang rasanya jauh lebih baik dari kehidupan yang aku miliki. 

Mereka yang lebih baik dari ku, mereka yang lebih pintar dari ku, Mereka yang lebih disayang dari ku, mereka yang lebih dikenal dari ku, dan mereka yang seolah memiliki kehidupan sempurna dimata ku. dan dalam hati "andai aku menjadi seperti dia", "kenapa hidup ku tak bisa sesempurna seperti hidupnya". ah banyak sekali keluhan yang -sekali lagi- entah untuk siapa diajukan.

Pada suatu ketika aku melihat kehidupan seorang teman, yang begitu sempurna, dia pintar, dia disayang, dihormati, dia dikagumi banyak orang. 

Ternyata dia tak sesempurna yang ku lihat dari kejauhan... dirinya ibarat rumah persinggahan.sedih aku membayangkan nya hingga ku lupa siapa diriku...

Ku tengok  hidup ku, aku, setidaknya memiliki teman yang selalu ada disampingku, dan aku tidak kesepian dan sendiri walau memiliki keluarga yang menurut ku menyebalkan namun mereka masih peduli.

Akhirnya ku sadar. setiap orang di dunia ini punya masalah, tak ada hidup yang sempurna. Manusia akan selalu ada bagian dari hidup nya yang tak sempurna.

Hati kita ini mudah terombang-ambing dalam memandang kehidupan karena banyaknya keinginan yang ingin kita rengkuh sendiri.

Kita merasa lebih mampu dan hebat dari orang lain serta merasa lebih berhak atas sesuatu yang dipunyai orang lain. Itu sudut pandang diri kita, sebaliknya orang lain mungkin juga punya sudut  pandang yang sama terhadap diri kita...ya gak ??
Barangkali mereka juga memandang bahwa enak dan hepi banget diri kita ini, semua nya sudah sempurna.

Percaya lah, akan selalu ada perdebatan akan nasib atau keadaan seseorang bila dikaitkan dengan keadaan kita, melihat dari kacamata kita dengan niat membanding-bandingkan yang pada akhirnya akan menimbulkan iri hati satu sama lain.

Melihat keadaan orang lain yang lebih baik dari kita tentu sah-sah aja apabila niatnya sebagai pemompa semangat untuk lebih baik tentunya.

Kita konon suka melihat dari penampakannya saja, dari yang terlihat di depan mata, namun jarang kita tahu apa yang tak terlihat.

Melihat itu sebaiknya dengan kejernihan hati, bukan dengan perasaan iri . Agar bisa membuat kita mawas diri.

Semoga kita selalu bersyukur dan di berikan Allah subhanahu wa taala kejernihan hati.


Sunday, 7 January 2018

Kritis di dalam mencari Ilmu di Media Sosial

Mengambil ilmu di media sosial itu tidaklah terlarang, termasuk soal agama.

Hanya saja, hal tersebut perlu dibarengi kehati-hatian dan *penguasaan dasar-dasar ilmu agama* terlebih dulu.

Masuk ke medsos, kalau tidak tahu mana yang benar dan tidak, bisa-bisa terkena aliran sesat, pemikiran ekstrim, atau pemikiran menyimpang.

Ini penting untuk dipahami.

''Jadi bukan soal tidak boleh. Tapi masuk medsos itu seperti masuk hutan belantara, ada tumbuhan berduri dan ada yang tidak bermanfaat,''

Medsos bukan guru agama yang tepat untuk menimba ilmu pengetahuan tentang agama.

Apa yang dibaca harus diikutkan dengan pendalaman dengan bertanya kepada seseorang yang dipandang berpengetahuan agama luas agar tidak terjadi kesalahpahaman....

Demikianlah hal ini penulis sampaikan aga
pembaca lebih baik belajar dengan seorang guru yang sudah ahli di bidangnya.

Keripik Singkong Padang

Selingan sajo....

*Keripik singkong balado*😁😁😛

Resep saya ini masih pakai takaran kira - kira

*Keripik singkong*

Bahan :
2 kg Singkong yang gempur kupas.
Cuci bersih, tiriskan air nya parut kemudian goreng sudah garing angkat tiriskan

** Saya menggoreng singkong menggunakan 2 kuali artinya
Goreng pertama setengah kering lalu pindahkan gorengan ke kuali kedua.

*Sambal balado*
1kg cabe merah rebus, haluskan.
1kg gula pasir.
Bawang putih secukupnya, haluskan.
Air perasan jeruk nipis secukupnya
Garam & penyedap secukupnya.
Minyak goreng secukupnya.

*Cara membuat sambal*

Masak cabe,
Bawang putih yang sudah di haluskan sampai tidak ada kadar air nya masukkan gula pasir,, air perasan jeruk nipis,,
Minyak goreng,, garam dan penyedap
Masak sampai di rasa kekentalan nya cukup ya

*Cara ngaduk keripik dan sambal*.

Panaskan kuali masukkan sambal secukupnya
Masak sambal sebentar (untuk cairkan gula) masukkan keripik secukupnya aduk rata diatas kompor dengan api kecil
Setelah rata keripik siap disajikan atau dikemas.

Ini lumayan buat jadi usaha ... bikinnya iseng sajo...hehe

Friday, 5 January 2018

Tanah Rantau Sekolah Kehidupan

Pergi dari rumah dan keluar kampung, awal proses menjadi perantau adalah SIKAP MENTAL REVOLUSIONER untuk pembebasan wawasan dan penguatan identitas diri.

Bebas untuk menemukan cara berpikir baru, kebiasaan-kebiasaan baru, tanggung jawab-tanggung jawab baru (atau mungkin juga untuk tidak bertanggung jawab.. hahaha).

Dengan merantau, individu memiliki kekuatan, juga tanggung jawab penuh terhadap diri sendiri, terhadap identitas diri.

Menjadi perantau adalah melepaskan segala ekspektasi dan tekanan masyarakat, dan tumbuh tanpa kekhawatiran.

Menjadi perantau adalah soal menemukan diri sendiri. Merantau adalah proses membongkar diri sendiri. Seperti mengambil jarak terhadap diri, lalu menimbang-nimbang, menilai-nilai, menambah-mengurang, lalu membentuk lagi si diri. Tak ada keluarga yang ikut campur secara langsung.

Setiap individu bebas membentuk diri, sekaligus bertanggung jawab penuh atas diri bentukannya tersebut.

Itu yang dikatakan temanku *Rika Nova* dalam blognya ketika dia memutuskan untuk hidup jauh dari orang tua.

Sejatinya saya tidak ingin berada dalam situasi ini, jauh dari keluarga, teman, dan tempat-tempat yang memberi saya rasa aman ketika berada di sana.

Kita hanya dekat dengan sesuatu yang kita sukai. Dan seringkali kita menghindari sesuatu yang baru.

_Tapi orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu_

Memulai sesuatu yang baru selalu tidak mudah. Lebih mudah meneruskan apa yang ada, walaupun tidak mudah hidup dalam kesulitan.

Hidup dengan orang tua di rumah membuat merasa aman, tapi kenyamanan membuat tidak berkembang. Bergerak adalah keharusan, meskipun tidak menjanjikan kemapanan.

Seiring waktu kita semua akan terus  melangkah, melanjutkan cita cita yang sedang dalam proses, semoga Alloh meridoi apa yang kita rencanakan ditahun 2018 lebih baik lagi ~

Monday, 1 January 2018

Keragaman Itu Banyak Warna

Seringkali banyak kekecewaan yang mewarnai kehidupan.Tidak jarang kekecewaan ini muncul dalam bentuk dan ragam yang emosional.

Masalah ini sering terjadi hanya karena perbedaan-perbedaan sederhana.

Perbedaan sudut pandang seringkali mengakibatkan ketegangan yang sebenarnya tidak berguna dan tidak diperlukan,begitu susah kita menerima dan menyesuaikan perbedaan yang ada pada kehidupan kita,hanya dengan hati yang tulus serta kesadaran bisa mengatasinya,tetapi adanya perbedaan justru membuat dunia penuh keragaman.

Bayangkan... pelangi indah juga karena perbedaan warnanya bukan? ...

Sunday, 31 December 2017

Berubah

Sebuah kejadian menghasilkan sebuah keinginan. Keinginan membuatku menyusun berbagai rencana dan mengambil keputusan.

Langkah untuk pindah dari jalan yang sudah kukenal ke jalan yang tidak kukenal dengan kemungkinan yang bertebaran.

Apakah jalan baru tersebut adalah jalan aspal yang lurus dan lebar, jalan bebas hambatan, atau jalan berbatu dan berlubang, bisa jadi jalan rusak dan becek, atau hanya jalanan selebar pematang sawah.

Di atas jalan tersebut ada kemungkinan mendapatkan banyak keindahan dan juga kemungkinan untuk jatuh terpuruk.

Kalau kubayangkan apa kira-kira yang bisa terjadi, jadi seram juga.

Tapi… bukankah semua kemungkinan tersebut memberi sesuatu yang terasa lebih hidup..?

Nasib harus kita sendiri rubah, sedangkan takdir juga ada dalam perjuangan dan doa.

2018, jalan baru yang harus ku lewati dengan sepenuh harapan.... bismillahirrahmanirrahim.

Kisah Diujung Tahun 2017.

Gak kerasa yah ...kita sudah berada di ujung tahun 2017  berakhir sudah.

Banyak kisah dan cerita menarik, namun tak sedikit kisah-kisah sedih yang kita alami. Semua itu adalah pelajaran yang berarti dan semoga tak akan kita alami kembali di tahun 2018.

Namun kita berharap, kisah sukses di tahun 2017 bisa dijadikan momentum yang tak terlupakan untuk dipertahankan di tahun 2018.

Hal-hal yang belum tercapai karena berbagai sebab, tentu harus diupayakan dan diraih di tahun 2018 agar target hidup lebih bermakna dan indah pada waktunya.

Melewatkan suasana pergantian tahun baru aku nikmati dalam nuansa kekeluargaan dan persaudaraan. Ini akan lebih berarti di moment pergantian tahun, walau sekadar kumpul bersama keluarga dan teman serta tetangga, pergantian tahun ini cuaca  cerah dan sedikit mendung.

Minimal berkumpul di ruang publik perumahan kami ini terasa banget kompaknya warga bergembira bersama, kami sepakat untuk tidak merencanakan keluar rumah merayakan pergantian tahun dengan segala hingar bingarnya kembang api.😁

Intinya tahun depan harus lebih baik karena itu saya berpesan kepada saudara saudaraku :

*barang siapa yang hari esoknya lebih baik dari hari ini, maka itulah ciri-ciri orang yang beruntung.*
hehehe.

Wednesday, 7 June 2017

Jauhi Sikap Anarkisme..

Saudaraku yang dimuliakan Allah....
Kenapa manusia sekarang ini suka anarkis dan lain sebagainya? Penyebab salah satunya selalu punya perasaan tidak pernah *cukup*   hal ini jadi kekuatan yang menentukan di balik perilaku manusia.
Contohnya :
Jangankan orang miskin, bahkan manusia sudah sangat kaya pun masih merasa jauh dari cukup..
Kasihan kaan ...😂😂

Lingkungan yang gak sehat ini diperparah lagi oleh iklan godaan kesenangan semu setiap hari. Semua iklan menggoda itu membuat manusia menyakiti pikirannya sendiri dengan pesan seperti : “hidupmu bisa jauh lebih bahagia kalau beli barang-jasa kami yang terbaru”.

Dalam hidup ini ada sebuah kalimat sakti yang mengikuti zaman, yakni :

"Kapankah cukup itu terasa cukup?"


Sebuah pertanyaan besar yang sangat sulit untuk dijawab.

Mungkin, jawabannya. “kita berusaha menekan perasaan yang menyakiti diri kita dengan rasa ikhlas dan syukur, lalu berempati dengan penderitaan orang lain. Ini membuat jiwa kita penuh dengan karunia Allah... insyaallah kita bahagia...🙏

Semoga pengalaman ini jadi manfaat agar kita semua menyikapi hidup dengan positif tanpa berkeluh kesah dan anarkis...
Aamiin yaa Rabbal Alamin....


By: Gde Prama

Wednesday, 10 May 2017

Arti Kebajikan

Kenikmatan hidup dan kehormatan hidup itu berbeda dan berlawanan. Kalau saya mau hidup terhormat, pasti tidak nikmat. Kalau saya mau sepenuhnya menikmati hidup, maka pasti tidak bisa dikatakan terhormat. Lalu bagaimana menikmati hidup? Apa ukuran kenikmatan itu bisa diperoleh???  
                         
Aristoteles mengatakan bahwa kesenangan adalah aktivitas yang selaras dengan kebajikan dan keutamaan moral.    
             
Kebajikan itu identik dengan kesenangan sejati. Kita tidak bisa melakukan tindakan yang sesuai dengan keutamaan moral hanya karena mau mendapatkan kehormatan saja.

Kita bertindak dengan tepat supaya mendapatkan kesenangan. Tetapi kesenangan sejati tidak bisa direduksi dengan kesenangan yang hanya dinikmati sendiri.                                                                

Ada begitu banyak kesenangan yang lain, yaitu kesenangan yang diperoleh ketika dihargai oleh orang lain, ketika menghargai orang lain, ketika dapat menolong orang lain, ketika dapat membela kebebasan orang lain, dan seterusnya.    
                                                  
Siapa yang mereduksi kesenangan dan kenikmatan  hidup pribadi dalam nilai rupiah semata  maka  jiwanya sedang sakit. Dia tidak sehat, apalagi senang. Kesenangannya adalah kesenangan palsu. Kesenangan jiwa adalah kesenangan yang utuh dan dinikmati oleh diri dan orang lain....

Friday, 24 March 2017

SEBUAH CERITA ROMANTIKA HIDUP .

Kepahaman diri seseorang, sejauh yang aku pahami sebagai orang awam dan dungu, bukan melulu ditakar dari tinggi jenjang status sosial, pendidikan akademis orang itu ataupun seberapa banyak buku-buku berkelas yang telah ia baca, melainkan juga perlu memperhatikan, salah satunya, laku kehidupan sehari-hari orang itu dalam berinteraksi dengan manusia lain dalam everyday-life (kehidupan sehari-hari).



Interaksi  bisa dimana pun terjadi dan seperti biasa kalau lagi libur toko aku suka ketemuan dengan beberapa teman di Corner Resto. Seperti biasa  kami ber haha hihi dan ngobrol tentang hal yang ringan dan santai..yaah pokoknya ngobrol yang gak bikin pusing kepala, suasana rileks ini membuat lelah seminggu menjadi kendor. Pengunjung resto malam ini cukup ramai dari hari hari biasanya. Aku dan Reina duduk di pojok belakang dekat kolam kecil resto, ditempat ini tidak ada asap rokok dan sejuk membuat suasana yang enak buat bicara dan tidak begitu gaduh.
Malam ini teman teman yang suka nimbrung bareng  menghabiskan malam di Corner Resto sepertinya masih punya kegiatan yang padat. Jadi malam ini  hanya aku berdua saja dengan Reina,  dan aku paham betul menu favorit  temanku Reina: Secangkir luwak  white kaffie  panas. Sementara menu favoritku: secangkir kopi  latte tanpa gula dan gorengan berminyak yang lezat (setidaknya menurutku demikian).
Aku sudah berteman dengan Reina sejak awal mula aku membuka toko bahan kimia dan plastik milikku. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Ya, setelah aku menyelesaikan kuliah dan mengalami kerasnya dunia kerja di lingkungan perusahaan yang penuh intrik kotor dan menjijikkan, aku memutuskan untuk menjadi pengusaha saja. Istilahnya “Jadi bos bagi diriku sendiri”, itu keinginanku.
Beruntung, aku mendapat warisan dari kedua orang tuaku berupa tanah berukuran  250 meter persegi yang terletak tepat di pinggir jalan raya dekat rumahku. Sebenarnya, tanah itu milik almarhum kakekku, yang diwariskan ke bapakku, yang sudah bertahun-tahun dibiarkan terlantar begitu saja. Lalu, sebagian  dari luas tanah warisan itu aku jual ke seorang pengusaha bengkel mobil dan kemudian uang pembayarannya aku gunakan sebagai modal awalku untuk membuka usaha bahan kimia karena aku memang punya pengalaman di bidang ini. Usaha ini sungguh menjanjikan mengingat di daerahku ini lingkungan usaha home  industri, sebelum aku membuka usaha ini biasanya mereka membeli bahan kimia ke kota dan sedikit sekali orang yang membuka usaha toko bahan kimia dan plastik kemasan, pikirku dulu.
Jadi, suatu siang Reina datang ke toko milikku. Kebetulan, aku sedang ada di toko dan melayani para pelanggan setiaku.
“Mas, ada baking soda merk, butterfly, gak?” tanya Reina, dengan ramah dan ekspresi yang sedikit bingung. Ia waktu itu memakai T-shirt berwarna biru muda kotak kotak  dan jeans ketat berwarna hitam, sementara rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai indah.
“Ada, mbak. Mau berapa banyak  ya?”
“Dua botol yang ukuran besar , Mas.  ya?”
“Oh iya, ada Mbak. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan dulu.”
Aku lalu pergi ke belakang menuju gudang penyimpan yang sudah aku buatkan untuk masing masing bahan khusus makanan dan minuman  biasa disimpan.  Nah ini dia, baking soda  yang mbak cantik itu cari.
“Ini, Mbak. Baking Soda butterfly nya. Gimana?”
“Oke, Mas. Jadi, berapa?” jawabnya sambil sesekali mengecek smartphone miliknya.
“90 ribu, Mbak.” jawabku singkat sembari menatap matanya dalam-dalam.
Lalu, ia mengeluarkan sebuah dompet lipat panjang dari tas hitam mungil bermerek Mulberry miliknya. Woow  Ia bukan seorang perempuan biasa, pikirku.
“Ini uangnya, Mas,” ia menyodorkan uang pembayarannya ke tanganku. “Oh ya, Mas, saya boleh minta tolong dipindahin kotak kayu  di dalam mobil saya ini  ke kabin belakang?” Ia meminta dengan senyum manis yang begitu menggoda. Tanpa banyak berpikir, aku langsung mengangguk dan buru-buru mengangkat kotak kayu yang dimaksud  ke dalam kabin bagasi mobil BMW hitam miliknya.
“Terima kasih ya, Mas.”
“Iya, sama-sama, Mbak.”
“Reina.” Dia mengenalkan dirinya.
“Oh iya. Ferry.” Sambut ku membalas.
“Oh, Mas pegawai di sini ya?”
“Kebetulan saya pemilik toko  bahan kimia dan plastik ini, Mbak.”
“Wah. Maaf, ya Mas? He he. Saya tidak tahu.”
Aku tertawa kecil dalam hati. Wajahku memang tidak terlihat meyakinkan untuk dianggap sebagai pengusaha. Malu juga ya? Menyedihkan sekali aku ini. Aku lalu menjawab tidak masalah dan ia tersenyum. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi melesat meninggalkanku sendirian.
Oh ya, ia memberikan nomor hapenya kepadaku. Ia bilang kepadaku, telfon ia jika ingin bertemu.
Semenjak itu, aku sering bertemu Reina, terutama saat malam liburan. Aku, kemudian, mengetahui bahwa Reina, anak seorang pengusaha beberapa hotel  di Jakarta. Sementara ibunya menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta  juga. Ia tinggal di sini bersama dua adiknya, seorang satpam dan seorang pembantu rumah tangga. Atas pengakuannya sendiri, ia berkata kepadaku bahwa ia rindu dengan kedua orangtuanya yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Sementara ayah dan ibunya menempati rumah di Jakarta, ia hidup di sini, di daerah kecil ini.
Saat awal bertemu denganku ia berumur  sembilan belas tahun atau empat tahun lebih muda daripada aku. Aku tanya mengapa ia tidak kuliah dan ia jawab kuliah itu mengekang pikirannya dan malah membuat ia seperti robot-robot pencari kuasa. Aku kemudian membalas begini: Tetapi barangkali kuliah bisa menyelamatkan banyak orang dari kubangan kemiskinan kronis.. waktu itu, kami ngobrol  di dekat rumahku, dia cuma tersenyum sembari mengggores-gores meja dengan kunci mobilnya. Aku juga tersenyum melihat ia memasang ekspresi bingung.
***
Malam ini aku dan dia sudah banyak bicara soal apa saja yang bikin suasana rileks, rasanya gak habis habisnya yang di obrolin lalu terdiam sesaat  sambil menikmati cuaca cerah malam karena beberapa hari ini cuaca kurang bersahabat.
“Eiiih, omong-omong nih, aku mau cerita sesuatu ke kamu Fer,” tiba-tiba air muka Reina, teman perempuanku yang manis itu, berubah menjadi serius banget.
“Cerita apa nih? Ayo cerita saja Reina,” jawabku dengan santai.
“Jadi gini, Fer. Kemarin aku ketemu bapakku. Nah, dia bilang kalau aku harus cepat nikah karena bapak dan mama ku sudah kepengen punya momongan  cucu. Kamu kan tahu Fer kalau aku anak sulung. Apalagi, aku anak perempuan. Masalahnya, aku belum siap nikah. Aku juga ragu dengan tujuan nikah. Buat apa sih nikah itu?” Ia bercerita dengan semangat, sesekali memasang muka sebal, sambil  menghirup white kaffie  panasnya.
“Waduh. Aku juga bingung nih. Soalnya, aku juga belum pernah dituntut nikah. Ibu aku selama ini cukup tenang melihat aku yang hampir kepala tiga ini masih melajang,” jawabku bingung.
“Fer, bagaimana kalau kamu jadi pacar aku?”
“Hah? Gila kamu!! Ha ha ha,” sebenarnya aku senang dengan permintaan Reina, tetapi aku teringat latar belakang keluarganya.
Aku teringat pertemuan pertamaku dengan ayah dan ibu Reina lima tahun yang lalu. Waktu itu, aku diajak Reina mengunjungi orang tuanya di Jakarta. Ketika aku sampai di rumah orang tuanya, aku dibuat kagum dengan kemegahan rumahnya yang mewah dan bergaya retro. Itu sudah cukup membuat nyaliku menciut. Setelah dipersilakan masuk oleh ayah ibu Reina, kami berempat duduk di ruang tamu. Setelah berbasa basi, menanyakan nama, alamat tinggalku, tiba-tiba ayah Reina memutarkan pertanyaan yang di luar perkiraanku: “ Kerja kamu apa, Fer?”
Sontak aku kaget. Mengapa ayah Reina bertanya soal kerjaanku? Aneh sekali ini. Aku dengan pelan menjawab, “ Berdagang, Pak.” Ia nampak bingung dengan jawabanku dan menjawab, “Oh. Saya kira kamu punya perusahaan, Fer. Dalam pikiranku berdagang  itu bagus tapi dengan kondisi saat ini agak berat  ya? Turunnya daya beli  sulit untuk berkembang.”
Tiba tiba Reina ngangetin aku, bilang; “Fer, aku serius sama kamu. Begini, Fer. Aku lebih baik terus sama kamu, walaupun kita berdua nggak menikah, daripada harus dijodoh-jodohkan dengan seorang pria yang nggak aku suka. Aku lebih baik mati di samping kamu, Fer.. Aku serius !”..
Ah, Reina. Kau pandai menciptakan problem baru dalam diriku. Selama aku SMA dan kuliah dulu, aku tidak pernah bertemu dengan sosok perempuan yang sama lucunya, yang sama cantiknya, yang sama uniknya seperti kau Reina. Tetapi ini gila! Aku masih ingat bahwa orang tuamu kelihatan aneh ketika mengetahui pekerjaanku. Aku tidak ingin membuat kau terluka dengan jurang pemisah semacam perbedaan status sosial seperti ini. Aku ini pedagang kecil yang takkan bisa menyaingi usaha bapakmu apalagi membuat dirimu bahagia dalam usaha kecilku ini…
Tapi kata orang bijak, bahwa: Cinta itu dapat bebas sejauh ia tidak menentang status sosial orang. Itu yang masih aku percayai sampai detik ini. Sialnya, aku bertemu dengan seorang malaikat cantik yang pesakitan, yang menantang prinsip cintaku ini.
Spontan aku mencium pipinya dengan mesra. Lekat sekali, hangat sekali. –begitu saja.
Aku terdiam, seolah tak menyangka, bagaimana bisa sesuatu yang aku pikir tidak mungkin adalah sesuatu yang mungkin, aku mencintainya juga, sejak pertama kali aku bertemu Reina, aku telah jatuh cinta. Tapi mendengar ucapannya membuat aku bahagia.

“Bagaimana jika aku mencintaimu juga?" kataku pada Reina.
“Ya, aku senang, sangat senang, setidaknya hatiku tak bertepuk sebelah tangan, Reina menjawab ucapanku. Mengetahui bahwa ciuman yang kau berikan padaku, bukan hanya pipimu, tapi hatimu juga, apa kau mencintaiku sebagaimana aku?“ ucap Reina.

“Mencintaimu? Sudah ku lakukan, sejak pertama kali kita saling bertemu di tokoku, kau begitu tergesa-gesa pergi, hingga sesuatu yang tumbuh di tempat lain tak kau sadari, bahwa aku ingin menciummu berkali-kali, tapi tak pernah sampai pada bibir hatimu. Aku sudah mencintaimu sebelum bertemu, dan lebih mencintaimu sesudah bertemu“, jawabku.
            
Reina memelukku, sangat erat seperti tak ingin sesuatu terlepas, begitu juga aku, aku memeluknya begitu erat, sangat erat, seperti seorang kanak menggenggam kembang gula demi tak dipinta seseorang, kami saling terdiam dalam pelukan yang saling erat, begitu lama.

“Aku bahagia, sangat bahagia, ternyata hati kita sudah saling  mengenali,  sudah saling berciuman. Maafkan aku, tak seharusnya aku mengatakan bahwa aku mencintaimu sementara aku tak memiliki kesiapan memilikimu, semestinya aku biarkan saja kau terus bertanya-tanya tentang perasaanku, biar tak ku lukai hatimu yang begitu sangat ingin ku rengkuh, tapi aku ingin kamu juga tahu, biar terus mengingat bahwa aku juga merindukanmu, aku kehilangan jika kau tak ada. Aku mencintaimu, sungguh ini kesalahanku“. Ucapnya, kali ini matanya yang sendu menjatuhkan gerimis, mengalir menuju pipinya, kemudian jatuh di bibirnya.
Karena sudah larut malam dan jam menunjukkan pukul 23:00 wib, kami beranjak pulang dan ku antar Reina pulang. Setelah sampai di rumahnya aku katakan pada Reina untuk segera menemui kedua orangtuanya. Kita tak perlu menunggu waktu lagi dan jadilah teman hidupku selamanya..


By: FR

Monday, 27 February 2017

Memilih Mereka yang Punya Integritas.

Bicara soal integritas di era pilkada 2017 ini sangat penting untuk kita pahami didalam hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Berkaitan dengan hal ini, didalam hati seluruh masyarakat  di Indonesia sangat ingin memilih seseorang pemimpin yang punya integritas untuk memajukan dan mensejahterakan kehidupan berbangsa.

Jack Welch, dalam bukunya yang berjudul “Winning” dikatakan bahwa, integritas  adalah sepatah kata yang kabur (tidak jelas). Orang-orang yang memiliki integritas mengatakan kebenaran, dan orang-orang itu memegang kata-kata mereka. Mereka bertanggung-jawab atas tindakan-tindakan mereka di masa lalu, mengakui  kesalahan mereka dan mengoreksinya. Mereka mengetahui hukum yang berlaku dalam negara mereka, industri mereka dan perusahaan mereka – baik yang  tersurat maupun yang tersirat – dan mentaatinya. Mereka bermain untuk menang  secara benar (bersih), sesuai  peraturan yang berlaku.

Berbagai survei dan studi  kasus telah mengidentifikasikan bahwa, integritas atau kejujuran sebagai suatu  karakteristik pribadi yang paling dihasrati dalam diri seorang pemimpin yang baik.
Integritas itu sangat dibutuhkan oleh semua orang, tak hanya pemimpin namun juga yang dipimpin. Orang-orang menginginkan jaminan bahwa pemimpin mereka dapat dipercaya jika mereka harus menjadi pengikut-pengikutnya. Mereka merasa yakin bahwa sang pemimpin memperhatikan kepentingan setiap anggota tim dan sang pemimpin harus menaruh kepercayaan bahwa para anggota timnya melakukan tugas tanggung-jawab mereka.

Pemimpin dan yang dipimpin sama-sama ingin mengetahui bahwa mereka akan menepati janji-janjinya dan tidak pernah luntur dalam komitmennya. Orang yang hidup dengan integritas tidak akan mau dan mampu untuk mematahkan kepercayaan dari mereka yang menaruh kepercayaan kepada dirinya. Mereka senantiasa memilih yang benar dan berpihak kepada kebenaran. Ini adalah tanda dari integritas seseorang.

Mengatakan kebenaran secara bertanggung jawab, bahkan ketika merasa tidak enak untuk mengatakannya.
Kebenaran itu tetap diterapkan walau ada celaan dan ada yang tidak suka. Inilah prinsip yang diajarkan dalam Islam oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nasehat ini beliau sampaikan pada sahabat mulia Abu Dzarr.

Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku:

1) Mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka,
2) Beliau memerintah agar melihat pada orang dibawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada diatasku,
3) Beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar,
4) Beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun,
5) Beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit,
6) Beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat menyampaikan risalah di jalan Allah,
7) Beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad hadits ini hasan karena adanya Salaam Abul Mundzir).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin memberikan contoh mengenai hadits ini “Berkata yang benar walaupun pahit” yaitu dalam hal orang yang biasa berkomentar sinis atau tidak suka terhadap kebenaran yang terjadi atau belum dan sudah terjadi.

Integritas adalah kualitas yang mendasar dan harus ada dalam diri seorang pemimpin. Dalam sebuah buku “Jonathan Lamb” yang berjudul, Integrity, Leading with God Watching, (Buku ini diterbitkan oleh Perkantas 2008. Bukunya Softcover, 246 halaman). Jonathan Lamb menulis, bahwa panggilan hidup untuk berintegritas tidak hanya dituntut oleh Allah.
Di semua lapisan masyarakat ada seruan yang kuat agar para pemimpin baik di bidang usaha, politik atau agama, hidup berintergitas.



Betapa  pentingnya hidup berintegritas, Lamb menjelaskan apa wujud dari integritas. Menurutnya ada tiga ciri integritas:

1. Ketulusan: Motivasi yang murni
2. Konsistensi: Menjalani hidup sebagai suatu keseluruhan
3. Keandalan: Mencerminkan ke tundukan kepada kekuasaan  Allah.

Dengan memakai gambaran Nabi Muhammad  Shalallahu Alaihi Wassalam, saya sebagai  ummat  islam bisa mencontoh beliau hidup sebagai seseorang yang berintegritas. Bagi saya, nabi sebagai pemimpin yang berintegritas sangat tepat  dan akan selalu menjadi panutan.
Kita sering di berikan penjelasan oleh para guru dan ulama tentang  sifat dan karakter Nabiyullah Shalallahu Alaihi Wassalam, seperti;

Sidik, Sidik berarti benar. Benar dalam perkataan maupun perbuatan. Kadang-kadang kita terlalu banyak berkata-kata tanpa hasil yang sejalan. Banyak kata yang dilontarkan, bahkan kadang-kadang berbohong hanya untuk mendapat pujian saja.

Amanah, Amanah memiliki arti benar-benar dapat dipercaya. Masih ingatkah mengapa Rasulullah dijuluki gelar ‘Al–Amin’? Nabi Muhammad berhak mendapatkan gelar mulia itu karena beliau selalu mengerjakan dengan sebaik-baiknya jika ada urusan yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap kata yang diucapkan Nabi Muhammad adalah kejujuran. Belajar dari sifat Nabi tidak semudah teori yang ada.
Di zaman sekarang, nilai amanah ini semakin luntur. Banyak sekali kasus korupsi dan cacat moral di tempat bekerja atau tempat lainnya. Karakter pemimpin saat ini banyak yang dianggap tak layak, tetapi haus akan jabatan membuat orang tak peduli untuk saling sikut.

Fatanah, Fatanah berarti cerdas. Nabi Muhammad adalah suri teladan yang luar biasa cerdas. Cerdas bukan berarti sesuatu yang harus sempurna di bidang akademik saja, melainkan juga berpikir terbuka dan berbeda. Artinya, kita harus aktif dan memandang sesuatu dari segi kebaikan.

Tablig. Tablig yang berarti menyampaikan.  Sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran, meskipun pahit. Karakter pemimpin yang mencontoh sifat Nabi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin kita capai, mulailah dari diri sendiri karena dalam suatu keluarga apalagi berbangsa dan bernegara pasti ada selisih paham.

Jika kita mengalami hal ini, utarakanlah hal ini. Bersikaplah saling terbuka. Jangan memfitnah, menyebar kebencian atau berghibah. Berbeda pendapat itu rahmat karena itu jangan saling membenci. Lalu bagaimana kita bisa diam terhadap para penyeru dan penebar pemikiran sesat yang telah ditokohkan oleh sebagian umat Islam, padahal kesesatan mereka telah meracuni hati dan pikiran masyarakat sampai-sampai kebenaran dianggap sebagai kebatilan dan kebatilan justru dianggap benar?

Siapkah seseorang yang kita pilih itu melanjutkan karakter pemimpin seperti ini? Ini pasti akan terasa sangat sulit untuk dilakukan jika tidak memiliki tekad dan niat yang bulat dalam hati dan pikirannya.

Bahwa panggilan hidup berintegritas adalah hidup yang menunjukkan akuntabilitas, menunjukkan tanggung jawab dan rasa takut kepada Allah, termasuk dalam mengerjakan perkara-perkara kecil, terkait  integritas dalam  melayani kepentingan masyarakat yang membutuhkannya.

Kepemimpinan dalam hal menggunakan otoritas, membangun komunitas, menangani kegagalan dan pengelolaan keuangan. Serta tantangan dalam mengendalikan  kelemahan dan kekuasaan, status dan ambisi yang sejati, keangkuhan dan panggilan untuk  berkorban.

Integritas sebagai cara hidup. Sangat  penting untuk memahami  tentang bagaimana hidup dengan rasa puas, hidup secara konsisten dan menjalani kehidupan secara autentik. 


Berpijak dari kesadaran ini, maka perkenankanlah kami memberi panggilan untuk memilih  mereka yang punya integritas, karena kami menyukai kebenaran dan kebaikan yang ada pada mereka sebagaimana kami menyukainya ada pada diri kami. Terima kasih.


By: EM


Wednesday, 15 February 2017

JUJUR ITU PEDANG ALLAH DI MUKA BUMI.

Ibnu Qayyim berpendapat bahwa jujur adalah sifat yang membuat seseorang menjadi terhormat. Dari sana akan muncul seluruh derajat para pencari kebenaran dan jalan yang paling lurus. Orang yang tidak menitinya akan celaka. Kejujuran membedakan antara orang munafik dan orang mukmin serta penduduk surga dan penduduk neraka. Kejujuran adalah pedang Allah swt. di muka bumi. Pedang tersebut tidak akan pernah diletakkan pada sesuatu, kecuali iamematahkannya dan tidak akan berhadapan dengan yang batil kecuali ia akan melawan dan menumbangkannya.

Barang siapa naik takhta dengan jujur, dia tidak akan diturunkan. Kejujuran dapat membungkam musuh. Kejujuran adalah ruh segenap amal, pangkat segala seusatu, faktor yang mendorong seseorang berani menghadapi rintangan, dan pintu masuk bagi hamba yang in-dien sampai ke hadirat Allah swt. Kejujuran juga merupakan fondasi tegaknya agama dan tiang penyangga tenda keyakinan.

Derajat kejujuran berada di urutan kedua setelah derajat para nabi sebagai derajat paling tinggi. Di antara tempat-tempat tinggal mereka di surga, akan mengalir mata air dan sungai-sungai ke tempat tinggal orang-orang yang jujur. Kelak hati-hati mereka pun akan saling bertautan.

Allah swt. memerintahkan orang yang beriman untuk selalu bersama orang-orang jujur dan Ia berjanji akan menempatkan mereka bersama para nabi, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh.


Allah swt. berfirman,


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar." (at-Taubah [9]:119)

Firman Allah dalam surah yang lain,

"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) pada nabi, para pecinta kebenaran , orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (an-Nisa [4]:69)

Para nabi, pecinta kebenaran, orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh itulah sebaik-baik teman. Allah swt akan selalu mengurniai mereka nikmat, kasih sayang-Nya, kebaikan yang sangat banyak, petunjuk dan arah-an dari-Nya. Bahkan lebih dari itu mereka akan mendapat keistimewaan khusus, yaitu perlindungan dari Allah swt. karena Allah akan selalau bersama orang-orang yang sabar. Kedudukan meraka sangatdekat dengan-Nya karena derajat mereka berada di urutan ke dua setelah derajat  para nabi.

Allah swt. memberitahukan bahwa orang yang memeunikan keimanan kepada-Nya berarti telah memberikan yang terbaik untuk dirinya. 

Allah berfirman,


"..Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." (Muhammad [47]:21)

Allah swt juga memberitahukan tentang orang-orang yang baik dan memuji mereka karena telah memurnikan keimanan dan keislaman, bersedekah, dan selalu bersabar. Me-reka itulah orang-orang yang jujur.


Allah swt. berfirman.

"..tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi serta memberikan hartayang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (al-Baqarah [2]:177)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kejujuran sebagai dasar keimanan dan keislaman harus dibuktikan dengan amalan lahir dan batin.

Allah swt. membagi manusia menjadi dua tipe, yaitu tipe manusia yang jujur dan munafik (9).

Sebagaimana firman-Nya,


"Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazabkan orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka...." (al-Ahzab [33]:24) 

Kejujuran adalah fondasi keimanan, sedangkan kebohongan adalah dasar kemunafikan. Apabila kebohongan berkumpul dengan keimanan, salah satunya pasti tumbang.

Allah swt. juga memberitahu bahwa yang bisa menyelamatkan seorang hamba pada hari Kiamat kelak adalah kejujuran.


Allah swt. firman-Nya,


"..Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung." (al-Ma'idah [5]:119)

Dalam firman-Nya pada surah yang lain,


"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah yang bertakwa." (az-Zumar [39]:33)

Pembawa kebenaran yang dimaksudkan adalah orang yang senantiasa jujur, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun dalam kondisinya. Allah swt. telah memerintahkan rasulullah saw. agar memohon kepada-Nya untuk mengurniakan tempat masuk dan keluar yang benar pada setiap perkara.

Allah swt. berfirman,

"Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhan-ku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong-(Ku)." (al-Isra [17]:80)

Allah swt. juga mengisahkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim a.s., bahwaIbrahim telah memohon kepada-Nya agar dianugerahi lisan yang jujur sebagai teladan bagi generasi yang akan datang setelahnya. 

Hal itu, Allah kisahkan di dalam firmany-Nya,


"Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (asy-Syu 'ara [26]:84)

Di dalam ayat yang lain, Allah swt. memberikan kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi dan tempat yang dia senangi di sisi-Nya.


Allah swt. berfirman,


"..dan gembiralah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan..." (Yunus [10]:2) 

Allah juga berfirman,

"Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang Mahakuasa." (al-Qamar[54]:54-55)

Kesimpulannya, ayat-ayat tersebut menjelaskan lima perkara kepada kita, yaitu.


(1) tempat keluar yang benar,

(2) tempat masuk yang benar,

 (3) lisan yang gema jujur,

(4) kedudukan yang sangat tinggi, dan

(5) tempat yang menyenangkan.

Hakikat kejujuran pada lima perkara tersebut ada pada sebuah kebenaran yang kukuh dan berhubungan langsung degan Allah swt.


Kejujuran adalah perantara antara hamba dengan Tuhannya.
Kejujuran harus meliputi perkataan dan perbuatan yang dilakukan demi untuk Allah swt. serta balasan dari semua itu akan diterima ketika di dunia dan di akhirat. 

Semoga kejujuran menjadi pegangan hidup kita semua. 


Reference ; by. norhaya-jujur.blogspot.co.id-August 5, 2011


Thursday, 22 December 2016

MENDIDIK DENGAN BIJAK dan BIASA

Pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Tidak bisa diserahkan kepada sekolah sepenuhnya, guru dan orang tua harus bersama – sama mendidik anak. Baik pendidikan akademis, karakter dan lainnya. Orang tua yang bijak akan selalu turut serta menjadi “guru” dalam setiap perjalanan anak.

















sumber : Lifehack.